Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Survei: Hanya 30% Anak Muda Israel Optimis soal Masa Depan 

Editor Satu • Senin, 30 Maret 2026 | 15:50 WIB

Warga berlindung di bunker di Tel Aviv saat sirene serangan berbunyi, mencerminkan tekanan konflik yang turut berdampak pada kondisi psikologis generasi muda Israel.
Warga berlindung di bunker di Tel Aviv saat sirene serangan berbunyi, mencerminkan tekanan konflik yang turut berdampak pada kondisi psikologis generasi muda Israel.

TEL AVIV, METRODAILY – Dampak konflik berkepanjangan di Israel mulai terasa serius pada generasi muda. Survei terbaru yang dilakukan Aluma menunjukkan hanya 30 persen anak muda yang masih optimistis terhadap masa depan mereka.

Temuan ini mencerminkan meningkatnya rasa ketidakpastian di tengah situasi perang dan tekanan sosial-ekonomi yang terus berlangsung.

Sebanyak 57 persen responden menyatakan masa depan mereka penuh ketidakpastian, sementara hanya sebagian kecil yang masih memiliki pandangan positif.

Baca Juga: Sambut HBP, Rutan Kabanjahe Libatkan Warga Binaan Bersih-Bersih Lingkungan

Lebih mengkhawatirkan, hanya 3 persen responden yang merasa pemerintah benar-benar peduli terhadap masa depan generasi muda. Sebaliknya, mayoritas atau 74 persen merasa diabaikan atau tidak mendapat perhatian yang memadai.

Dampak paling nyata terlihat di sektor pendidikan. Sekitar 64 persen responden mengaku rencana akademik mereka terganggu atau terhenti akibat konflik, dengan 45 persen menyebut pendidikan sebagai kekhawatiran utama.

Selain itu, tekanan ekonomi juga meningkat, di mana sekitar seperempat responden mengaku sangat khawatir terhadap kondisi finansial mereka.

Baca Juga: Sambut HBP, Rutan Kabanjahe Libatkan Warga Binaan Bersih-Bersih Lingkungan

Kondisi ini memicu potensi “brain drain”. Sekitar 30 persen anak muda mengaku pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan Israel dalam jangka panjang, bahkan 9 persen di antaranya menyatakan serius merencanakan hal tersebut.

CEO Aluma, Tami Halamish Eisenman, menilai generasi muda saat ini berada pada titik krusial dalam hidup mereka.

“Perang menjebak mereka di fase transisi penting—setelah wajib militer, awal pendidikan, hingga menuju kemandirian,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang serius, krisis ini berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi di masa depan.

Baca Juga: Razia Narkoba di Gunungsitoli, 7 Orang Positif Sabu Diamankan

Survei ini menjadi sinyal kuat bahwa dampak konflik tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga merambah ke aspek psikologis, pendidikan, dan arah masa depan generasi muda Israel. (jpc)

Editor : Editor Satu
#Israel