WASHINGTON, METRODAILY – Penilaian terbaru intelijen Amerika Serikat menyebut Iran saat ini tidak bersedia bernegosiasi untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat dan Israel, karena merasa berada dalam posisi militer yang cukup kuat.
Laporan yang dikutip dari The New York Times menyebutkan, berbagai badan intelijen AS menilai Teheran belum melihat urgensi untuk menghentikan konflik dan tidak akan tunduk pada tuntutan Washington.
Meski menolak negosiasi formal, Iran disebut masih membuka jalur komunikasi tidak langsung melalui mediator. Namun, mereka meragukan keseriusan pemerintahan Donald Trump dalam mencari solusi damai.
Baca Juga: Kades di Madina Denda Warga Rp100 Ribu Tak Gotong Royong, Inspektorat Turun Tangan
Sumber pejabat Iran menyebut, negosiasi hanya mungkin terjadi jika:
- AS benar-benar ingin mengakhiri perang secara permanen
- Bukan sekadar menawarkan gencatan senjata sementara
Klaim Trump Dibantah Keras Teheran
Trump sebelumnya mengklaim bahwa pemimpin baru Iran telah meminta gencatan senjata melalui pernyataan di platform Truth Social.
Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh pemerintah Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri menyebut pernyataan itu “palsu dan tidak berdasar”.
Baca Juga: Trump Ancam Tarik AS dari NATO, Eropa Tegas Bertahan di Tengah Ketegangan Iran
Tidak jelas apakah Trump merujuk pada Mojtaba Khamenei atau Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Seorang pejabat senior Iran juga menegaskan belum ada pembicaraan konkret terkait gencatan senjata.
Bahkan, proposal damai 15 poin dari AS dinilai:
- Sepihak
- Tidak adil
- Lebih menguntungkan kepentingan AS dan Israel
Karena itu, Iran menilai rencana tersebut tidak memenuhi syarat minimum untuk kesepakatan.
Baca Juga: Mayat Boru Limbong Gegerkan Warga Sidimpuan, Polisi Pastikan Tak Ada Unsur Pidana
Situasi Memanas, Risiko Eskalasi Meningkat
Dengan posisi Iran yang menolak negosiasi dan tetap percaya diri melanjutkan perang, peluang deeskalasi dalam waktu dekat semakin kecil.
Kondisi ini berpotensi:
- Memperpanjang konflik kawasan Timur Tengah
- Meningkatkan risiko keterlibatan negara lain
- Mengganggu stabilitas global, termasuk energi dan perdagangan. (jpc)