YERUSALEM, METRODAILY — Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology mengungkap bahwa anak-anak Neanderthal tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan manusia modern, kemungkinan sebagai strategi adaptasi terhadap lingkungan keras yang mereka huni puluhan ribu tahun silam.
Temuan ini didasarkan pada analisis pertama terhadap fosil bayi Neanderthal yang diberi nama Amud 7, kerangka bayi Neanderthal terlengkap yang pernah ditemukan di dunia.
Fosil Amud 7 ditemukan dalam 111 fragmen berbeda di Gua Amud, Galilea Atas, Israel utara, pada penggalian akhir 1900-an.
Baca Juga: Bhabinkamtibmas Tanjungbalai Utara Ingatkan Warga Waspada Curanmor
Sisa-sisa tersebut tersimpan di ceruk dinding gua di bawah rahang rusa merah. Hasil penanggalan menunjukkan fosil ini berasal dari sekitar 51.000 hingga 56.000 tahun yang lalu.
Tantangan terbesar penelitian ini adalah menentukan usia Amud 7 saat meninggal. Analisis tulang lengan dan kaki menunjukkan usia sekitar 13,7 bulan, namun histologi gigi — studi mikroskopis tentang pembentukan enamel — mengindikasikan usia yang jauh lebih muda, mendekati enam bulan.
Artinya, tubuh Amud 7 telah tumbuh setara ukuran anak yang kira-kira dua kali lipat usia giginya.
Baca Juga: Prabowo Reshuffle Kabinet Merah Putih, Dudung Jadi KSP dan Jumhur Hidayat Menteri LH
Para peneliti menemukan bahwa bayi Neanderthal dan bayi manusia modern memiliki kesamaan dalam pembentukan gigi, erupsi gigi, serta panjang tulang lengan dan kaki pada tahap awal kehidupan.
Namun perbedaan mencolok mulai terlihat saat fase balita: tubuh Neanderthal tumbuh jauh lebih cepat daripada pertumbuhan gigi mereka, berbeda dengan manusia modern yang pertumbuhannya lebih lambat dan lebih proporsional.
Setelah fase percepatan itu, laju pertumbuhan Neanderthal kembali sejajar dengan manusia modern.
Studi ini juga mencatat bahwa tengkorak bayi Neanderthal jauh lebih besar dibanding bayi manusia modern meskipun usia keduanya sebanding.
Baca Juga: Polisi Gerebek Peredaran Sabu di Simpang Marbau Labura, 1 Kurir Ditangkap 1 Kabur
Para peneliti menyimpulkan pola pertumbuhan yang dipercepat ini merupakan strategi evolusi yang memberikan keuntungan bagi Neanderthal di tengah tekanan lingkungan yang ekstrem.
Neanderthal dan Homo sapiens diperkirakan mulai berpisah sekitar 600.000 tahun lalu dan berevolusi secara terpisah di Eurasia dan Afrika, meski catatan arkeologis membuktikan adanya perkawinan silang antara kedua spesies pada era Paleolitikum Tengah.
"Sisa-sisa Amud 7 memberikan gambaran langka tentang perkembangan Neanderthal. Morfologi dan lintasan pertumbuhannya yang berbeda mengungkapkan bahwa spesies yang berkerabat dekat mengadopsi strategi adaptif yang berbeda sebagai respons terhadap tekanan evolusi," demikian simpulan studi tersebut. (Jpc/Miriam Sela-Eitam)
Editor : Editor Satu