WASHINGTON, METRODAILY — Pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan pengerahan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah, seiring eskalasi konflik dengan Iran yang memasuki fase baru.
Langkah ini disebut sebagai upaya memperluas opsi militer Amerika Serikat dalam menghadapi dinamika perang yang kini memasuki minggu ketiga sejak dimulai pada akhir Februari 2026.
Sejumlah pejabat AS menyebutkan, pengerahan pasukan tersebut bertujuan memperkuat operasi yang sudah berjalan, sekaligus memberi fleksibilitas bagi Gedung Putih dalam menentukan langkah lanjutan.
Salah satu opsi utama yang dipertimbangkan adalah mengamankan jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi global.
Operasi ini diproyeksikan melibatkan kekuatan udara dan laut, namun tidak menutup kemungkinan pengerahan pasukan darat di wilayah pesisir Iran.
Selain itu, pemerintah AS juga membahas skenario pengiriman pasukan ke Pulau Kharg, yang menjadi pusat sekitar 90 persen ekspor minyak Iran.
Meski dinilai strategis, operasi ini berisiko tinggi karena pulau tersebut berada dalam jangkauan rudal dan drone Iran.
Di sisi lain, opsi pengamanan cadangan uranium yang diperkaya milik Iran juga masuk dalam pertimbangan.
Namun, para analis militer menilai misi tersebut sangat kompleks dan berbahaya, bahkan bagi pasukan elit sekalipun.
Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan belum ada keputusan final terkait pengerahan pasukan darat.
“Presiden masih mempertimbangkan semua opsi yang tersedia,” ujarnya.
Baca Juga: BULOG Asahan Salurkan Bantuan Pangan 2026: 20 Kg Beras dan 4 Liter Minyak per Keluarga
Dalam pernyataan resmi, Trump menegaskan tujuan operasi militer AS mencakup penghancuran kemampuan rudal balistik Iran, melemahkan kekuatan angkatan lautnya, serta memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir.
Sejak konflik dimulai, militer AS telah melancarkan lebih dari 7.800 serangan dan menghancurkan atau merusak lebih dari 120 kapal Iran, menurut data US Central Command.
Namun, eskalasi ini juga menimbulkan risiko besar. Hingga kini, sedikitnya 13 tentara AS dilaporkan tewas dan sekitar 200 lainnya mengalami luka-luka.
Rencana pengerahan pasukan darat juga berpotensi memicu tekanan politik domestik bagi Trump, mengingat rendahnya dukungan publik terhadap keterlibatan militer baru di Timur Tengah.
Meski demikian, Gedung Putih menegaskan seluruh opsi tetap terbuka, termasuk kemungkinan kehadiran “boots on the ground” jika situasi mengharuskan. (Jpc)
Editor : Admin Metro Daily