Tak sensasional seperti John Barnes, tak mampu mencetak gol seperti Ian Rush, tak berkarisma seperti Paul Ince, tak memiliki bakat elegan seperti Jamie Redknapp, tak haus gol seperti Robbie Fowler, tak sekokoh semangat Sami Hyypia, serta tak memiliki keterampilan seperti Steven Gerrard.
Namun di bawah kepemimpinannya, Liverpool akhirnya mengakhiri penantian 30 tahun mereka untuk merasakan gelar Liga Primer Inggris.
Salah satu akun Facebook membuat status di berandanya. Isinya seperti angle tulisan saya ini. Saya tertarik dengan kata-katanya. Sangat mewakili tentang karakter dan profil seorang Jordan Henderson. Sudah tentu pemilik akun itu merupakan pecinta setia klub yang bermarkas di Anfield.
Ya, Hendo sudah menyudahi petualangan mengesankan sebagai pemain sepak bola dan pemimpin bagi skuad Liverpool. Dua belas tahun merupakan perjalanan panjang. Ia bahkan satu-satunya kapten yang mampu meraih hampir semua trofi mayor untuk The Reds.
Didatangkan dari klub medioker Sunderland 2011 silam, awal kariernya berseragam merah-merah tidak berjalan mulus. Ia bahkan sempat mau dijadikan paket transfer Liverpool saat ingin merekrut Climp Dempsey dari Fulham di era Brendan Rodgers.
Perlahan tapi pasti, Hendo menjelma jadi salah satu pemain penting di skuad Klopp. Ia mulai disegani dan dihormati rekan setimnya, baik dalam maupun luar lapangan. Apalagi setelah ia mendapat amanah besar memakai ban kapten, sepeninggalan Steven Gerrard yang fenomenal itu. Sejak itu pula, Hendo meningkatkan kemampuannya baik fisik, mental, dan jiwa kepemimpinannya.
Hendo tergolong pemain biasa atau rata-rata. Secara teknik, kemampuan mengolah bola, dan tidak begitu haus gol seperti Gerrard yang berposisi sama dengannya. Tetapi dia unik dan istimewa. Faktor leadership adalah kunci keberhasilan seorang Hendo. Ia begitu konsisten menjaganya sehingga tak dipungkiri ikut menjadi kunci kesuksesan klub selama enam tahun belakangan ini.
Kepemimpinannya berpengaruh betul dalam membentuk mental para pemain yang lain. Terutama bagi pemain-pemain muda The Reds. Saat mereka bermain buruk pun, Liverpool tetap mampu memetik hasil positif. Liverpool memiliki mentality monster berkat karakter kuat dari kepemimpinan Hendo.
Selama 12 tahun berkarier untuk The Reds, Jordan Henderson mencatatkan sebanyak 492 penampilan, 39 gol, 74 asis, dengan delapan piala yang didapatkan. Di antara piala fenomenal yang diraih tentu EPL dan UEFA Champions League. Lalu ada Piala Dunia Antarklub perdana yang akhirnya mengisi lemari trofi di Anfield.
Bursa transfer 2023/2024 terasa panas untuk fans Liverpool. Mendatangkan dua gelandang anyar, Alexis Mac Allister dan Dominik Szoboszlai, The Reds justru kehilangan hampir semua pemain tengah mereka. Praktis kini tersisa Thiago Alcantara sebagai pemain senior di area itu. Sementara Curtis Jones dan Stefan Bajcetic, masih butuh jam terbang lagi walau secara teknik punya kemampuan menjadi pemain top masa depan.
Yang terbaru, Fabinho akan menyusul Hendo ke Pro League Saudi untuk membela Al-Ittihad. Nama-nama seperti James Milner, Naby Keita, dan Alex Oxlade-Chamberlain sebelumnya sudah dilepas secara gratis mengingat durasi kontrak mereka yang telah habis dan tak diperpanjang manajemen.
Sebagian fan The Reds, tampak belum rela kehilangan Henderson. Mereka berpendapat, setidaknya Hendo masih bisa satu musim lagi berada di Anfield. Sebab sosok senior di skuad yang ada saat ini, terlebih berstatus homeground, tinggal Hendo seorang. Di sisi lain, rekam jejak Liverpool dalam memilih kapten tim, lebih mengutamakan pemain akademi sendiri ataupun asli kelahiran Tanah Britania.
Begitupun Hendo sudah menandatangani kontrak dengan klub barunya, Al-Ettifaq. Ia bahkan telah diperkenalkan dihadapan penggemar klub tersebut. Wajar Hendo berlabuh di usia senja kariernya ke sana. Faktor kuncinya karena ada sosok mentornya, Steven Gerrard. Gerrard sangat ambisius menjadikan Al-Ettifaq sebagai pesaing gelar di liga teratas negara kerajaan tersebut. Yang selama ini didominasi Al-Hilal, Al-Nassr, dan Al-Ittihad yang menjadi kampiun musim lalu.
Kehadiran para pesepakbola beken di Pro League Saudi dalam dua tahun belakangan ini, tentu ikut mendongkrak level kompetisi dan peningkatan ekonomi industri sepak bola Arab Saudi. Bayaran setinggi langit menjadi 'senjata' klub-klub Arab untuk menaklukkan hati para pemain top Eropa tersebut. Hendo misalnya, akan dibayar sebesar 12 juta paun dengan durasi kontrak dua tahun. Untuk gaji di Al-Ettifaq, Hendo kini masuk jajaran tujuh besar pemain bergaji tertinggi di dunia. Hal yang mustahil ia dapatkan ketika berseragam Liverpool.
Setelah mendatangkan Cristiano Ronaldo, klub-klub Pro League Saudi kembali menghebohkan jagad sepak bola dunia lewat pembelian pemain-pemain top Eropa lainnya seperti Karim Benzema, N'golo Kante, dan Roberto Firmino. Bahkan klub Ronaldo, Al-Nassr, berencana mendatangkan eks Liverpool, Sadio Mane dari Bayern Munchen. Sungguh menarik sekali menanti semaraknya kompetisi sepak bola Arab Saudi pada musim baru melalui kehadiran nama-nama beken tersebut. Yang tentu takkan seheboh kompetisi MLS dengan si kampiun Piala Dunia, Lionel Messi.
Video perpisahan Hendo sudah wara wari di jagad media sosial. Mulai dari testimoni sang manajer, Juergen Klopp, para rekan setim hingga closing statemen dari dirinya sendiri.
Klopp mendoakan yang terbaik buat mantan anak asuhnya itu. Menurutnya, Hendo akan memiliki pengalaman dan cerita menarik selama petualangannya di Arab Saudi. "Dia skipper. Pemimpin kami selama bertahun-tahun. Kapten saya satu-satunya selama di Liverpool. Kami akan selalu merindukannya," tutur eks manajer Borussia Dortmud dan FC Mainz tersebut.
Hendo sendiri mengungkapkan akan selalu menjadi 'Merah' sampai mati. Ia mengaku selalu mengenang suka dukanya selama berkarier di Anfield. "Terimakasih untuk semuanya. You'll Never Walk Alone," tulis Henderson di akun Twitternya.
Dia mungkin bukan kapten ideal, tapi seorang skipper dan legenda hidup yang laik mendapatkan penghormatan besar. Melihat prestasi yang telah dia persembahkan untuk klub dan fans, Hendo rasanya pantas disebut Kapten Paripurna! (**) Editor : Prans Metro