Virus Baru dari Kutu Ditemukan di China, 7 Pasien Meninggal akibat Koinfeksi

Editor Satu • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 15:30 WIB
Kutu Haemaphysalis longicornis menjadi salah satu vektor yang ditemukan membawa RNA virus baru ALTNV dalam penelitian ilmuwan China.
Kutu Haemaphysalis longicornis menjadi salah satu vektor yang ditemukan membawa RNA virus baru ALTNV dalam penelitian ilmuwan China.

CHINA, METRODAILY — Para ilmuwan di Tiongkok menemukan virus baru yang ditularkan melalui kutu dan dapat menyebabkan penyakit mirip flu.

Virus yang dinamai Asia longhorned tick nairovirus (ALTNV) itu ditemukan pada pasien dengan demam, kelelahan, gangguan pencernaan hingga kelainan darah.

Penemuan tersebut dilakukan tim peneliti yang dipimpin Laboratorium Utama Negara untuk Patogen dan Biosekuriti di Beijing. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine.

ALTNV termasuk kelompok orthonairovirus dalam famili Nairoviridae. Virus ini ditemukan ketika para peneliti menyelidiki kasus pasien yang menunjukkan gejala severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS), tetapi hasil pemeriksaannya negatif terhadap Dabie bandavirus (DBV), virus penyebab SFTS.

Baca Juga: 11 Hari Terjebak di Terowongan PLTA, Lu Haitao Akhirnya Diselamatkan

Ditemukan pada Ribuan Pasien

Penelitian dilakukan terhadap 3.163 pasien yang memiliki riwayat gigitan kutu dan diperiksa di sejumlah rumah sakit rujukan di wilayah China yang menjadi daerah peredaran virus yang ditularkan melalui kutu.

Hasilnya, 10,4 persen pasien dinyatakan positif ALTNV berdasarkan pemeriksaan RNA virus atau antibodi imunoglobulin M (IgM).

Angka itu lebih tinggi pada kelompok pasien yang sebelumnya dinyatakan negatif DBV. Sebanyak 15,1 persen pasien negatif DBV ternyata positif ALTNV.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian kasus penyakit akibat gigitan kutu yang selama ini tidak teridentifikasi sebagai SFTS kemungkinan disebabkan virus lain.

Baca Juga: Selat Malaka Jadi Kunci, Indonesia Perkuat Sumut sebagai Koridor Rantai Pasok Regional

Gejala infeksi ALTNV yang paling banyak ditemukan adalah kelelahan sebesar 84 persen, gangguan saluran pencernaan 80 persen, trombositopenia atau penurunan jumlah trombosit 38 persen, serta peningkatan kadar aminotransferase yang mengindikasikan peradangan atau cedera jaringan, sebesar 36 persen.

Pasien dengan infeksi ALTNV saja dilaporkan pulih sepenuhnya.

Koinfeksi Lebih Berbahaya

Situasi berbeda ditemukan pada pasien yang mengalami koinfeksi ALTNV dan DBV.

Peneliti menemukan 38 pasien mengalami kedua infeksi tersebut. Dibandingkan pasien yang hanya terinfeksi DBV, kelompok koinfeksi memiliki gejala pernapasan dan gangguan ginjal yang lebih tinggi.

Baca Juga: Wacana Pemakzulan, Masinton Pasaribu: “Sejengkal Pun Saya Gak Mundur”

Gejala pernapasan ditemukan pada 61 persen pasien koinfeksi, dibandingkan 38 persen pada pasien dengan DBV saja. Sementara gangguan ginjal mencapai 84 persen, dibandingkan 66 persen pada kelompok DBV saja.

Yang paling mengkhawatirkan, tujuh dari 38 pasien koinfeksi atau 18,4 persen meninggal dunia.

Temuan ini memperlihatkan bahwa keberadaan ALTNV tidak hanya menjadi persoalan penemuan virus baru, tetapi juga penting dalam diagnosis pasien dengan penyakit akibat gigitan kutu di wilayah endemis.

Ditemukan pada Ribuan Kutu

Para peneliti kemudian melakukan pemeriksaan terhadap 47.428 kutu dari 15 provinsi di China.

RNA ALTNV ditemukan pada 1,3 persen kutu yang diperiksa. Prevalensi tertinggi ditemukan pada Haemaphysalis longicornis, dengan angka sekitar 1,8 persen.

Kutu H. longicornis juga dikenal sebagai kutu bertanduk panjang Asia. Percobaan laboratorium menunjukkan kutu tersebut mampu menularkan ALTNV kepada tikus.

Temuan itu memperkuat dugaan bahwa kutu berperan sebagai vektor penting dalam siklus penularan virus.

Meski demikian, keberadaan virus pada kutu tidak serta-merta berarti seluruh gigitan kutu akan menyebabkan penyakit. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami mekanisme penularan, distribusi virus, tingkat keparahan penyakit, serta potensi penyebarannya ke wilayah lain.

Diagnosis Perlu Diperluas

Para peneliti menekankan bahwa ALTNV dan DBV ditemukan beredar di wilayah yang sama dan menggunakan vektor kutu yang sama.

Karena itu, pemeriksaan terhadap pasien dengan demam setelah gigitan kutu perlu mempertimbangkan kemungkinan infeksi ALTNV, terutama ketika hasil pemeriksaan terhadap DBV negatif.

Penemuan ini sekaligus menunjukkan bahwa penyakit yang ditularkan melalui kutu masih menyimpan banyak virus yang belum teridentifikasi. (net)

Editor : Editor Satu
virus baru dari kutu