METRODAILY – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki fase krusial. Sejumlah negara Teluk dilaporkan mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran hingga rezim di Teheran benar-benar melemah.
Laporan Associated Press menyebutkan, dorongan tersebut datang dari pejabat tinggi kawasan Teluk dan Israel yang menilai kekuatan Iran belum cukup tereduksi, meski serangan militer sudah berlangsung hampir sebulan.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain disebut berada dalam satu garis sikap: operasi militer harus dilanjutkan sampai Iran tidak lagi menjadi ancaman regional.
Baca Juga: Kasus Dugaan Malapraktik Mengemuka! Keluarga Pasien Somasi RS Permata Madina
Mereka bahkan melihat momentum konflik saat ini sebagai peluang strategis untuk melemahkan, bahkan mendorong perubahan rezim di Iran.
Sebaliknya, Qatar dan Oman memilih pendekatan berbeda dengan mendorong solusi diplomatik dibanding eskalasi militer lanjutan.
Ancaman Selat Hormuz Jadi Pemicu
Salah satu kekhawatiran terbesar dalam konflik ini adalah potensi penutupan Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia.
Iran dilaporkan meningkatkan tekanan di kawasan tersebut melalui ancaman ranjau laut hingga gangguan terhadap kapal-kapal yang melintas. Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa memicu krisis energi global.
Baca Juga: Wujud Duka, Wali Kota Siantar Wesly dan Ketua TP PKK Kunjungi Korban Kebakaran
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menawarkan solusi jangka panjang dengan mengalihkan jalur distribusi energi dari Teluk melalui wilayah Arab Saudi menuju Laut Merah dan Mediterania.
Langkah ini dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz yang rawan konflik.
“Perang ini telah melewati titik tengah,” kata Netanyahu, mengisyaratkan bahwa konflik masih akan berlangsung tanpa kepastian kapan berakhir.
Situasi Kian Tak Menentu
Meski ada dorongan kuat untuk melanjutkan serangan, sejumlah pihak menilai eskalasi lebih lanjut berisiko memicu konflik yang lebih luas di kawasan.
Dengan kepentingan geopolitik, energi, dan keamanan yang saling bertaut, keputusan berikutnya dari Washington akan menjadi penentu arah konflik di Timur Tengah. (jpc)