Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Ketika Ijeck Menjadi “Hakim”

Admin Metro Daily • Rabu, 6 Maret 2024 | 18:28 WIB
H Affan Bey Hutasuhut
H Affan Bey Hutasuhut

 

Oleh : H Affan Bey Hutasuhut

Seikhlasnya-iklasnya manusia berbuat kebaikan, namun tak akan pernah luput dari berbuat kesalahan apakah khilaf atau disengaja.

Sebab hanya Nabi dan Rasul yang Maksum, suci dari berbuat dosa atau terpelihara dari berbuat dosa, kesalahan, dan kekeliruan.

Ketua Yayasan Haji Anif (YHA) yang sudah banyak berbuat kebajikan lahir dan batin kepada orang yang membutuhkan, Musa Rejekshah yang biasa disapa Ijeck jauh hari sudah menyadari itu.

Meski ia sudah menyerahkan dirinya untuk senantiasa berkehandak pada Allah SWT, ia tetap saja kerap mendapat beragam cobaan.

Dari sini Ijeck saat menghadap Sang Chalik, khususnya shalat lewat tengah malam yang hening, Ijeck merenung menyusuri apakah ia sudah mampu melewati cobaan tersebut atau tidak.

Untuk memutuskan perkara itu, Ijeck akan memposisikan dirinya sebagai ‘hakim’ untuk mengadili dirinya sendiri atau kepada orang lain.

Jika ia menemukan ada hal yang kurang berkenan kepada sesama manusia, baik  khilaf atau disengaja ia ‘memvonis’ dirinya bersalah lalu meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.

Contoh kecil, karena kesibukannya yang pernah menjabat Wakil Gubernur Sumut, kini Ketua DPD Golkar Sumut, dan sejumlah kegiatannya, Ijeck selalu meminta maaf karena lama baru menjawab WhaatsApp seseorang yang ditujukan kepadanya.  

Jika ada yang tindakannya ada yang kurang berkenan dengan kehendak Allah SWT, ia minta ampun dan bertaubat untuk tidak mengulanginya lagi.

Bagi Ijeck, banyak orang atau pemimpin yang mampu memposisikan dirinya sebagai ‘Hakim”, merasakan hidup yang lebih bahagia.  

Sebab bagi insan yang mau mengadili dirinya sendiri, akan membuat seseorang atau pemimpin terhindar dari sikap egois, menang sendiri, marah-marah, sombong, dan lainnya.

Namun tantangan bagi pemimpin yang memposisikan diri menjadi ‘hakim’. jauh lebih berat jika dibanding dengan masyarakat umum.

Jika pegawai memiliki nilai 7 dalam hal disiplin waktu, memahami tugas yang diberikan, loyal, santun, pengendalian diri teruji dan lainnya, maka seorang pemimpin setidaknya mampu lima  kali lipat melebihi dari para pegawai.

Akan terasa janggal kalau jejak pemimpin yang kurang mampu mengendalikan emosinya saat ‘mengadili’ pegawai yang menyalahi aturan. ‘Putusan’ perkara bisa berdampak sesat, kena bentak, diusir, dan lainnya.

Bagi Ijeck, keteladanan seorang pemimpin yang arif dan bijak paling tepat sebagai ‘hakim’ yang mampu menyentuh hati seseorang untuk menghindari hal yang kurang terpuji. (*) 

*Penulis merupakan wartawan senior di Sumatera Utara. 

Editor : Prans Metro
#musa rajekshah #ijeck