METRODAILY – Malam ini, langit di berbagai belahan dunia akan diselimuti fenomena langka Gerhana Bulan Total, yang dikenal sebagai Blood Moon. Peristiwa ini akan terlihat di Amerika, Samudra Pasifik dan Atlantik, serta sebagian wilayah barat Eropa dan Afrika.
Gerhana bulan total terjadi saat Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar, sehingga Bumi menutupi sinar Matahari yang biasanya menerangi Bulan. Namun, alih-alih menghilang sepenuhnya, Bulan justru berubah menjadi warna kemerahan.
Kenapa Bulan Berwarna Merah?
Menurut Daniel Brown, astronom dari Nottingham Trent University, warna merah yang muncul disebabkan oleh pembiasan dan penyebaran cahaya Matahari melalui atmosfer Bumi, serupa dengan warna jingga atau merah yang muncul saat matahari terbit atau terbenam.
Baca Juga: Saturnus Kini Miliki 274 Satelit, Jauh Lampaui Jupiter
Semakin banyak debu dan awan di atmosfer, semakin merah tampilan Bulan.
Gerhana bulan total ini akan berlangsung sekitar enam jam, dengan fase puncak (totalitas) selama satu jam lebih. Berikut perkiraan waktu puncak gerhana di beberapa wilayah:
- Amerika Utara: Mulai terlihat pukul 01.09 ET (05.09 GMT), totalitas berlangsung pukul 02.26–03.31 ET.
- Prancis: Totalitas berlangsung pukul 07.26–08.31 waktu setempat (06.26–07.31 GMT), tetapi hanya dapat terlihat di wilayah barat seperti Brittany sebelum Bulan terbenam.
- Selandia Baru: Gerhana hanya akan terlihat sebagian saat Bulan terbit.
Di Inggris, cuaca diprediksi mendung, tetapi masih ada peluang untuk mengintip fenomena ini jika awan tidak terlalu tebal.
Baca Juga: Amorim: MU Harus Lebih Kuat Demi Bruno dan Trofi
Beda dengan Supermoon
Fenomena ini juga disebut sebagai "Micromoon", karena Bulan berada di titik terjauh dari Bumi, sehingga tampak sekitar 7% lebih kecil dibandingkan saat Supermoon.
Bagi penggemar astronomi, bulan ini masih menyimpan kejutan lain. Pada 29 Maret 2025, sebagian wilayah di Kanada bagian timur, Eropa, Rusia utara, dan Afrika barat laut akan menyaksikan gerhana matahari sebagian.
Pengamatan gerhana matahari harus dilakukan dengan alat khusus seperti kacamata gerhana atau proyektor lubang jarum untuk menghindari kerusakan mata.
Baca Juga: Van Dijk Dituduh sebagai Biang Keladi Kekalahan Liverpool
Fenomena gerhana ini menjadi pengingat akan keindahan dan keteraturan alam semesta yang bisa kita saksikan dari Bumi. (science)
Editor : Editor Satu