METRODAILY - Indonesia secara geografis berada di sekitar garis ekuator, wilayah yang secara teori tidak memungkinkan terbentuknya siklon tropis akibat lemahnya gaya Coriolis.
Namun sejak 2003, setidaknya 30 siklon tropis tercatat tumbuh di sekitar perairan Indonesia dan memicu cuaca ekstrem di sejumlah daerah.
Data tersebut dihimpun dari Climate4life.info, BMKG, serta berbagai publikasi klimatologi internasional.
Gaya Coriolis—yang dirumuskan sebagai Fc = 2Ω sin ϕ . v—membuat siklon tropis sulit terbentuk di wilayah lintang rendah.
Meski begitu, sejumlah bibit siklon yang tumbuh dekat perairan Indonesia tetap mampu memengaruhi cuaca, menghasilkan hujan sangat lebat, angin kencang, gelombang tinggi, hingga badai guruh.
BMKG melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta bertanggung jawab memantau siklon tropis pada area 90–125° BT dan 0–10° LS, termasuk memberi nama dan memutakhirkan prediksi pergerakannya.
30 Siklon Tropis Dekat Indonesia, 8 Di antaranya Dibidani TCWC Jakarta
Sejak 2003, sedikitnya 30 siklon tropis tumbuh di sekitar wilayah Indonesia. Dari jumlah tersebut, delapan siklon resmi dinamai TCWC Jakarta karena lahir pada area tanggung jawab BMKG.
Berikut daftar delapan siklon tropis tersebut:
1. Siklon Tropis Durga (20–24 April 2008)
Siklon pertama yang dinamai TCWC Jakarta. Tekanan terendah 984 mbar, angin 95 km/jam.
Dampak: cuaca ekstrem di Bengkulu, Banten, Lampung, dan Jawa Barat.
2. Siklon Tropis Anggrek (30 Oktober–4 November 2010)
Tekanan 995 mbar, angin 75 km/jam.
Dampak: hujan lebat di Bengkulu, Sumbar, Lampung.
3. Siklon Tropis Bakung (11–13 Desember 2014)
Tekanan 991 mbar, angin 95 km/jam.
Dampak: gelombang 2–3 meter di selatan Jawa, Selat Sunda selatan, dan barat Lampung.
4. Siklon Tropis Cempaka (27 November–1 Desember 2017)
Tekanan 998 mbar, angin 65 km/jam.
Dampak: hujan ekstrem di DIY dan Jawa bagian selatan.
5. Siklon Tropis Dahlia (30 November–2 Desember 2017)
Tekanan 985 mbar, angin 75 km/jam.
Dampak: hujan lebat dan gelombang tinggi di Bengkulu, Lampung, Banten, dan selatan Jawa.
Siklon kembar bersama Cempaka.
6. Siklon Tropis Flamboyan (28 April–2 Mei 2018)
Tekanan 983 mbar, angin 110 km/jam.
Dampak: gelombang 2,5–4 meter dari Bengkulu hingga selatan Jawa.
7. Siklon Tropis Kenanga (15–18 Desember 2018)
Kecepatan angin mencapai 185 km/jam, masuk kategori 2 skala Saffir–Simpson.
Dampak: gelombang tinggi 2,5–4 meter di Mentawai hingga Selat Sunda.
8. Siklon Tropis Lili (9 Mei 2019)
Masa hidup hanya satu hari, tekanan minimum 998 mbar.
Dampak: kerusakan parah di Kepulauan Tanimbar akibat hujan lebat dan gelombang hingga 7 meter.
Siklon Tropis Terkuat: Seroja (April 2021)
Siklon Tropis Seroja menjadi yang terkuat dan paling mematikan dalam sejarah pengamatan BMKG.
Bibitnya terpantau sejak 2 April, tumbuh di Laut Sawu, dan mencapai kategori 2 dengan angin 100 km/jam pada 6 April 2021.
Dampak besar: hujan ekstrem, banjir bandang, ribuan warga mengungsi, ratusan korban hilang dan meninggal di beberapa wilayah NTT. (Bbs)