Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Siklon Tropis Senyar Pemicu Banjir Bandang Sumatra, Begini Cara Kerjanya

Editor Satu • Sabtu, 29 November 2025 | 14:14 WIB

 

 

Siklon senyar
Siklon senyar

SUMATRA, METRODAILY — Fenomena cuaca langka kembali terjadi di Indonesia. Siklon Tropis Senyar—badai yang terbentuk di wilayah sempit dekat ekuator—menjadi pemicu utama hujan ekstrem dan banjir besar yang melanda Sumatra sepanjang akhir November 2025.

Menurut ahli meteorologi, Senyar terbentuk melalui proses atmosfer yang jarang terjadi di Selat Malaka.

“Senyar itu ibarat mesin penyedot uap air raksasa di langit. Saat terbentuk, ia menghisap uap air dari perairan hangat lalu melemparkannya kembali sebagai hujan ekstrem,” ujarnya.

Senyar berasal dari Bibit Siklon 95B, sebuah sistem tekanan rendah yang berkembang cepat karena suhu muka laut yang hangat dan kelembapan tinggi di Selat Malaka.

Bibit itu kemudian berkembang menjadi badai setelah konvergensi angin dari Samudra Hindia terjebak antara pantai Aceh, Sumatra Utara, dan Semenanjung Malaysia.

Bagaimana Siklon Senyar Terbentuk?

Ada tiga mekanisme utama pembentukan Senyar:

  1. Konvergensi Angin
    Angin baratan kuat dari Samudra Hindia memasuki Selat Malaka yang sempit. Karena ruangnya terbatas, angin melambat drastis dan bertabrakan dengan angin lokal—memicu penumpukan massa udara.

  2. Meningkatnya Vortisitas (Putaran)
    Penumpukan udara tersebut diputar oleh efek Coriolis. Meski wilayah itu berada dekat ekuator, posisinya di lintang sekitar 4–5° LU masih memungkinkan terbentuknya putaran kuat.

  3. Energi Panas dari Laut
    “Suhu muka laut di Selat Malaka saat itu cukup hangat. Panas laten dari penguapan air menjadi ‘bahan bakar’ bagi siklon untuk berkembang,” jelas narasumber.

Saat ketiga faktor itu bertemu, pusat pusaran tekanan rendah terbentuk. Ketika kecepatan angin mencapai 65 km/jam atau lebih, Senyar resmi dikategorikan sebagai siklon tropis.

Dampak: Hujan Ekstrem Berhari-hari

Senyar menyedot massa uap air dalam jumlah besar dan mendorongnya ke daratan Sumatra. Akibatnya, hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem terus mengguyur Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Awan-awan yang seharusnya pecah di laut justru terdorong ke daratan. Durasinya yang lama membuat tanah jenuh air, dan ini memicu banjir serta longsor besar-besaran,” kata ahli tersebut.

BMKG mencatat intensitas hujan di beberapa wilayah mencapai lebih dari 150 mm/hari, masuk kategori ekstrem.

Tanah di pegunungan Bukit Barisan yang sudah jenuh tak mampu lagi menyerap air hingga terjadi aliran permukaan cepat (surface run-off) yang memicu banjir bandang.

Fenomena Langka: Baru Terjadi Dua Kali dalam 24 Tahun

Siklon tropis hampir tidak pernah terbentuk di wilayah dekat garis khatulistiwa karena lemahnya efek Coriolis. Namun Senyar menjadi pengecualian.

Kejadian seperti ini terakhir kali tercatat pada Tropical Storm Vamei (2001) di Laut Natuna.

“Ini peringatan keras bahwa pola cuaca ekstrem sedang berubah. Wilayah yang dulu dianggap aman dari siklon kini bisa menjadi lokasi kelahirannya,” ungkap sumber tersebut.

Ribuan Warga Terdampak

Banjir dan longsor akibat hujan ekstrem memutus akses jalan nasional, merendam ribuan rumah, dan menelan korban jiwa di sejumlah daerah. Data sementara BNPB mencatat ratusan warga meninggal dan puluhan masih hilang di Aceh, Sumut, dan Sumbar.

“Dampak Senyar bukan hanya kejadian meteorologi, tapi bencana sosial-ekologis,” tambah narasumber. (Bbs)

 

Editor : Editor Satu
#selat malaka #Siklon Senyar #hujan ekstrem