Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Dari Meja Makan ke Skor PISA: Membangun Generasi Bernalar Sejak Dini

Editor Satu • Jumat, 1 Agustus 2025 | 10:46 WIB

 

Laeli Nurajijah, Field Technical Specialist Tanoto Foundation.
Laeli Nurajijah, Field Technical Specialist Tanoto Foundation.

Oleh: Laeli Nurajijah, Field Technical Specialist Tanoto Foundation

Bayangkan seorang ibu sedang menyiapkan makan malam sambil mengajak anaknya menghitung jumlah sendok dan piring di meja.

“Kalau kita duduk berempat, tapi cuma ada tiga piring, apa yang harus kita lakukan?” tanyanya.

Sambil tertawa, sang anak menjawab, “Tambah satu lagi, Bu!”

Percakapan ringan itu bukan sekadar obrolan keluarga. Di situlah numerasi hadir dalam kehidupan nyata, tertanam dalam interaksi sehari-hari yang sederhana.

Sayangnya, kebiasaan-kebiasaan kecil seperti ini belum menjadi praktik umum di banyak rumah di Indonesia. Padahal, interaksi semacam itu berperan penting dalam menumbuhkan kecakapan bernalar yang kini menjadi perhatian nasional.

Gambaran Kondisi Numerasi di Indonesia

Indonesia telah mengikuti tes Programme for International Student Assessment (PISA) sejak tahun 2000. Namun, skor numerasi Indonesia selama lebih dari dua dekade stagnan di kisaran 360–390, jauh di bawah rata-rata global yang sudah mencapai 472 pada tahun 2022.

Data dalam Rapor Pendidikan Nasional pun menunjukkan hal serupa. Pada periode 2022–2024, persentase murid yang mencapai kompetensi minimum numerasi berkisar di angka 40% hingga 70%, dengan peningkatan yang belum merata secara geografis. Ini menandakan bahwa kemampuan numerasi murid Indonesia masih rendah dan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Numerasi Bukan Sekadar Matematika

Numerasi sering disalahpahami sebagai kemampuan menghitung atau menghafal rumus. Padahal, lebih dari itu, numerasi mencakup kemampuan berpikir logis, memecahkan masalah kontekstual, dan mengambil keputusan berbasis data.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2020) mendefinisikan numerasi sebagai kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, seseorang yang cakap numerasi tidak hanya mampu mengoperasikan angka, tapi juga mampu menginterpretasi, menggunakan, dan mengomunikasikan informasi numerik secara bermakna.

Kemampuan ini tidak tumbuh instan. Ia harus diasah sejak dini, terutama di lingkungan terdekat anak: keluarga. Orang tua memegang peran penting sebagai penggerak awal dan pendamping utama dalam proses ini.

Ketika Orang Tua Merasa Tidak Siap

Banyak orang tua merasa tidak percaya diri saat mendampingi anak belajar numerasi. Mereka menganggap numerasi sama dengan matematika yang rumit dan menakutkan, sehingga enggan terlibat. Ketakutan ini sering kali diturunkan secara tidak sadar kepada anak, membentuk persepsi negatif terhadap angka dan logika.

Padahal, keterampilan numerasi berbeda dengan kompetensi matematika. Keduanya saling berkaitan, namun pendekatannya berbeda. Numerasi bersifat kontekstual dan praktis—ia bisa diajarkan melalui aktivitas rumah tangga.

Selain persepsi yang keliru, keterlibatan orang tua juga kerap terhambat oleh berbagai faktor: latar belakang pendidikan yang beragam, keterbatasan waktu, hingga kurangnya akses informasi.

Langkah-Langkah Praktis

Ada banyak cara agar orang tua bisa terlibat aktif dalam pembelajaran numerasi anak.

Pertama, memperluas wawasan tentang konsep numerasi. Di era digital, banyak platform menyediakan sumber belajar gratis yang mudah diakses. Jika keterbatasan internet menjadi kendala, berdiskusi langsung dengan guru bisa menjadi alternatif.

Kedua, mempraktikkan Gerakan Nasional Literasi Numerasi (GNN) yang diinisiasi pemerintah. Contoh kegiatan sederhana seperti membuat daftar belanja, menyusun jadwal harian, atau menghitung uang kembalian bisa melatih numerasi anak secara alami. Bahkan aktivitas di dapur atau obrolan ringan saat makan malam pun bisa menjadi sarana pembelajaran.

Yang terpenting, orang tua perlu menunjukkan perhatian dan apresiasi. Kehadiran mereka, meski hanya 30 menit dua kali seminggu, dapat memberikan stimulus yang kuat terhadap kemampuan berpikir anak.

Ketiga, membangun komunikasi yang erat dengan guru. Guru perlu memahami tantangan yang dihadapi orang tua agar bisa memberikan dukungan yang sesuai. Di sinilah sinergi antara sekolah, komite sekolah, dan orang tua menjadi krusial.

Menjalin Sinergi Rumah dan Sekolah

Penelitian RISE Indonesia (2022) menekankan pentingnya komunikasi intensif antara orang tua dan guru untuk mendukung pembelajaran anak. Sayangnya, dalam praktiknya, pertemuan antara orang tua dan guru masih terbatas, umumnya hanya dua kali setahun saat penerimaan rapor.

Bahkan platform digital seperti grup WhatsApp kelas lebih sering dimanfaatkan untuk urusan administratif ketimbang komunikasi strategis tentang perkembangan belajar anak.

Kondisi ini perlu diperbaiki. Pertemuan orang tua dan guru seharusnya menjadi ruang diskusi aktif, bukan sekadar formalitas.

 

Orang Tua Tak Lagi Sendiri

Beberapa inisiatif telah membuktikan bahwa pendampingan orang tua bisa ditingkatkan dengan cara yang sederhana.

Program Orang Tua Sahabat Anak Belajar (OTSAB) dari Tanoto Foundation, misalnya, memberikan bekal praktis kepada orang tua dalam mendukung anak belajar di rumah dan di sekolah. Melalui video pendek, poster, dan panduan singkat yang dibagikan lewat grup WhatsApp paguyuban kelas, program ini meningkatkan kesadaran dan rasa percaya diri orang tua dalam mendampingi perkembangan anak—baik dari sisi kognitif maupun sosio-emosional.

Hasilnya terlihat nyata: komunikasi antara guru dan orang tua meningkat, dan keterlibatan orang tua dalam pembelajaran anak menjadi lebih aktif.

Menumbuhkan Generasi Bernalar Kritis

Menumbuhkan keterampilan numerasi tidak semata demi mengejar skor PISA atau hasil asesmen nasional. Lebih dari itu, ini adalah soal membentuk masyarakat Indonesia yang cakap bernalar, mampu menyelesaikan masalah, dan siap menghadapi tantangan abad ke-21.

Dan semua itu bisa dimulai dari obrolan ringan antara anak dan orang tua di meja makan. (*)

Editor : Editor Satu
#tanoto foundation #skor PISA #numerasi