METRODAILY– Setelah fenomena "blood moon" yang terjadi semalam di kawasan Amerika, perhatian dunia kini tertuju pada gerhana bulan total berikutnya.
Menurut perhitungan astronomi, peristiwa langka ini akan terjadi pada 7-8 September 2025 dan akan terlihat secara penuh di Asia, Australia, dan wilayah Pasifik.
Berdasarkan data yang dirilis Timeanddate.com, gerhana bulan total ini akan berlangsung selama 82 menit saat bulan sepenuhnya berada dalam bayangan gelap bumi (umbra).
Namun, peristiwa ini tidak akan terlihat dari Amerika karena terjadi saat wilayah tersebut berada di sisi siang bumi.
Baca Juga: Gerhana Bulan Total 'Blood Moon' Muncul Malam Ini, Begini Cara Menyaksikannya
Secara keseluruhan, gerhana bulan pada 7-8 September 2025 akan berlangsung selama 5 jam 27 menit, termasuk fase penumbra dan parsial.
Diperkirakan 4,9 miliar orang di dunia akan dapat menyaksikan keseluruhan proses gerhana ini, sementara 7,1 miliar orang—atau 87% dari populasi dunia—akan bisa melihat sebagian tahapannya.
Gerhana bulan total selalu terjadi dalam satu siklus dengan gerhana matahari. Dua minggu setelah gerhana bulan 7-8 September 2025, akan terjadi gerhana matahari parsial pada 21 September 2025.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Pastikan Korban Banjir Psp Mendapat Layanan Kesehatan
Fenomena serupa juga terjadi tahun ini, di mana gerhana bulan total pada 13 Maret 2025 akan diikuti oleh gerhana matahari parsial pada 29 Maret 2025.
Bagi penduduk Amerika, mereka harus menunggu hingga 3-4 Maret 2026 untuk bisa menyaksikan gerhana bulan total yang sepenuhnya terlihat dari Hawaii, Alaska, dan bagian barat Amerika Serikat serta Kanada.
Di wilayah pantai timur AS, fenomena "blood moon" akan terjadi saat bulan terbenam di pagi hari 3 Maret 2026, dengan durasi totalitas 58 menit.
Baca Juga: Ny. Murni Gus Irawan Resmi Dilantik sebagai Ketua TP PKK Tapsel
Gerhana bulan total terjadi ketika bumi berada tepat di antara matahari dan bulan, membuat bulan masuk ke dalam bayangan bumi.
Selama fase totalitas, cahaya matahari yang melewati atmosfer bumi tersebar dan hanya menyisakan panjang gelombang merah, sehingga bulan tampak berwarna merah darah, yang dikenal sebagai "blood moon".
Fenomena ini mengikuti Siklus Saros, yaitu pola berulang setiap 18 tahun, 11 hari, dan 8 jam, memungkinkan para astronom memprediksi gerhana dengan akurasi tinggi.
Baca Juga: Banjir dan Longsor Terjang Padangsidimpuan, Ratusan Rumah Terendam
Dengan semakin dekatnya peristiwa gerhana bulan total berikutnya, masyarakat di Asia, Australia, dan wilayah Pasifik diharapkan dapat bersiap untuk menyaksikan fenomena langka ini. (forbes)
Editor : Editor Satu