Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Gurun Sahara Ternyata Pernah Jadi Rumah Garis Keturunan Manusia Misterius

Editor Satu • Rabu, 9 April 2025 | 16:41 WIB

Gurun Sahara yang kini dikenal kering dan gersang, ternyata pernah menjadi tempat tinggal subur bagi manusia.
Gurun Sahara yang kini dikenal kering dan gersang, ternyata pernah menjadi tempat tinggal subur bagi manusia.

BERLIN, METRODAILY — Gurun Sahara yang kini dikenal kering dan gersang, ternyata pernah menjadi tempat tinggal subur bagi manusia ribuan tahun lalu. Tak hanya itu, sebuah studi terbaru menemukan bahwa wilayah ini dulunya dihuni oleh garis keturunan manusia yang terisolasi dan belum pernah terdeteksi sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan tim ilmuwan dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Jerman, mengungkap DNA dari dua mumi alami berusia 7.000 tahun yang ditemukan di Takarkori, Libya barat daya.

Hasilnya mengejutkan: kedua individu ini membawa warisan genetik unik yang berbeda dari populasi manusia lainnya di Afrika.

Baca Juga: Krisis Tenaga Psikolog, AI Muncul sebagai Alternatif Terapi yang Menjanjikan

Manusia yang tinggal di Takarkori hidup di masa yang disebut sebagai “Periode Lembab Afrika”, sekitar 14.500–5.000 tahun lalu. Saat itu, Sahara belum jadi padang pasir, tapi sebuah wilayah hijau subur yang penuh air, cocok untuk beternak dan bermukim.

Namun seiring berjalannya waktu, perubahan iklim menyebabkan wilayah ini mengering — dan perlahan berubah menjadi gurun tandus yang kita kenal sekarang.

Melalui analisis genom, peneliti menemukan bahwa garis keturunan di Sahara Utara mulai menyimpang dari populasi sub-Sahara sekitar 50.000 tahun lalu — bersamaan dengan penyebaran manusia modern ke luar Afrika.

Baca Juga: Asteroid 'City Killer' 2024 YR4 Berasal dari Wilayah Tak Terduga di Tata Surya

Uniknya, mumi Takarkori ini memiliki keterkaitan genetik dengan pemburu-pengumpul dari Zaman Es yang hidup di Gua Taforalt, Maroko, 15.000 tahun silam.

“Mereka adalah keturunan yang terisolasi selama ribuan tahun,” ujar Johannes Krause, direktur Max Planck Institute, dalam siaran persnya.

Yang lebih menarik lagi, mumi ini memiliki jejak DNA Neandertal, meski dalam kadar lebih rendah dibanding manusia luar Afrika — tapi lebih tinggi dari populasi sub-Sahara masa kini.

Studi ini juga menggugurkan asumsi lama bahwa Sahara dulunya menjadi “jalan tol” migrasi antarwilayah. Faktanya, populasi yang tinggal di wilayah hijau ini cenderung tidak banyak berpindah.

Baca Juga: Kenapa Anak Prasekolah di Jepang Lebih Siap Hadapi Hidup? Ini Jawabannya

Penyebaran budaya seperti beternak diduga lebih banyak terjadi lewat interaksi budaya daripada perpindahan massal manusia.

“Penemuan ini menunjukkan betapa kompleksnya sejarah manusia di Afrika Utara,” kata penulis utama studi, Nada Salem. “Penyebaran cara hidup bertani dan menggembala kemungkinan besar terjadi lewat tukar budaya, bukan migrasi besar-besaran.”

Temuan ini dipublikasikan di jurnal Nature dan memberikan gambaran baru tentang betapa kaya dan misteriusnya sejarah manusia di Sahara. Gurun yang hari ini tampak kosong ternyata menyimpan jejak kehidupan yang dalam dan nyaris terlupakan — termasuk garis keturunan manusia yang nyaris punah, tapi kini ditemukan kembali melalui sains. (cbs)

Editor : Editor Satu
#gurun sahara #misterius