Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Mahasiswa Sebagai Pelopor Perilaku Konsumsi Ramah Lingkungan

Edi Saragih • Minggu, 21 Desember 2025 | 17:35 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh:
Muhammad Isa, ST, MM

(Dosen UIN Syahada Padangsidimpuan)

KRISIS lingkungan yang melanda dunia saat ini bukan lagi sekadar isu ekologis, melainkan telah menjelma menjadi persoalan sosial, ekonomi, dan moral. Perubahan iklim, pencemaran lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, serta peningkatan volume sampah konsumsi merupakan dampak langsung dari pola produksi dan konsumsi manusia yang tidak berkelanjutan. Dalam hal ini, perilaku konsumsi masyarakat menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan arah masa depan lingkungan hidup.

Di tengah tantangan tersebut, mahasiswa sebagai generasi penerus dan calon pemimpin di masa depan memiliki posisi yang sangat strategis. Secara khusus mahasiswa yang berasal dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam menjadi sorotan. Mereka bukan hanya kelompok terdidik yang akan menjadi pemimpin masa depan, tetapi juga komunitas intelektual yang dibentuk oleh nilai-nilai keislaman yang menekankan keseimbangan, tanggung jawab, dan amanah dalam memanfaatkan alam. Oleh karena itu, mahasiswa perguruan tinggi Islam memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor perilaku konsumsi ramah lingkungan di tengah masyarakat.

Dalam ajaran Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah fil ardh, yakni pemakmur dan penjaga bumi. Konsep ini menegaskan bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi ekonomi, melainkan titipan Tuhan yang harus dikelola secara bijaksana. Al-Qur an secara tegas melarang perbuatan israf (berlebihan) dan tabdzir (pemborosan), dua sikap yang sangat relevan dengan kritik terhadap budaya konsumtif modern. Dengan demikian, konsumsi ramah lingkungan sejatinya bukan gagasan asing bagi mahasiswa perguruan tinggi Islam, melainkan bagian integral dari nilai-nilai keimanan.

Mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis melalui praktik konsumsi sehari-hari. Pilihan sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih produk lokal dan ramah lingkungan, menghemat energi, serta mendukung produk yang beretika dan berkelanjutan merupakan bentuk nyata dari kontribusi mahasiswa terhadap pelestarian lingkungan. Ketika praktik-praktik ini dilakukan secara kolektif, dampaknya akan jauh lebih besar dan mampu membentuk budaya konsumsi baru yang lebih bertanggung jawab.

Beberapa tindakan sederhana yang jika dilakukan secara rutin akan menjadi kebiasaan yang berdampak luas, antara lain mengutamakan penggunaan kemasan yang ramah lingkungan, membatasi penggunaan plastik, melnggunakan produk daur ulang, mengurangi timbulnya sampah, memilah dan membuang sampah pada tempatnya, menghindari produk berbahan kimia, serta menggunakan produk ekolabel. Seorang mahasiswa yang aktif melakukan perilaku ramah lingkungan akan dapat menularkannya kepada lingkungan keluarga, teman sejawat, bahkan masyarakat umum.

Lebih jauh, mahasiswa perguruan tinggi Islam seharusnya memiliki keunggulan moral dan simbolik dalam menyuarakan konsumsi ramah lingkungan. Sikap dan perilaku mereka tidak hanya dipandang sebagai pilihan pribadi, tetapi juga sebagai representasi nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Ketika mahasiswa Islam mampu menunjukkan bahwa gaya hidup ramah lingkungan sejalan dengan ajaran agama, maka pesan ekologis tersebut akan lebih mudah diterima oleh masyarakat luas, khususnya di lingkungan religius.

Peran mahasiswa juga dapat diperluas melalui kegiatan akademik dan organisasi kemahasiswaan. Diskusi, kajian ilmiah, kampanye lingkungan, pengabdian masyarakat, hingga riset tentang perilaku konsumen hijau dapat menjadi wahana strategis untuk menyebarkan kesadaran ekologis. Perguruan tinggi Islam, sebagai institusi, perlu mendorong integrasi isu lingkungan dalam kurikulum, aktivitas kampus, dan kebijakan internal agar nilai-nilai keberlanjutan tidak berhenti pada tataran wacana.

Di era media sosial, mahasiswa memiliki kekuatan tambahan sebagai produsen dan penyebar informasi. Narasi tentang konsumsi ramah lingkungan yang dikemas secara kreatif dan bernuansa religius dapat menjangkau audiens yang lebih luas. Konten edukatif, testimoni gaya hidup hijau, hingga kritik terhadap budaya konsumtif dapat menjadi sarana dakwah ekologis yang relevan dengan generasi muda. Hal ini sangat penting mengingat generasi Z saat ini merupakan kelompok masyarakat yang sangat akrab dengan teknologi internet, bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari.

Pada akhirnya, membangun perilaku konsumsi ramah lingkungan bukan hanya soal menyelamatkan alam, tetapi juga tentang menjaga kualitas kehidupan manusia itu sendiri. Mahasiswa perguruan tinggi Islam diharapkan tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan moral dan tanggung jawab sosial terhadap lingkungan. Keteladanan mereka hari ini akan menentukan wajah konsumsi masyarakat di masa depan.
Sudah saatnya mahasiswa perguruan tinggi Islam tampil sebagai pelopor konsumsi ramah lingkungan bukan karena tuntutan tren global semata, tetapi sebagai perwujudan iman, ilmu, dan tanggung jawab sebagai penjaga bumi.(**)

Editor : Metro-Esa
#lingkungan #UIN Syahada Padang Sidempuan