SANAA/GENEVA, METRODAILY – Kelompok bersenjata Houthi di Yaman menyatakan kesiapan untuk membuka front baru dalam konflik Timur Tengah dengan menargetkan jalur pelayaran strategis di Laut Merah, jika eskalasi terhadap Iran semakin meningkat.
Pernyataan ini disampaikan seorang pejabat Houthi kepada Reuters, yang menegaskan bahwa kelompok tersebut “siap secara militer dengan semua opsi” dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.
Jika intervensi dilakukan, titik paling rentan adalah Selat Bab al-Mandab—jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi akses utama menuju Terusan Suez.
Baca Juga: MBG Dipangkas Jadi 5 Hari, Pemerintah Klaim Bisa Hemat Rp40 Triliun Setahun
Selat ini merupakan salah satu chokepoint terpenting dunia, dilalui pengiriman minyak mentah dan komoditas global dari kawasan Teluk menuju Eropa dan sebaliknya.
Dengan lebar hanya sekitar 29 kilometer di titik tersempit, gangguan kecil saja berpotensi melumpuhkan arus logistik internasional.
“Efek Domino” dari Hormuz ke Laut Merah
Eskalasi ini muncul di tengah situasi di mana Selat Hormuz—jalur vital ekspor energi dunia—disebut-sebut telah terganggu akibat konflik.
Kondisi tersebut membuat ketergantungan pada jalur Laut Merah meningkat tajam. Jika Bab al-Mandab ikut terganggu, maka dunia berpotensi menghadapi “double chokepoint crisis”, yakni dua jalur energi utama global terganggu secara bersamaan.
Baca Juga: Jangan Sampai Gagal! Ini 10 Syarat Wajib Daftar UTBK-SNBT 2026 yang Sering Terlewat
Analis menilai skenario ini bisa memicu lonjakan harga minyak, gangguan rantai pasok, hingga tekanan inflasi global.
Sejumlah diplomat dan analis menyebut Houthi kemungkinan besar akan bergerak terkoordinasi dengan Teheran, menunggu momentum strategis untuk memberikan tekanan maksimal terhadap lawan-lawannya.
Media semi-resmi Iran bahkan menyebut opsi pembukaan front baru di Bab al-Mandab dapat diaktifkan jika wilayah Iran diserang.
“Ketika Iran sangat membutuhkan, mereka akan bergerak,” kata Amr Al-Bidh, anggota senior Dewan Transisi Selatan Yaman.
Baca Juga: 50 Kg Sabu Disita di Perairan Asahan, Poldasu Buru Otak Jaringan Internasional
Rekam Jejak Serangan di Laut Merah
Kelompok Houthi sebelumnya telah menunjukkan kapasitasnya dalam mengganggu pelayaran global. Sejak konflik Gaza pecah pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, mereka melancarkan serangan terhadap kapal-kapal internasional di Laut Merah sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina.
Serangan tersebut sempat berhenti setelah gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada Oktober 2025.
Namun, dengan meningkatnya ketegangan regional, potensi kembalinya serangan kini kembali terbuka lebar.
Jika Bab al-Mandab terganggu, dampaknya tidak hanya regional tetapi global:
- Energi: distribusi minyak dari Teluk ke Eropa terhambat
- Perdagangan: jalur Asia–Eropa via Suez terganggu
- Biaya logistik: melonjak akibat pengalihan rute kapal
- Inflasi global: berpotensi meningkat
Baca Juga: Musim Kemarau Mengancam, Kapolres Asahan Larang Keras Bakar Lahan: Bisa Berujung Sanksi
Situasi ini menempatkan Laut Merah kembali sebagai salah satu titik paling krusial dalam geopolitik global saat ini. (jpc)