Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Ibuprofen Dapat Menekan Persepsi Rasa Manis, Berpotensi Pengaruhi Metabolisme

Editor Satu • Senin, 31 Maret 2025 | 15:01 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

METRODAILY – Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa ibuprofen, obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang umum digunakan, dapat menekan persepsi rasa manis.

Efek ini diduga terjadi karena ibuprofen menghambat reseptor utama yang bertanggung jawab atas deteksi rasa manis, yang berpotensi memengaruhi metabolisme dan regulasi glukosa dalam tubuh.

Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Pharmacology ini menunjukkan bahwa ibuprofen dan naproxen dapat secara signifikan mengurangi intensitas rasa manis dari sukrosa, sukralosa, dan fruktosa.

Efek ini diamati baik dalam uji laboratorium (in vitro) maupun pada partisipan manusia (in vivo).

Reseptor TAS1R2-TAS1R3, yang berperan dalam mendeteksi rasa manis, tidak hanya ditemukan di lidah tetapi juga tersebar di berbagai jaringan tubuh seperti saluran pencernaan, pankreas, otot rangka, dan otak.

Reseptor ini berperan dalam penyerapan gula dari makanan, sekresi insulin, dan metabolisme lemak.

Dr. Liji Thomas, MD, dalam ulasannya menyatakan bahwa hasil penelitian ini menambah wawasan tentang bagaimana NSAID dapat memberikan efek samping yang belum banyak diketahui.

“Ibuprofen dan naproxen menunjukkan kemampuan untuk menghambat aktivasi reseptor rasa manis, yang berimplikasi pada penurunan sensitivitas terhadap gula dan kemungkinan perubahan dalam metabolisme karbohidrat,” ujarnya.

Penelitian ini melibatkan 32 partisipan berusia 18 hingga 58 tahun yang melakukan pembilasan mulut dengan larutan ibuprofen atau naproxen sebelum mencicipi larutan gula.

Hasilnya menunjukkan bahwa setelah pembilasan dengan ibuprofen, intensitas rasa manis yang dirasakan berkurang secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol.

Uji laboratorium pada sel yang direkayasa untuk mengekspresikan reseptor TAS1R2-TAS1R3 juga menunjukkan bahwa ibuprofen mencegah aktivasi reseptor oleh sukrosa dan sukralosa.

Peneliti juga menguji berbagai konsentrasi ibuprofen, termasuk kadar yang setara dengan dosis umum yang dikonsumsi manusia (400-600 mg ibuprofen oral). Pada semua kadar yang diuji, ibuprofen menunjukkan efek penekanan terhadap persepsi rasa manis.

Penemuan ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai efek jangka panjang NSAID terhadap pola makan dan metabolisme manusia.

Dengan sekitar 17% populasi di Amerika Serikat menggunakan ibuprofen lebih dari sekali dalam seminggu, pemahaman lebih mendalam mengenai dampaknya menjadi penting.

Para ahli menekankan perlunya penelitian klinis lebih lanjut untuk mengonfirmasi efek ini dalam populasi yang lebih luas dan memahami bagaimana penurunan sensitivitas rasa manis dapat memengaruhi pola makan dan risiko penyakit metabolik seperti diabetes.

“Jika NSAID benar-benar dapat menghambat persepsi rasa manis, ini dapat berimplikasi pada bagaimana orang mengonsumsi makanan manis dan bagaimana tubuh mereka merespons gula,” tambah Dr. Thomas.

Penelitian ini memberikan wawasan baru tentang dampak tak terduga dari obat yang banyak digunakan dan membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara pengobatan, persepsi rasa, dan metabolisme manusia. (News Medical)

Editor : Editor Satu
#ibuprofen