METRODAILY – Pemerintah Iran menegaskan tidak ada pembicaraan resmi dengan Amerika Serikat terkait upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan langsung Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi yang menepis klaim adanya negosiasi aktif antara kedua negara.
“Pertukaran pesan melalui mediator bukanlah negosiasi,” tegas Araghchi, Rabu (25/3/2026), seperti dilaporkan Reuters.
Teheran juga mengonfirmasi telah meninjau proposal terbaru dari Presiden Donald Trump, namun respons awal dinilai negatif. Seorang pejabat Iran menyebut tawaran tersebut “berlebihan” dan tidak sesuai dengan kepentingan nasional Iran.
Baca Juga: Brimob Polda Sumut Siaga di Terminal Amplas, Awasi Arus Balik dan Cegah Gangguan Keamanan
Proposal yang dikirim melalui Pakistan itu dilaporkan berisi 15 poin utama, termasuk:
- Pembongkaran program nuklir Iran
- Penghentian pengayaan uranium
- Pembatasan program rudal balistik
- Pengamanan jalur strategis seperti Selat Hormuz
Namun Iran menegaskan hanya akan mengakhiri konflik berdasarkan syarat dan waktu yang ditentukan sendiri.
AS Klaim Belum Terima Penolakan Resmi
Di sisi lain, pejabat Washington menyatakan belum menerima penolakan resmi dari Teheran. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan narasi antara kedua pihak, meskipun komunikasi tidak langsung melalui mediator masih berlangsung.
Meski menolak negosiasi langsung, Araghchi menegaskan Iran tidak menginginkan perang dan tetap membuka jalan untuk penyelesaian permanen.
Baca Juga: Trafik Data Melonjak 20% Saat Mudik, Indosat Buktikan Jaringan Tetap Stabil Tanpa Gangguan
Namun posisi ini bersyarat: tidak ada tekanan sepihak, dan kesepakatan harus mengakomodasi kepentingan strategis Iran, termasuk peran sekutunya di kawasan seperti Lebanon.
Ancaman Buka Front Baru
Di tengah kebuntuan diplomasi, Iran juga meningkatkan tekanan militer. Sumber terkait Islamic Revolutionary Guard Corps menyebut kemungkinan pembukaan front baru di kawasan strategis Selat Bab al-Mandab jika terjadi provokasi.
Selat tersebut merupakan jalur vital perdagangan global yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Sementara itu, laporan media menyebut AS tengah mempertimbangkan opsi gencatan senjata sementara selama satu bulan untuk membuka ruang negosiasi lanjutan. Namun tanpa kesediaan Iran untuk duduk di meja perundingan, skenario ini dinilai sulit terealisasi.
Baca Juga: Sidak Hari Pertama Kerja, Wabup Atika Temukan Kehadiran ASN Madina Tembus 100%
Diplomasi Buntu, Risiko Eskalasi Tinggi
Pernyataan tegas Iran memperlihatkan kebuntuan serius dalam upaya diplomasi. Dengan proposal AS ditolak dan ancaman militer meningkat, risiko eskalasi konflik di Timur Tengah tetap tinggi.
Ketidaksinkronan komunikasi antara Washington dan Teheran juga memperkecil peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. (jpc)