Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Trump Hentikan Serangan Energi Iran 10 Hari, Sinyal Damai atau Taktik Perang?

Editor Satu • Jumat, 27 Maret 2026 | 09:20 WIB

Presiden AS Donald Trump memimpin rapat kabinet di Gedung Putih, Washington DC, Kamis (26/3/2026), saat mengumumkan jeda serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Presiden AS Donald Trump memimpin rapat kabinet di Gedung Putih, Washington DC, Kamis (26/3/2026), saat mengumumkan jeda serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

WASHINGTON DC, METRODAILY – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama 10 hari, di tengah klaim bahwa pembicaraan dengan Teheran masih berlangsung.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut jeda serangan itu dilakukan atas permintaan Iran dan akan berlangsung hingga 6 April 2026 pukul 20.00 waktu setempat.

“Kita lihat apakah kita bisa mencapai kesepakatan yang tepat. Kita lihat apakah mereka mau melakukannya,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa operasi militer tetap berjalan di sektor lain.

Klaim Negosiasi, Situasi Masih Abu-abu

Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran “berjalan sangat baik”, namun tidak memberikan rincian terkait tujuan maupun substansi negosiasi tersebut.

Di sisi lain, pernyataan ini bertolak belakang dengan sikap pejabat Iran yang menyebut tidak ada rencana pembicaraan yang realistis saat ini.

Mereka juga menilai proposal perdamaian yang diajukan AS bersifat sepihak dan tidak memenuhi syarat minimum.

Kontradiksi ini memperlihatkan ketidakjelasan arah diplomasi di tengah konflik yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.

AS Klaim Unggul di Medan Perang

Dalam rapat kabinet, Trump menyebut konflik melawan Iran berjalan “lebih cepat dari jadwal” dan bahkan menyebutnya sebagai “penyimpangan kecil”.

Wakil Presiden JD Vance menambahkan bahwa kekuatan militer konvensional Iran telah mengalami kerusakan signifikan.

“Mereka pada dasarnya tidak lagi memiliki angkatan laut atau kemampuan menyerang seperti sebelumnya,” ujar Vance.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengklaim lebih dari 10.000 target Iran telah dihancurkan dalam operasi militer yang disebut “Epic Fury”, termasuk lebih dari 150 kapal angkatan laut.

Baca Juga: Italia vs Irlandia Utara jadi Ujian Mental: Lolos atau Ulangi Mimpi Buruk?

Isu Nuklir Jadi Titik Kunci

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa mencegah Iran memiliki senjata nuklir menjadi prioritas utama.

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, menyebut Iran memiliki sekitar 460 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen—cukup untuk membuat beberapa senjata nuklir jika diproses lebih lanjut.

Namun, laporan sebelumnya menyebut Iran kemungkinan belum akan memiliki senjata nuklir operasional setidaknya dalam dua tahun ke depan.

Proposal Damai dan Ketegangan Berlanjut

AS disebut telah mengajukan proposal 15 poin sebagai kerangka kesepakatan damai yang disampaikan melalui pihak ketiga. Meski demikian, Iran menolak proposal tersebut karena dianggap hanya menguntungkan AS dan Israel.

Meski Trump mengklaim Iran “sangat ingin mencapai kesepakatan”, sinyal di lapangan menunjukkan negosiasi masih jauh dari kata pasti.

Jeda serangan selama 10 hari ini pun dipandang sebagai momen krusial—apakah akan membuka jalan menuju deeskalasi, atau sekadar jeda taktis sebelum konflik kembali memanas. (Jpc)

Editor : Editor Satu
#donald trump #Perang Iran Israel 2026 #serangan as