Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Murid: Apakah Ibu Kartini Meninggal Dibunuh Penjajah?

Metro Daily • Kamis, 21 April 2022 | 15:34 WIB
Foto: Perayaan Hari Kartini di SD Negeri 12142 Pematangsiantar, Kamis (21/4/2022), dipimpin Kepala Sekolah SDN 121142, Rungguan Siregar.
Foto: Perayaan Hari Kartini di SD Negeri 12142 Pematangsiantar, Kamis (21/4/2022), dipimpin Kepala Sekolah SDN 121142, Rungguan Siregar.
SIANTAR,  METRODAILY – “Pak, apa penyebab Ibu Kartini meninggal? Apakah karena dibunuh penjajah?” tanya Josep Munthe, murid kelas 5 di SD Negeri 12142 Pematangsiantar, dalam diskusi interaktif membahas sosok RA Kartini, pada perayaan Hari Kartini di SD tersebut, Kamis (21/4/2022).

Reokoming Tampubolon, guru SD yang ikut memandu diskusi tersebut tersenyum mendengar pertanyaan polos muridnya. Anggota Fasilitator Daerah (Fasda) Komunikasi Program Pintar Tanoto Foundation Kota Pematangsiantar tersebut lantas menjelaskan, Kartini meninggal akibat penyakit setelah berjuang melahirkan putra tunggalnya, Raden Mas Soesalit di usia 25 tahun.

Kata Reokoming, sosok Kartini yang tertuang dalam bukunya berjudul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’, di tambah catatan–catatan sejarah dalam buku pelajaran siswa dan beragam content sejarah, dapat dijadikan bahan literasi membantu generasi milenial --khususnya kaum perempuan--, untuk melawan lupa terhadap kisah perjuangan Kartini mengangkat martabat kaum perempuan.

Sebelumnya, Kepala Sekolah SDN 121142 Pematangsiantar, Rungguan Siregar, mengajak kaum perempuan Indonesia, terkhusus buat para ibu guru, untuk tidak pernah putus asa dalam menghadapi tantangan hidup saat ini.

Menurutnya, perempuan harus tetap memakai akal sehat saat berpikir dan bertindak dalam menyelesaikan sebuah tugas dan persoalan. “Kaum perempuan perlu diingatkan kembali bahwa sejarah perjuangan Kartini untuk kemerdekaan hak-hak perempuan harusnya menjadi kisah heroik yang patut diteladani dan dilanjutkan wanita-wanita tangguh Indonesia,” katanya saat memimpin upacara peringatan hari Kartini.

Dulu, lanjutnya, perempuan tidak bisa bersekolah. “Tidak bisa ke mana–mana, di rumah saja. Tapi berkat perjuangan Kartini, perempuan sekarang sudah bisa jadi pemimpin,” ucapnya.

Karena itu, Rungguan berharap, seluruh siswa memiliki semangat tinggi berjuang meraih cita-cita dengan cara belajar tekun, bersikap yang baik, dan jangan ragu untuk menjadi pemimpin masa depan.

Pernyataan Rungguan ini diulang kembali oleh murid dalam diskusi interaktif membahas siapa Kartini, usai upacara. Misalnya Aila, siswa kelas 1 SD, memandang Kartini sebagai perempuan hebat yang berjuang mengajari perempuan Indonesia membaca dan menulis.

Pendapat menarik juga disampaikan Tere Tobing, siswa kelas 2 SD yang mengatakan, ibu Kartini saat ini adalah mereka yang baik, cerdas dan penyayang.

Sementara Nadia, siswa kelas 3 SD mengatakan sosok Kartini menjadi panggilan untuk berkarya membangun Indonesia.

Selanjutnya, Ceci Simatupang, siswa kelas 4, berpendapat bahwa Kartini adalah pahlawan hebat yang mampu menaikkan derajat perempuan.

Mewakili kelas 5, Grace Siregar, berpendapat bahwa ibu RA Kartini itu adalah wanita hebat yang berani memperjuangkan hak–hak perempuan. “Dari perempuan tadinya hanya di rumah, sekarang punya banyak prestasi,” katanya tegas.

Di akhir diskusi, Cinta Laura, siswa kelas 6 berpendapat, hari Kartini adalah hari yang spesial yang harus selalu diingat oleh wanita Indonesia.

Menanggapi seluruh interaksi guru-murid dalam diskusi tersebut, Reokoming menyebutkan peringatan hari Kartini tahun ini terlihat unik dan menarik.

“Saya kira, literasi sejarah yang didukung dengan kegiatan nyata dan diskusi interaktif, menjadi model pembelajaran yang menarik bagi para siswa. Apa outputnnya? Menurut saya, diskusi hari ini layak dipakai sebagai praktik baik menyampaikan materi pembelajaran dan pembinaan karakter siswa,” kata Reokoming.

Menurut penilaiannya, lewat kegiatan langsung dan pendekatan komunikasi, diskusi mampu membawa tujuan pembelajaran sampai ke siswa. “Lewat praktik tersebut, anak- anak terlatih untuk menganalisa dan berkomunikasi mengeluarkan ide dan gagasan mereka,” katanya.

Praktik baik yang dilaksanakan di SD Negeri 121142 Pematangsiantar itu juga sejalan dengan program Pintar Tanoto Foundation di Kota Pematangsiantar, yaitu Program Berbasis Sekolah (MBS). Di mana peran kepala sekolah dan guru-guru sangatlah penting dalam membentuk karaktar siswa, sesuai yang diharapkan.

Pada peringatan Hari Kartini di SD tersebut, seluruh ibu guru dan staf sekolah mengenakan pakaian kebaya, lengkap dengan asesoris tradisional seperti selendang, bulang dan sortali, yang menggambarkan ciri khas budaya Sumatera Utara. (reokoming) Editor : Metro Daily
#Literasi Sejarah #tanoto foundation #hari kartini #Program Pintar