TEHERAN/WASHINGTON, METRODAILY – Iran dilaporkan mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik yang tengah berlangsung.
Laporan media Axios yang mengutip pejabat AS dan sumber terkait menyebutkan, proposal tersebut disampaikan melalui mediator Pakistan. Dalam skema itu, pembahasan terkait isu nuklir akan ditunda ke tahap berikutnya.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menggelar rapat di Situation Room bersama tim keamanan nasional dan kebijakan luar negeri untuk menentukan langkah lanjutan terhadap Iran.
Baca Juga: Dari Kentongan hingga Edukasi Warga, Zakiyuddin Tekankan Kesiapsiagaan Bencana
AS Masih Pertahankan Blokade
Proposal Iran juga mencakup permintaan agar AS mencabut blokade terhadap aset-aset Iran, yang saat ini menjadi salah satu alat tekanan utama Washington dalam negosiasi.
Namun, Trump memberi sinyal bahwa blokade belum akan dicabut hingga tercapai kesepakatan komprehensif.
“Jika aliran minyak terganggu, dampaknya bisa sangat besar. Mereka berada di bawah tekanan,” ujar Trump dalam wawancara dengan media AS.
Ketegangan di kawasan meningkat seiring pengerahan militer, termasuk kehadiran kapal perusak AS USS Rafael Peralta (DDG-115) yang dilaporkan terlibat dalam pengawasan dan penegakan blokade di sekitar pelabuhan Iran.
Baca Juga: Raih Penghargaan Kemendagri, Rico Waas Buktikan Tata Kelola Keuangan Medan Makin Moncer
Peran Negara Mediator
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pembicaraan dengan Oman difokuskan pada upaya menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Sebagai negara pesisir Hormuz, kami fokus memastikan transit yang aman bagi semua negara,” ujarnya.
Ia juga melakukan rangkaian diplomasi ke sejumlah negara, termasuk Pakistan dan Rusia, untuk memperkuat posisi Iran dalam negosiasi regional.
Jalur Vital Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia. Penutupan atau gangguan di kawasan ini berpotensi memicu gejolak harga energi global dan ketidakstabilan ekonomi internasional.
Baca Juga: Curanmor Terekam CCTV di Batang Toru, Pelaku Ditangkap Saat Rehabilitasi Narkoba
Hingga kini, belum ada keputusan final dari AS terkait proposal tersebut, sementara ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih terus berlangsung. (Jpc)
Editor : Editor Satu