Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

David’s Sling Gagal Hadang Rudal Iran? Ini Fakta di Balik Celah Pertahanan Israel

Editor Satu • Kamis, 26 Maret 2026 | 13:05 WIB

Dampak serangan rudal Iran di wilayah selatan Israel usai sistem pertahanan udara gagal melakukan intersepsi secara maksimal.
Dampak serangan rudal Iran di wilayah selatan Israel usai sistem pertahanan udara gagal melakukan intersepsi secara maksimal.

METRODAILY – Sistem pertahanan udara David’s Sling kembali menjadi sorotan setelah sejumlah rudal dari Iran berhasil menembus pertahanan dan menimbulkan korban di wilayah Israel.

Insiden di Dimona dan Arad pada Maret 2026 memicu pertanyaan serius soal efektivitas sistem tersebut dalam menghadapi ancaman rudal balistik.

Meski otoritas Israel mengklaim tingkat keberhasilan intersepsi mencapai sekitar 90 persen, fakta di lapangan menunjukkan adanya celah.

Sedikitnya dua lusin insiden dilaporkan menyebabkan korban luka hingga tewas akibat kegagalan pencegatan selama konflik berlangsung.

Baca Juga: Kapal Karam di Pulau Salah Namo, 64 Penumpang Dievakuasi Selamat Dini Hari

Salah Sistem, Salah Strategi?

Secara teknis, David’s Sling dirancang untuk menghadapi ancaman jarak menengah seperti rudal jelajah dan drone kompleks, bukan rudal balistik jarak jauh. Ancaman jenis ini seharusnya ditangani oleh sistem lain seperti Arrow atau THAAD.

Namun dalam praktiknya, Israel mulai menggunakan David’s Sling untuk menghadapi rudal balistik sejak 2025.

Keputusan ini diduga dipengaruhi faktor biaya dan keterbatasan stok, mengingat pencegat Arrow jauh lebih mahal dan membutuhkan waktu produksi hingga 2–3 tahun.

Sejumlah analis militer menyebut kegagalan intersepsi bisa dipicu oleh beberapa faktor krusial:

  • Kesalahan pemilihan sistem: keputusan cepat di lapangan menentukan jenis pencegat yang digunakan.
  • Gangguan teknis: mulai dari radar, sistem pelacakan, hingga konektivitas antarsistem.
  • Faktor probabilitas: tidak ada sistem pertahanan yang 100 persen kedap.

Baca Juga: Arus Balik Dijaga Ketat, Kapolres Tanjungbalai Sidak Pos Pam hingga Stasiun KA

Selain itu, David’s Sling beroperasi pada ketinggian lebih rendah dibanding Arrow, sehingga meningkatkan risiko pecahan rudal jatuh ke wilayah permukiman.

Ancaman Baru: Amunisi Tandan

Kompleksitas meningkat karena Iran dilaporkan menggunakan amunisi tandan dalam rudalnya. Jenis ini menyebarkan puluhan sub-bom ke area luas, sehingga memperbesar dampak meski sebagian berhasil dicegat.

Hal ini memperlihatkan bahwa sistem pertahanan Israel belum sepenuhnya dioptimalkan untuk menghadapi kombinasi ancaman baru, terutama ketika rudal balistik dan amunisi tandan digunakan bersamaan.

Kondisi ini memunculkan dua pertanyaan besar:

  1. Mengapa produksi sistem Arrow tidak dipercepat?
  2. Mengapa kesiapan menghadapi amunisi tandan dinilai masih terbatas?

Baca Juga: Tradisi 67 Tahun HAGAF Labura Makin Semarak, Seni Bordah Akhirnya Dipertandingkan

Sejumlah sumber menyebut, Israel sebenarnya masih memiliki waktu 6–12 bulan untuk memperkuat sistem sebelum eskalasi penuh. Namun dinamika geopolitik, termasuk keterlibatan Amerika Serikat, diduga mempercepat keputusan operasi militer.

Kesimpulan: Canggih, Tapi Tidak Kebal

Terlepas dari reputasinya sebagai salah satu sistem pertahanan udara paling maju di dunia, David’s Sling tetap memiliki keterbatasan. Kombinasi tekanan operasional, keterbatasan logistik, dan evolusi ancaman membuat sistem ini tidak selalu mampu memberikan perlindungan maksimal.

Setiap kegagalan intersepsi tidak hanya menjadi isu teknis, tetapi juga berimplikasi langsung pada keselamatan warga sipil—yang pada akhirnya menjadi tolok ukur utama keberhasilan sistem pertahanan. (jpc)

Editor : Editor Satu
#Davids Sling #rudal iran #pertahanan israel