Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Jurnalisme Konstruktif, Harapan Baru di Tengah Krisis: Fokus pada Solusi

Editor Satu • Rabu, 4 Juni 2025 | 14:48 WIB

Ki-Ka: Abraham Laisila (Head of News Investigation Narasi), Katarina Siburian Hardono (Senior Manager Corcomm PTAR), dan Wisnu Nugraha (Wapemred Kompas.com), dalam sesi pelatihan Media Capacity Buildi
Ki-Ka: Abraham Laisila (Head of News Investigation Narasi), Katarina Siburian Hardono (Senior Manager Corcomm PTAR), dan Wisnu Nugraha (Wapemred Kompas.com), dalam sesi pelatihan Media Capacity Buildi

SAMOSIR, METRODAILY  – Di tengah krisis global, khususnya krisis lingkungan, pendekatan jurnalisme konstruktif mulai banyak dilirik sebagai alternatif yang membangun dan mencerahkan. Tidak lagi sekadar menyuguhkan konflik dan sensasi, pendekatan ini berfokus pada solusi dan harapan.

Hal ini disampaikan Laban Abraham Laisila, Head of News Investigation Narasi, dalam sesi pelatihan Media Capacity Building PT Agincourt Resources (PTAR) Tahun 2025 yang digelar di Aula Hotel Mariana Resort, Samosir, Selasa (27/5/2025).

“Jurnalisme konstruktif bukan berarti menutupi masalah. Tapi mengajak kita melihat apa yang berhasil dan bagaimana hal itu bisa ditiru di tempat lain,” kata Laban dalam paparannya di hadapan puluhan jurnalis dari berbagai daerah di Sumatera Utara.

Menurut Laban, isu lingkungan seperti krisis iklim, polusi, dan hilangnya biodiversitas kerap disajikan media dengan nada pesimistis. Akibatnya, masyarakat justru merasa cemas dan tidak berdaya—fenomena yang dikenal sebagai eco-anxiety.

“Banyak berita lingkungan berhenti di krisis. Padahal yang kita butuhkan justru narasi yang membangkitkan semangat untuk ikut berbuat,” ujarnya.

Di sinilah peran jurnalisme konstruktif: menyajikan berita yang tetap faktual namun juga memberikan perspektif solusi. Misalnya, meliput keberhasilan reboisasi oleh komunitas lokal, atau kebijakan pemerintah yang efektif dalam pengawasan hutan.

Survei membuktikan, berita dengan pendekatan konstruktif mendorong keterlibatan pembaca naik hingga 30 persen. Mereka merasa lebih antusias, aktif, dan terdorong untuk ikut berperan dalam perubahan.

“Jurnalisme konstruktif itu seimbang. Bukan menutupi yang buruk, tapi memberi ruang pada yang baik,” ujar Laban.

Bukan Gaya Baru, Tapi Paradigma Baru

Laban juga menekankan perbedaan antara breaking news, liputan investigatif, dan jurnalisme konstruktif. Jika breaking news fokus pada kecepatan dan investigasi pada kedalaman, maka jurnalisme konstruktif menambahkan satu elemen penting: harapan.

“Setelah masalah diungkap, kita perlu juga mencari tahu: lalu bagaimana? Apa yang bisa diperbaiki? Siapa yang sudah melakukan perbaikan?” katanya.

Dalam sesi pelatihan, Laban membagikan sejumlah kiat praktis untuk menerapkan jurnalisme konstruktif:

Laban menutup sesi dengan ajakan agar jurnalis ikut menjadi bagian dari perubahan yang mereka laporkan.

“Media punya kekuatan membentuk persepsi publik. Kalau kita bisa hadir dengan narasi yang membangun, kita sedang ikut memperbaiki dunia—satu berita pada satu waktu,” tegasnya. (mea)

Editor : Editor Satu
#Jurnalisme Konstruktif