Mengapa Tsunami Pascagempa M8,8 Rusia Tak Sebesar yang Ditakutkan? Ini Jawaban Ahli
Editor Satu• Kamis, 31 Juli 2025 | 14:48 WIB
Ancaman tsunami di Jepang pascagempa Rusia.
KAMCHATKA, METRODAILY — Gempa dahsyat berkekuatan 8,8 magnitudo yang mengguncang wilayah lepas pantai Semenanjung Kamchatka, Rusia pada 30 Juli 2025 sempat memicu kepanikan global.
Peringatan tsunami dikeluarkan untuk berbagai negara di sekitar Samudra Pasifik. Namun, kenapa tsunami yang terjadi justru tak sekuat yang dikhawatirkan?
Meski peringatan telah dikeluarkan untuk Jepang, Hawaii, Amerika Latin hingga California, gelombang tsunami yang tiba ternyata relatif moderat.
Di Jepang dan Hawaii, ketinggian gelombang hanya sekitar 1,2 meter, sementara di California air naik hingga 2,5 meter tanpa kerusakan berarti. Namun di Severo-Kurilsk, gelombang sempat mencapai 5 meter, menghancurkan pelabuhan dan rumah-rumah.
“Bencana yang kami takutkan tidak terjadi,” kata seorang turis di Hawaii kepada BBC.
Menurut ilmuwan seismik Diego Melgar dari University of Oregon, gempa tersebut memang menghasilkan tsunami sesuai kapasitasnya, tapi tak sebesar yang diasumsikan. “Peringatan tsunami yang cepat dan efektif justru adalah kisah sukses dalam mitigasi bencana,” jelasnya.
Ahli gempa lainnya, Amilcar Carrera-Cevallos, menjelaskan bahwa tidak semua patahan menghasilkan tsunami dengan kekuatan merata ke segala arah. Bentuk dan posisi patahan, seberapa besar geserannya, serta kedekatan dengan parit samudra turut menentukan kekuatan tsunami.
Sementara itu, bentuk dasar laut (bathymetry) dan bentuk pantai juga sangat berpengaruh. Teluk bisa memperkuat gelombang, sementara pulau-pulau bisa membelokkan arah tsunami.
Gempa 8,8 ini memang sangat besar, tapi masih jauh lebih kecil dibandingkan gempa 9,1 yang memicu tsunami raksasa di Jepang (2011) dan Samudra Hindia (2004).
Skala magnitudo gempa bersifat logaritmik, artinya kenaikan satu angka sama dengan peningkatan energi 32 kali lipat. Gempa 2011 dan 2004 3 kali lebih kuat dan lebih mampu mengangkat volume air yang jauh lebih besar.
“Gempa kali ini memang besar, tapi belum sebanding dengan dua tragedi besar sebelumnya,” kata Judith Hubbard dari Cornell University.
Meskipun tsunami kali ini tak setinggi prediksi awal, evakuasi dini tetap menjadi kunci keselamatan. Para ilmuwan sepakat, sistem peringatan dan edukasi mitigasi bencana yang dijalankan terbukti menyelamatkan banyak jiwa.
"Strategi evakuasi preventif saat ini terbukti sangat efektif menyelamatkan nyawa," tutup Hubbard. (scientifica)