Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Krisis Tenaga Psikolog, AI Muncul sebagai Alternatif Terapi yang Menjanjikan

Editor Satu • Rabu, 9 April 2025 | 16:34 WIB

Terapi berbasis kecerdasan buatan (AI) muncul sebagai alternatif menjanjikan.
Terapi berbasis kecerdasan buatan (AI) muncul sebagai alternatif menjanjikan.

WASHINGTON, METRODAILY - Di tengah krisis kekurangan tenaga kesehatan mental, terapi berbasis kecerdasan buatan (AI) muncul sebagai alternatif menjanjikan.

Hasil studi klinis acak pertama yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa bot terapi AI mampu memberikan hasil setara — bahkan melebihi — terapis manusia dalam menangani gangguan seperti depresi, kecemasan, dan gangguan makan.

Penelitian ini digagas oleh tim dari Dartmouth College sebagai respons terhadap ketimpangan akses layanan kesehatan mental di Amerika Serikat, yang hanya memiliki satu klinisi kesehatan mental untuk setiap 340 warga.

Baca Juga: Asteroid 'City Killer' 2024 YR4 Berasal dari Wilayah Tak Terduga di Tata Surya

“Manusia tidak bisa menjangkau semua kebutuhan terapi yang ada saat ini. Kami butuh solusi yang bisa diskalakan,” kata Dr. Nick Jacobson, psikolog klinis sekaligus peneliti utama.

Selama lebih dari lima tahun, tim peneliti mengembangkan dan melatih bot AI berbasis prinsip psikoterapi modern. Dari sekitar 200 peserta studi, mereka yang menjalani terapi AI menunjukkan perbaikan signifikan dibanding kelompok yang tidak menerima perlakuan.

Lebih mengejutkan lagi, peserta membentuk hubungan emosional yang erat dengan bot. “Mereka mempercayainya, merasa didengar, dan bersemangat menjalani terapi,” ujar Jacobson.

Baca Juga: Inter Kalahkan Bayern Munich 2-1

AI dinilai unggul dalam hal fleksibilitas. Pasien bisa mengakses terapi kapan pun, bahkan dini hari, tanpa perlu menunggu jadwal konsultasi. “Kami melihat pasien yang menghubungi AI tengah malam untuk mengeluhkan insomnia, dan langsung mendapat respons yang membantu,” jelas Jacobson.

Asosiasi Psikolog Amerika (APA) menyambut baik pendekatan ilmiah yang diterapkan dalam pengembangan bot ini. “Inilah standar yang kami harapkan dari teknologi kesehatan mental: berbasis sains, aman, dan dikembangkan oleh ahli,” kata Vaile Wright, Direktur Inovasi Pelayanan Kesehatan APA.

Namun, para peneliti menegaskan bahwa teknologi ini belum siap dipasarkan luas. Uji klinis lanjutan diperlukan untuk memastikan keamanan dalam skala besar.

Baca Juga: Kenapa Anak Prasekolah di Jepang Lebih Siap Hadapi Hidup? Ini Jawabannya

Wright juga mengimbau agar para terapis manusia tak merasa tersaingi. “Teknologi ini bukan untuk menggantikan manusia, tapi memperkuat sistem yang sudah kewalahan. Kita butuh semua tangan — baik manusia maupun mesin,” tutupnya. (npr)

Editor : Editor Satu
#terapi #ai #Artifical Intelligence #psikolog