OLEH: Pran Hasibuan
Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2024 hampir bisa dipastikan akan diikuti dua kontestan: Edy Rahmayadi selaku petahana dan Wali Kota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution. Kedua figur ini, masih hangat dan intens dibicarakan masyarakat Sumut.
Bukan berarti pula mengesampingkan sosok lain seperti Nikson Nababan dan Musa Rajekshah (Ijeck). Khusus nama terakhir, walaupun kansnya berat diusung dari partai sendiri, tetap punya peluang maju kembali sebagai kontestan. Kenapa tidak?
Hembusan rumor majunya Ijeck dalam kontestasi Pilgubsu 2024, disebut-sebut datang dari salah satu organisasi masyarakat terbesar di Sumut. Bukan untuk 'Sumut 1', melainkan tetap di posisi wakil. Menariknya, kembali untuk menjadi pasangan dari Edy Rahmayadi.
Sejumlah kader ormas tersebut, bahkan dikabarkan telah menemui Edy Rahmayadi untuk mensinkronkan wacana ini. Hanya saja, mantan Pangkostrad tersebut belum bersedia memberi jawaban. Dari kacamata politik, hubungan Edy dan Ijeck tentulah clear. Pasangan ini termasuk happy landing ketika memimpin Sumut pada periode 2018-2023. Hanya saja mungkin, sekeliling mereka masih ada beberapa orang yang berupaya 'memanas-manasi' hubungan keduanya. Termasuk dari kader-kader partai politik lain. Tetapi secara emosional dan bahkan spiritual, penulis percaya Edy-Ijeck masih memiliki tautan yang kuat.
Dengan perahu Golkar yang sudah hampir pasti akan dipakai Bobby Nasution untuk berlayar di Pilgubsu 2024, tentu saja menyisakan kekecewaan di hati Ijeck. Apalagi bagi kader-kader Golkar Sumut yang telah all out mengantarkan Prabowo-Gibran sebagai presiden dan wakil presiden terpilih pada Pemilu, 14 Februari lalu. Juga menjadikan Golkar sebagai partai pemenang di Sumut dengan perolehan 22 kursi dan berhak atas posisi ketua DPRD Sumut. Wajar jika seluruh kader Golkar Sumut ingin melihat ketua mereka-lah yang laik diusung sebagai 'Sumut 1'.
Marwah politik Golkar Sumut ini yang kabarnya juga menjadi landasan kuat untuk kembali menyandingkan Edy-Ijeck. Pasangan yang berakronim Eramas saat Pilgubsu 2018 lalu. Sementara di sisi Edy Rahmayadi, sampai sekarang memang masih menutup rapat-rapat ihwal siapa wakil yang bakal mendampinginya. Lain hal dengan Bobby Nasution, karena stigma yang terbangun merupakan 'calon jadi', tentu akan lebih mudah untuk meminang. Atau bahkan Bobby yang dipinang oleh calon wakilnya. Asalkan tentu tawar menawar politiknya cocok dengan selera 'si anak raja'. Makanya menjadi menarik ketika terdengar rumor bahwa Ijeck yang coba disodorkan kembali sebagai wakil Edy Rahmayadi. Ketimbang berasumsi siapa wakil yang pas buat Bobby Nasution. Apalagi hampir semua parpol bakal bergabung untuk mengusung Bobby, tentu bukan hal sulit dalam memilih siapa di posisi nomor dua.
Mengukur siapa wakil Edy Rahmayadi, ia disebut-sebut optimis mampu kembali memenangkan kontestasi jika tidak dalam komposisi 'pasangan pelangi'. Pertimbangan ini yang terus dimatangkan oleh PDIP sebelum akhirnya nanti memberi tiket berlayar kepada Edy Rahmayadi. Terlebih PDIP selalu keok dalam tiga edisi Pilgubsu lewat komposisi tersebut, termasuk melawan pasangan Eramas. Tentulah maestro politik mereka, Megawati Soekarnoputri tak mau kejadian serupa terulang lagi. Apalagi para pakar komunikasi dan politik tanah air menilai, bahwa momen Pilkada serentak kali ini masih merupakan pertarungan antara Jokowi dengan Megawati. Hal itu pun terlihat dari koalisi parpol yang terbangun atas pemberian rekomendasi pada bakal calon kepala daerah di beberapa provinsi, kabupaten dan kota. Dan rata-rata pula, PDIP selalu berseberangan dengan parpol Koalisi Indonesia Maju (KIM). Kondisi serupa pun gamblang disimpulkan di Pilgubsu kali ini. Sisi lainnya, Edy Rahmayadi menurut sudut pandang PDIP, satu-satunya tokoh paling kuat saat ini untuk mengalahkan 'si anak raja' itu.
Adapun selain PDIP yang hampir pasti mengusung Edy Rahmayadi, ada Partai Hanura yang telah merekomendasikan nama Edy dan Ijeck untuk maju di Pilgubsu. Ini diumumkan Hanura pada 12 Juni lalu. Sisanya mungkin PKS dan Perindo untuk menggenapkan dukungan tersebut. Dukungan Hanura ke Edy-Ijeck, sudah barang tentu beririsan kuat dengan rumor terbaru yang diperoleh ini. Ditambah lagi hingga sekarang, Ijeck belum berucap satu kata pun ke publik, pasca DPP Golkar mengumumkan dukungan terhadap mantu Jokowi itu. Catatan saya, Ijeck terakhir bicara siap maju sebagai 'Sumut 1' ke publik lewat media massa, pada 27 April 2024, seusai acara halalbihalal di kantor Golkar Sumut. Soal kesiapan mendukung bahkan menjadi ketua tim pemenangan Bobby di Pilgubsu nanti, pernyataan tersebut justru datang dari orang lain. Poin ini tentu perlu di-clearkan oleh pria yang kini dikaruniai dua orang cucu tersebut. Karena tipikal Ijeck di mata masyarakat Sumut, selain santun juga merupakan pribadi yang jujur dan berkomitmen tinggi.
Sementara Hanura dan ormas terbesar di Sumut tersebut juga punya historis yang kuat, termasuk dari sisi para top leader mereka saat ini. Karenanya dukungan ke Edy-Ijeck dirasa tidak butuh pertimbangan lama untuk diputuskan. Mengingat pula Edy-Ijeck merupakan figur yang harmoni bila berkaca pada pasangan Gubsu-Wagubsu sebelumnya. Bahwa kapal selalu retak ketika masih berlayar di tengah samudera alias pecah kongsi. Kedua figur ini pun menurut hemat saya, masih akan diterima oleh rakyat Sumut. Tingkat kepuasan masyarakat Sumut atas kepemimpinan keduanya bahkan pernah disebut salah satu parpol besar di ujung periode mereka, juga cukup baik. Apalagi niatnya untuk kemaslahatan umat dan rakyat serta kemajuan Provinsi Sumut, tentu akan membantu komunikasi dan hubungan keduanya bisa kembali membaik. Toh politik itu dinamis. Eramas jilid II, kenapa tidak? (***)
Editor : Prans Metro