Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Hizbullah Nyaris Bangkrut Usai Perang Iran-Israel, Dana Bantuan Terhenti

Editor Satu • Rabu, 2 Juli 2025 | 15:06 WIB
Unjuk rasa pro-Iran di Beirut, Lebanon.
Unjuk rasa pro-Iran di Beirut, Lebanon.

BEIRUT, METRODAILY – Kelompok Hizbullah mengalami kemerosotan keuangan besar-besaran usai perang berdarah antara Iran dan Israel, memicu krisis pendanaan terburuk dalam beberapa dekade terakhir.

Warga di basis-basis utama Hizbullah di Lebanon mulai mengeluhkan terhentinya bantuan dan proyek rekonstruksi, dengan jawaban menyedihkan dari para petugas: "Tidak ada pendanaan, tunggu saja."

Kondisi ini diperparah oleh terbunuhnya sejumlah pejabat tinggi Pasukan Quds Iran, termasuk Saeed Izadi alias Hajj Ramadan, yang selama ini dikenal sebagai "arsitek" utama pendanaan rahasia Iran ke Hizbullah dan Hamas.

Baca Juga: Sinode Bolon Ke-46 Resmi Dibuka Ephorus GKPSIzadi tewas hanya dua hari setelah mendarat di Lebanon, dalam serangan udara yang diyakini dilakukan Israel di Iran.

Menurut laporan berbagai media Timur Tengah seperti Al Hadath dan Asharq Al-Awsat, Hizbullah kini kesulitan menggaji pasukan, menghidupkan jaringan bantuan sosial, hingga mendatangkan senjata baru.

Kondisi ini membuat posisi Hizbullah rentan di dalam negeri, apalagi di tengah gelombang kemarahan warga yang terdampak perang.

"Pekerjaan rekonstruksi di gedung kami dihentikan. Semua permintaan dijawab dengan: 'Tidak ada dana. Tunggu saja,'" kata seorang warga Dahieh, markas utama Hizbullah di Beirut, yang hancur dalam serangan Israel.

Baca Juga: Iran Akui Situs Nuklir Fordow Lumpuh Total Usai Serangan Udara AS-Israel

Krisis ini semakin dalam karena lembaga keuangan bayangan Hizbullah seperti Al-Qard al-Hasan juga ikut diserang dan dibekukan, bahkan sebelum perang pecah.

Ketergantungan Hizbullah pada dana Iran membuat kelompok ini terjerembab saat Teheran juga dililit sanksi berat dan tekanan militer dari AS dan sekutunya.

Sejumlah tokoh penting lainnya yang juga tewas dalam operasi militer gabungan antara Israel dan AS antara lain:

Baca Juga: Bupati Asahan Hadiri Syukuran HUT Bhayangkara: Jadikan Titik Awal Inovasi

Laporan media Lebanon menggambarkan kondisi saat ini sebagai "runtuhnya sistem pendanaan yang menjadi tulang punggung kekuatan Hizbullah."

Beberapa analis menyebut ini sebagai momen paling genting dalam sejarah Hizbullah, yang kini kehilangan kekuatan tempur, pengaruh publik, dan kestabilan ekonomi internal secara bersamaan.

Dengan jaringan keuangan yang terputus, tekanan internasional meningkat, dan rakyat mulai berontak, Hizbullah kini berada di ujung tanduk—dan dunia menunggu, apa langkah mereka selanjutnya? (ynetnews)

Editor : Editor Satu
#kelompok hizbullah