MEDAN, METRODAILY – Kebiasaan menatap layar gawai dan membaca dalam waktu lama dapat memengaruhi kenyamanan penglihatan anak.
Untuk meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan mata sejak dini, Tanoto Scholars Association (TSA) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar program Lentera Literasi bagi 116 siswa kelas V SD Brigjend Katamso, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan.
Program bertajuk Lentera Literasi, Membangun Literasi Kesehatan untuk Membuka Jendela Dunia itu berlangsung pada akhir September 2026.
Baca Juga: 7 Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Membeli Singapore Tourist Pass untuk Liburan di Singapura
Kegiatan ini menggabungkan edukasi kesehatan mata, permainan interaktif, pembiasaan perilaku sehat, dan pemeriksaan penglihatan.
Program tersebut merupakan bagian dari Signature Project, yakni kegiatan sosial yang dirancang dan dijalankan secara mandiri oleh penerima beasiswa TELADAN Tanoto Foundation.
Melalui program ini, para penerima beasiswa atau Tanoto Scholars menerapkan semangat Pay It Forward dengan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Dalam sesi edukasi, Prof. Dr. dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, M.Ked (Oph)., Sp.M(K), menjelaskan sejumlah kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan mata anak. Salah satu materi yang diperkenalkan ialah aturan 20-20-20.
Baca Juga: Pedagang Tanggul Aek Sigeaon Sepakat Direlokasi
Metode ini mengajak seseorang yang sedang membaca atau menatap layar untuk beristirahat setiap 20 menit dengan melihat objek sejauh 20 kaki atau sekitar enam meter selama 20 detik.
Selain itu, siswa diajak memahami pentingnya menjaga jarak baca, menggunakan pencahayaan yang cukup, memenuhi kebutuhan tidur, dan memperbanyak aktivitas di luar ruangan.
Presiden TSA USU 2026, Novika Lumban Gaol, mengatakan edukasi tersebut dirancang agar anak-anak mengenali kebiasaan yang memengaruhi kenyamanan penglihatan sekaligus memahami langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mata.
Baca Juga: Sheila Marcia Tegas Mendidik Anak
“Kegiatan ini menekankan pentingnya menyampaikan keluhan penglihatan kepada orang tua atau guru, dan memeriksakan mata kepada dokter apabila diperlukan. Melalui penyampaian materi dan sesi kuis interaktif, siswa diajak memahami pentingnya menerapkan kebiasaan sehat sejak dini,” ujar Novika.
Tantangan 14 Hari dan Duta Mata Sehat Cilik
Edukasi tidak berhenti pada penyampaian materi. Panitia membagikan Buku Saku Lentera Literasi dan mengajak siswa mengikuti Tantangan 14 Hari untuk mempraktikkan kebiasaan ramah mata di rumah dengan pendampingan orang tua dan guru.
Permainan tradisional juga menjadi bagian dari kegiatan untuk mendorong anak melakukan aktivitas fisik di luar kebiasaan menatap layar.
Baca Juga: Cegah ISPA, Dinkes Tapteng Bagikan Masker Kepada Masyarakat
Pada akhir rangkaian program, panitia mengumumkan Duta Mata Sehat Cilik. Para siswa terpilih diharapkan menjadi penggerak edukasi di lingkungan sekolah dengan mengajak teman sebaya menerapkan kebiasaan yang mendukung kesehatan mata.
Kegiatan ini juga mencakup pemeriksaan penglihatan oleh dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) USU. Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk mendeteksi dini potensi gangguan penglihatan pada anak.
Pemeriksaan kesehatan mata tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan kacamata, seperti minus, plus, atau silinder, tetapi juga dapat mencakup evaluasi fungsi penglihatan sesuai indikasi klinis.
Baca Juga: Roma Kena Comeback Madrid
Pelaksanaan Lentera Literasi melibatkan panitia TSA USU, pihak sekolah, guru, dan tenaga medis. Kolaborasi ini diharapkan membuat edukasi kesehatan lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam keseharian siswa.
Melalui program tersebut, TSA USU berharap kebiasaan menjaga kesehatan mata dapat berlanjut setelah kegiatan berakhir, baik di rumah maupun di sekolah.
Pembiasaan sejak dini diharapkan membantu anak lebih peduli terhadap kesehatan penglihatan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital. (Rel)
Editor : Editor Satu