JAKARTA, METRODAILY – Harapan hidup sejahtera di negeri orang berakhir tragis bagi pekerja migran Indonesia di Kamboja.
Banyak yang berangkat sehat dan bersemangat, namun pulang tinggal nama—ada yang meninggal, bahkan ada yang kembali cacat akibat penyiksaan.
Fenomena ini diungkapkan Miss Yuni dalam podcast bersama Arie Untung. Ia menyoroti tren “demam Kamboja” yang kerap menjerat anak muda melalui media sosial.
Tawaran pekerjaan dengan gaji USD, fasilitas AC, uang makan, lembur, hingga tempat tinggal nyaman membuat banyak pemuda tergiur.
Baca Juga: Ijeck vs Hendri Yanto, Siapa Bakal Kuasai Golkar Sumut di Musda Mendatang?
“Dalam pikiran anak muda, semua itu terlihat keren dan cepat membuat mereka bisa flexing,” ujar Yuni.
Ia menambahkan, meski awalnya pekerja menikmati fasilitas mewah, seperti hotel dan transportasi mewah, kabar mereka sering tiba-tiba hilang.
Keluarga kemudian menerima telepon untuk menebus anak-anaknya. Beberapa korban dipukul, disetrum, bahkan disiksa hingga meninggal dunia.
Fakta lapangan menunjukkan, perekrutan tenaga kerja ke Kamboja kerap menggunakan visa turis tanpa adanya MoU resmi antara Indonesia dan Kamboja.
Baca Juga: Patroli Presisi Polres Asahan, Samapta Temukan 10 Gram Lebih Sabu di Jalan Rawan
Konjen RI di Kamboja terus mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penipuan lowongan kerja di media sosial.
“Sangat banyak iklan viral di TikTok atau Facebook yang menjerat anak-anak muda kita. Mereka terbuai janji manis, padahal pekerjaan yang dijanjikan tidak jelas,” tambah Yuni.
Yuni sendiri kerap terlibat dalam pemulangan jenazah korban dan menggunakan dana pribadi untuk menolong pekerja yang terjebak.
Namun tragisnya, beberapa korban yang pernah diselamatkan justru kembali ke Kamboja karena konflik rumah tangga, kesulitan ekonomi, atau godaan gaya hidup di negeri orang.
Baca Juga: Festival Marching Band se-Labuhanbatu Raya Digelar Meriah, Wabup Jamri Buka Acara
Dari sisi hukum, sebagian besar kasus ini masuk kategori Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), tetapi tidak semua korban diakui sebagai korban resmi TPPO. “Saya melihat sendiri mereka disiksa, ada yang pulang tanpa tangan, tanpa jari, atau sudah meninggal,” pungkas Yuni. (jp)
Editor : Editor Satu