Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Trump Ultimatum Iran: Buka Selat Hormuz 48 Jam atau Pembangkit Listrik Dihancurkan

Editor Satu • Minggu, 22 Maret 2026 | 12:03 WIB

Presiden AS Donald Trump berbicara kepada media di Gedung Putih, Washington, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran soal Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada media di Gedung Putih, Washington, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran soal Selat Hormuz.

WASHINGTON, METRODAILY – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran terkait ketegangan di Selat Hormuz.

Trump memberi ultimatum 48 jam agar jalur pelayaran vital itu dibuka sepenuhnya, atau menghadapi serangan militer.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Sabtu (21/3/2026) malam waktu setempat.

“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka,” tulis Trump.

Ia menegaskan, target serangan akan dimulai dari fasilitas energi terbesar milik Iran.

Ketegangan Memuncak di Jalur Minyak Dunia

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas cair global. Gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada pasar energi dunia.

Sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran meningkat, Teheran dilaporkan membatasi lalu lintas kapal, terutama yang dianggap terkait dengan negara lawan.

Sebagai respons, militer AS dan sekutunya meningkatkan operasi di kawasan tersebut.

Sejumlah laporan menyebut penggunaan jet tempur terbang rendah dan helikopter Apache untuk mengamankan jalur pelayaran dan mencegat drone Iran.

Iran Siapkan Opsi Biaya Transit

Di tengah eskalasi, Iran juga mempertimbangkan langkah ekonomi dengan mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Seorang anggota parlemen Iran, dikutip kantor berita lokal, menyebut rancangan undang-undang tengah disiapkan untuk mewajibkan negara pengguna jalur tersebut membayar bea atas pelayaran, energi, dan distribusi logistik.

Langkah ini dinilai sebagai upaya Teheran memanfaatkan posisi strategisnya di tengah konflik yang terus memanas.

Sinyal Diplomasi dari Jepang

Di sisi lain, laporan media Jepang menyebut Iran membuka peluang kompromi terbatas. Kyodo News melaporkan Teheran siap mengizinkan kapal yang terkait dengan Jepang melintas.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dikabarkan telah menjalin komunikasi dengan Tokyo terkait pembukaan jalur tersebut, meski belum ada keputusan final.

Ultimatum Trump menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang berpotensi meluas, tidak hanya secara militer tetapi juga ekonomi global, terutama sektor energi dan perdagangan laut.

Jika ancaman tersebut direalisasikan, dampaknya diperkirakan akan memicu lonjakan harga minyak dan memperburuk ketidakstabilan kawasan Timur Tengah. (Jpc)

 

Editor : Editor Satu
#selat hormuz #donald trump