Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Apakah Wanita yang Sedang Koma Tetap Datang Bulan? Ini Penjelasan Ahli dan Testimoni Netizen

Editor Satu • Rabu, 25 Desember 2024 | 07:38 WIB
Wanita yang sedang ooma-Ilustrasi.
Wanita yang sedang ooma-Ilustrasi.

METRODAILY – Perbincangan hangat muncul di media sosial terkait kondisi seorang wanita yang sedang koma. Salah satu pertanyaan yang ramai dibahas adalah, apakah wanita dalam kondisi koma tetap mengalami datang bulan seperti biasa?

Topik ini memancing perhatian publik, termasuk sejumlah pakar medis yang memberikan penjelasan, serta kisah nyata yang turut dibagikan warganet.

Menurut dr. Indah Permatasari, SpOG, spesialis obstetri dan ginekologi, wanita yang sedang koma umumnya tetap bisa mengalami datang bulan, asalkan fungsi tubuhnya, terutama sistem hormonal dan organ reproduksi, berjalan normal.

"Datang bulan dipengaruhi oleh siklus hormon, seperti estrogen dan progesteron, yang diatur oleh hipotalamus dan kelenjar pituitari di otak. Jika fungsi ini masih aktif, siklus datang bulan dapat terus berlangsung, meski pasien tidak sadar," ungkapnya.

Namun, dr. Indah juga mengingatkan bahwa datang bulan pada pasien koma bergantung pada banyak faktor, seperti kecukupan nutrisi, kondisi kesehatan umum, hingga pengaruh obat-obatan yang diberikan selama perawatan.

"Stres fisik akibat koma atau kondisi medis yang menyertainya dapat mengganggu keseimbangan hormon dan menghentikan sementara siklus datang bulan, suatu kondisi yang disebut amenore," tambahnya.

Di sisi lain, dr. Bambang Widjaja, spesialis saraf, menjelaskan bahwa pasien koma jangka panjang berpotensi mengalami penurunan fungsi tubuh secara menyeluruh.

"Koma yang berkepanjangan sering kali memengaruhi metabolisme tubuh, yang pada akhirnya dapat mengganggu siklus datang bulan. Selain itu, penggunaan obat-obatan tertentu seperti pengatur hormon dapat menekan aktivitas ovarium," paparnya.

Isu ini menjadi semakin menarik dengan adanya cerita yang dibagikan salah satu pengguna media sosial.

“Saya pernah koma selama 9 minggu. Saya berada di ICU dalam kondisi sangat sakit. Ketika saya sadar, saya tidak pernah mengalami datang bulan lagi. Ternyata tubuh saya terlalu lemah sehingga harus memutuskan untuk memprioritaskan energi. Tubuh saya memilih pernapasan dibandingkan siklus menstruasi. Saya bahkan mengalami menopause selama koma itu—saat itu usia saya baru 33 tahun,” tulis Karen Kohlmeyer, seorang warganet.

Komentar tersebut menggambarkan kondisi medis ekstrem di mana tubuh harus memprioritaskan fungsi vital seperti pernapasan dibandingkan siklus reproduksi. Kasus ini juga menunjukkan bahwa koma dapat memicu menopause dini pada usia muda, tergantung pada tingkat keparahan kondisi pasien.

Netizen lainnya, Mary Gamble mengatakan wanita yang kekurangan gizi, seperti penderita anoreksia, atau atlet ekstrem, sering kali tidak mengalami menstruasi.

Diskusi ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap topik kesehatan, terutama terkait kondisi tubuh dalam situasi tidak biasa seperti koma. Para ahli mengimbau masyarakat untuk mencari informasi dari sumber terpercaya dan memahami bahwa setiap kasus bersifat unik.

Secara keseluruhan, wanita dalam kondisi koma tetap memiliki potensi untuk mengalami datang bulan, tetapi hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan dan penanganan medis yang diterima. Cerita nyata seperti ini menjadi pengingat pentingnya pemantauan ketat pada pasien koma untuk memastikan kesejahteraan mereka. (Net)

 

Editor : Editor Satu
#wanita datang bulan #koma