Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Survei Yale: Pengguna TikTok dan Instagram Lebih Rentan Percaya Narasi Anti-Semit

Editor Satu • Jumat, 17 April 2026 | 18:20 WIB
Ilustrasi penggunaan media sosial sebagai sumber informasi, yang dalam survei Yale disebut berkontribusi pada meningkatnya kepercayaan terhadap narasi anti-Semit di kalangan pengguna muda.
Ilustrasi penggunaan media sosial sebagai sumber informasi, yang dalam survei Yale disebut berkontribusi pada meningkatnya kepercayaan terhadap narasi anti-Semit di kalangan pengguna muda.

JAKARTA, METRODAILY – Ketergantungan pada media sosial sebagai sumber informasi kini memunculkan risiko serius.

Survei terbaru dari Yale Youth Poll mengungkap, pengguna platform seperti TikTok dan Instagram cenderung lebih mudah mempercayai narasi bernuansa anti-Semit dibanding pengguna media konvensional.

Hasil survei yang dirilis April 2026 menunjukkan, sebanyak 41% pengguna TikTok, 39% Instagram, 38% X (Twitter), dan 39% Reddit yang mengandalkan media sosial untuk berita, setuju dengan setidaknya satu gagasan anti-Semit.

Baca Juga: Gencatan Senjata Israel–Lebanon Dibuka, Tapi Mandek di Tangan Hizbullah

Angka ini lebih tinggi dibandingkan pengguna media tradisional, di mana hanya sekitar 30–33% yang menunjukkan kecenderungan serupa.

Tidak hanya itu, intensitas kepercayaan juga berbeda. Sekitar 12% pengguna TikTok bahkan mempercayai ketiga narasi anti-Semit yang diuji dalam survei—lebih dari dua kali lipat dibandingkan pengguna media konvensional yang hanya sekitar 5%.

Generasi Muda Jadi Kelompok Paling Rentan

Survei terhadap 3.429 pemilih di Amerika Serikat itu juga menemukan kesenjangan usia yang signifikan.

Kelompok usia 18–29 tahun tercatat paling rentan:

  • 38–41% percaya setidaknya satu narasi anti-Semit
  • 10–11% percaya seluruh narasi

Baca Juga: Kasus Dugaan Pungli DPRD Medan ‘Menghilang’? APH Bungkam

Sebaliknya, pada kelompok usia di atas 65 tahun:

  • Hanya 25% percaya satu narasi
  • 2% percaya seluruhnya

Temuan ini memperkuat kekhawatiran bahwa konsumsi informasi digital tanpa verifikasi memperbesar potensi misinformasi di kalangan generasi muda.

Survei juga menunjukkan:

  • Laki-laki lebih rentan dibanding perempuan (30% vs 27%)
  • Kelompok pemilih kulit hitam mencatat tingkat kepercayaan tertinggi, dengan 46% percaya setidaknya satu narasi

Sementara itu, pemilih kulit putih menjadi kelompok dengan tingkat kepercayaan paling rendah.

Baca Juga: GSN Belawan Bongkar Sarang Sabu: Bandar dan Dua Pengguna Ditangkap

Polarisasi Politik Ikut Berpengaruh

Dalam konteks politik, responden yang memilih Kamala Harris pada Pilpres AS 2024 sedikit lebih tinggi tingkat persetujuannya terhadap narasi tersebut dibanding pemilih Donald Trump.

Namun, survei juga mencatat fenomena lain: kelompok ekstrem ideologis, baik liberal maupun konservatif, justru paling kuat menganggap antisemitisme sebagai masalah serius di Amerika Serikat.

Meski demikian, mayoritas responden masih menolak narasi anti-Semit:

  • 57% menolak teori konspirasi terkait Yahudi
  • Hanya 6% yang meragukan fakta Holocaust

Baca Juga: Ruko CBD Helvetia Diduga Tanpa PBG, Jaksa Diminta Usut Potensi Kebocoran PAD

Namun, sebanyak 63% responden tetap mengakui bahwa antisemitisme adalah masalah nyata di AS.

Dampak Konflik Global dan Persepsi Publik

Survei juga menyoroti pengaruh konflik global, termasuk perang Gaza:

  • 35% responden memiliki pandangan lebih negatif terhadap Israel
  • Generasi muda lebih banyak yang menyebut Israel sebagai negara “apartheid”

Namun, 58% responden menyatakan konflik tersebut tidak memengaruhi pandangan mereka terhadap orang Yahudi secara langsung.

Baca Juga: 6 Bulan atau Dievaluasi, Rico Waas Ultimatum Pejabat Baru

Temuan ini menegaskan bahwa algoritma media sosial tidak sekadar menyebarkan informasi, tetapi juga memperkuat bias dan narasi tertentu.

Ketika generasi muda menjadikan platform digital sebagai sumber utama berita, risiko distorsi persepsi publik pun semakin besar—terutama pada isu sensitif seperti antisemitisme. (jpc)

Editor : Editor Satu
#Survei Yale #narasi anti semit #media sosial