Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Perguruan Tamsis Genap 100 Tahun: Alumni Berharap Jadi Momen Kebangkitan

Metro-Esa • Minggu, 3 Juli 2022 | 16:47 WIB
Alumni Perguruan Taman Siswa Kisaran yang berdomisili di Medan
Alumni Perguruan Taman Siswa Kisaran yang berdomisili di Medan
ASAHAN, METRODAILY - Perguruan Taman Siswa (Tamsis) kini telah genap berusia 100 tahun. Alumni Perguruan Tamsis Kisaran merayakan bersama di Sekolah Taman Siswa Kisaran, Minggu (3/7/2022).

Dalam hal ini, Alumni Tamsis yang berdomisili di Kota Medan bersemangat merayakannya. Mereka sangat menginginkan Perguruan Tamsis Kisaran bangkit kembali dan jaya kembali seperti dulu.

Hal itu dikatakan oleh Suriadi, Alumni tahun 1987 yang kini berdomisili di Kota Medan.
"Perayaan HUT Taman Siswa bertujuan untuk memberikan semangat kebangkitan dan kejayaan Tamsis kembali," kata Suriadi.

Menurut Suriadi, akhir-akhir ini Perguruan Tamsis Kisaran terjadi penurunan baik akademik maupun olahraga. Dirinya sangat menginginkan Tamsis tetap eksis dan menjadi perguruan terbaik.

"Seperti halnya olahraga, Tamsis dulu banyak melahirkan atlit. Kebetulan saya mantan atlit yang dilahirkan Perguruan Tamsis yang pernah berkecimpung di kancah Nasional seperti di PSSA Asahan, Medan Jaya, PSMS, PSDS dan Semen Padang," terangnya.

Senada dengan Mayor Inf Makmur Siahaan, Alumni Tamsis tahun 1988 itu juga berkeinginan kejayaan berpihak kembali kepada Perguruan Tamsis Kisaran.

"Selaku Alumni, tentunya kita sangat mencintai Perguruan Tamsis Kisaran. Kita memiliki keinginan agar Tamsis bangkit kembali dan jaya selalu," kata Mayor Inf Makmur Siahan yang juga merupakan Kasdim 0208/Asahan.

Diceritakan Mayor Makmur, bahwa dulu Taman Siswa adalah sebuah organisasi pendidikan alternatif yang didirikan oleh Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara. Taman Siswa berdiri pada 3 Juli 1922 di Kota Yogyakarta.

"Taman Siswa selalu menekankan prinsip nasionalisme dan kemerdekaan dalam pelaksanaan pendidikannya. Taman Siswa juga bersikap non-kooperatif terhadap pemerintah kolonial Belanda," terangnya.

Pendirian Taman Siswa merupakan bentuk perlawanan Ki Hadjar Dewantara terhadap deskriminasi pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Dalam buku Munculnya Elite Modern Indonesia (2009) karya Robert Van Niel, pada masa Politik Etis (1901-1916), Belanda menerapkan sistem pendidikan bertingkat sesuai dengan status sosial masyarakat Indonesia.

Rakyat jelata hanya diberikan pendidikan setingkat Sekolah Dasar (SD), sedangkan kaum priyayi dan bangsawan Eropa diperbolehkan untuk menempuh pendidikan tinggi. Bahkan, banyak kaum priyayi yang mendapat akses untuk berkuliah di Eropa.

"Dengan kondisi sosial dan pendidikan yang seperti itulah, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa sebagai sarana perjuangan melawan kolonialisme Belanda," jelas Mayor Makmur.

Dari perjuangan para pendiri dan sesepuh, Perguruan Taman Siswa jaya dalam memberikan pendidikan kepada masyarakat. Mayor Makmur berharap, seluruh Alumni ikut serta dalam kepedulian ini.

"Saya mengajak kawan-kawan. Baik para kakak senior maupun adik junior Alumni Taman Siswa Kisaran, agar bersama-sama untuk mensukseskan kembali Taman Siswa Kisaran," pungkasnya. (Per/MD) Editor : Metro-Esa
#taman siswa #kisaran #Alumni Tamsis