Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Waspada! Plastik Rumah Tangga Terkait dengan Kematian Akibat Penyakit Jantung

Editor Satu • Rabu, 30 April 2025 | 15:57 WIB

Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa bahan plastik rumah tangga mungkin bertanggung jawab atas 13% kematian akibat penyakit jantung di seluruh dunia setiap tahunnya.
Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa bahan plastik rumah tangga mungkin bertanggung jawab atas 13% kematian akibat penyakit jantung di seluruh dunia setiap tahunnya.

METRODAILY - Siapa sangka, botol air minum, wadah buah, hingga kemasan makanan yang biasa kita pakai sehari-hari bisa membawa dampak serius bagi kesehatan jantung?

Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa bahan plastik rumah tangga mungkin bertanggung jawab atas 13% kematian akibat penyakit jantung di seluruh dunia setiap tahunnya.

Penelitian ini diterbitkan Selasa (29/4) di jurnal eBiomedicine. Para peneliti menemukan bahwa bahan kimia bernama ftalat, yang umum digunakan untuk membuat plastik lebih fleksibel, berkontribusi terhadap hampir 370 ribu kematian akibat penyakit jantung pada tahun 2018.

Baca Juga: William dan Kate Rayakan Ultah Pernikahan dengan Wiski di Skotlandia

Korban utamanya adalah pria dan wanita berusia 55 hingga 64 tahun. Bahkan, sekitar 10% dari kematian itu terjadi di Amerika Serikat.

“Dengan menyoroti hubungan ftalat dan penyakit mematikan, studi kami menambah bukti kuat bahwa bahan kimia ini sangat berbahaya bagi kesehatan,” kata Sara Hyman, penulis utama studi sekaligus ilmuwan di Fakultas Kedokteran Grossman, Universitas New York.

Yang mengejutkan, sekitar 75% dari kematian ini terjadi di negara-negara berkembang, termasuk kawasan Asia, Timur Tengah, dan Pasifik.

“Kita cenderung menganggap plastik hanya jadi masalah di negara maju. Padahal, pola global justru menunjukkan dampak serius di negara berkembang,” kata Leonardo Trasande, profesor di NYU Grossman yang juga ikut menulis studi ini.

Baca Juga: Strategi PTAR Membangun Kesetaraan Gender: Merangkul Perempuan dari Rekrutmen hingga Posisi Puncak

Bukan Cuma Jantung

Bahaya ftalat tak hanya berhenti di jantung. Penelitian sebelumnya mengaitkan zat ini dengan berbagai kondisi serius, mulai dari stroke, obesitas, tekanan darah tinggi, infertilitas pria, cacat lahir, kanker, hingga gangguan perkembangan seperti ADHD.

Bahkan, ada studi yang menunjukkan mikroplastik bisa masuk ke dalam otak dan berpotensi terkait dengan demensia.

“Ftalat menyebabkan peradangan di pembuluh darah, mempercepat penyakit jantung yang sudah ada, dan bisa menyebabkan serangan jantung mendadak,” ujar Trasande. “Zat ini juga mengganggu hormon testosteron, yang jika kadarnya rendah bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.”

Baca Juga: OJK Gandeng Pemda Tingkatkan Literasi Keuangan di Paluta dan Sibolga

Bagaimana Kita Terpapar?

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, ftalat bisa masuk ke tubuh lewat makanan dan minuman yang bersentuhan dengan plastik, atau lewat udara yang terkontaminasi.

Penelitian terbaru ini dilakukan dengan mengukur kadar ftalat dalam urin dan mencocokkannya dengan data risiko kematian akibat penyakit jantung.

Trasande menyarankan masyarakat untuk sebisa mungkin mengurangi penggunaan plastik. “Hindari makanan olahan, dan jangan pernah memanaskan makanan dalam wadah plastik—baik di microwave maupun mesin pencuci piring—karena panas bisa membuat bahan kimia lebih mudah larut,” katanya.

Sebagai gantinya, simpan makanan di wadah kaca, keramik, stainless steel, atau kayu yang lebih aman untuk kesehatan. (Sheri Walsh/upi)

Editor : Editor Satu
#penyakit jantung #plastik rumah tangga