Peringatan HAN 2026 di Medan, Rico Waas: Semua Anak Berhak Berkarya

Editor Satu • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:30 WIB
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas berdialog dengan anak-anak saat peringatan Hari Anak Nasional 2026 bertajuk Festika di Gedung Pancasila Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. 
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas berdialog dengan anak-anak saat peringatan Hari Anak Nasional 2026 bertajuk Festika di Gedung Pancasila Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. 

MEDAN, METRODAILY – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Kota Medan berlangsung meriah dan sarat pesan inklusivitas. Ratusan anak memenuhi Gedung Pancasila Universitas Sumatera Utara (USU), Sabtu (25/7/2026), menampilkan beragam pertunjukan seni yang menunjukkan setiap anak memiliki potensi dan hak yang sama untuk berkarya.

Penampilan anak-anak dari berbagai latar belakang, termasuk anak-anak dengan down syndrome, menjadi sorotan dalam acara bertajuk Festika (Festival Kreativitas Anak). Mereka tampil percaya diri membawakan tarian tradisional hingga kreasi modern yang mendapat apresiasi meriah dari para tamu undangan.

Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Ketua TP PKK Kota Medan Airin Rico Waas hadir langsung menyaksikan penampilan tersebut. Keduanya juga berdialog dengan sejumlah anak, di antaranya Kiran, siswi SD Swasta Sejahtera Marelan yang merupakan anak down syndrome, serta Luthfi, pelajar SMP penyandang disabilitas tuna wicara.

Rico Waas mengatakan peringatan Hari Anak Nasional tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi pengingat pentingnya memenuhi hak anak dan mendukung tumbuh kembang mereka.

"Jika saya tidak hadir hari ini, saya adalah orang yang paling rugi. Saya melihat langsung betapa luar biasanya potensi dan keberanian anak-anak kita. Masa depan Kota Medan dan Indonesia ada di tangan mereka," ujar Rico Waas.

Dalam kesempatan itu, Rico Waas juga mengajak orang tua lebih bijak dalam penggunaan gawai di rumah. Menurutnya, anak-anak cenderung meniru kebiasaan orang tua sehingga pengawasan penggunaan gadget harus dimulai dari lingkungan keluarga.

"Anak-anak itu seperti kertas putih dan orang tua yang melukisnya. Jangan sampai yang pertama mereka lihat setiap pagi adalah orang tuanya sibuk mencari dan membuka telepon genggam," katanya.

Ia menegaskan perkembangan teknologi memang tidak dapat dihindari, namun harus diimbangi dengan pendampingan agar anak tidak mengalami ketergantungan terhadap gawai. Orang tua diminta menetapkan batas penggunaan gadget yang sehat tanpa menghambat proses belajar anak.

Rico Waas juga menegaskan Pemerintah Kota Medan berkomitmen memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak anak. Menurutnya, anak-anak merupakan calon pemimpin masa depan yang harus diberi ruang untuk belajar, berekspresi, dan mengembangkan kreativitas tanpa diskriminasi.

"Anak-anak Indonesia memiliki potensi besar, bahkan banyak yang berprestasi hingga tingkat internasional. Tugas pemerintah dan orang tua adalah memberikan kesempatan, dukungan, dan pendidikan yang inklusif," ujarnya.

Peringatan Hari Anak Nasional 2026 tersebut diselenggarakan Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APMPPKB) Kota Medan dengan mengusung tema "Anak Terjaga, Gawai Secukupnya, Budaya Selamanya." (Rel)

Editor : Editor Satu
hari anak nasional 2026 Wali Kota Medan Rico Waas