METRODAILY - Sebuah terobosan baru dalam dunia Onkologi menghadirkan harapan bagi pasien kanker payudara. Para peneliti dari Technion – Israel Institute of Technology mengembangkan model kecerdasan buatan (AI) yang mampu memprediksi manfaat kemoterapi secara cepat dan akurat.
Model ini dirancang untuk membantu dokter menentukan apakah pasien benar-benar membutuhkan kemoterapi setelah operasi—sebuah keputusan yang selama ini menjadi tantangan besar dalam penanganan kanker payudara stadium awal.
Bantu Hindari Kemoterapi yang Tidak Perlu
Selama ini, banyak pasien menjalani kemoterapi meski tidak selalu mendapatkan manfaat signifikan. Padahal, terapi ini memiliki efek samping yang tidak ringan, baik dalam jangka pendek maupun panjang.
Dengan teknologi AI ini, analisis dilakukan langsung dari sampel jaringan tumor (slide patologi rutin), tanpa perlu tes genomik mahal seperti Oncotype DX.
Hasilnya bisa diperoleh hanya dalam hitungan menit—jauh lebih cepat dibanding metode konvensional yang bisa memakan waktu berminggu-minggu.
Analisis Cerdas dari Jaringan Tumor
Model AI ini bekerja dengan membaca gambar digital jaringan tumor beresolusi tinggi. Sistem kemudian mengidentifikasi pola kompleks yang tak bisa dilihat secara konsisten oleh mata manusia, seperti:
- Struktur jaringan tumor
- Aktivitas pembelahan sel
- Respons sistem imun
- Tanda resistensi atau sensitivitas terhadap terapi
Menurut peneliti utama, Dr. Gil Shamai, teknologi ini mampu menangkap “sinyal biologis kompleks” yang sebelumnya sulit diukur.
Sudah Diuji Ribuan Pasien Global
Model ini telah divalidasi dalam studi besar yang melibatkan lebih dari 10.000 pasien dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Australia. Hasilnya menunjukkan performa yang konsisten di berbagai sistem kesehatan.
Temuan ini juga telah dipublikasikan di jurnal medis bergengsi The Lancet Oncology, menandakan kredibilitas ilmiahnya.
Keunggulan utama teknologi ini adalah aksesibilitas. Tidak seperti tes genomik yang mahal dan terbatas, model AI ini bisa digunakan di laboratorium patologi biasa yang memiliki pemindai digital.
Hal ini membuka peluang besar bagi negara berkembang, di mana akses terhadap tes canggih masih sangat terbatas.
Menuju Era Pengobatan Presisi
Para peneliti berharap teknologi ini menjadi langkah penting menuju pengobatan kanker yang lebih presisi—di mana setiap pasien mendapatkan terapi yang benar-benar sesuai dengan kondisi biologisnya.
Ke depan, model ini juga akan dikembangkan untuk jenis kanker lain, sekaligus membuka jalan bagi integrasi AI dalam praktik medis sehari-hari. (Jpc)
Editor : Editor Satu