TEHERAN, METRODAILY– Pemerintah Iran akhirnya mengonfirmasi kerusakan parah di situs nuklir Fordow akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel, yang disebut-sebut sebagai bagian dari operasi besar terhadap infrastruktur nuklir Iran.
Dalam pernyataan resminya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kerusakan di fasilitas pengayaan uranium Fordow sebagai “serius dan berat”, dan menyatakan bahwa situs tersebut kini tidak lagi beroperasi.
“Kami belum dapat memastikan secara pasti kondisi terbaru situs Fordow. Para ahli masih menilai apakah fasilitas ini dapat dipulihkan atau harus ditutup permanen,” ujar Araghchi kepada Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA), Rabu (2/7/2025).
Baca Juga: Bupati Asahan Hadiri Syukuran HUT Bhayangkara: Jadikan Titik Awal Inovasi
Serangan ini dilaporkan juga berdampak pada dua lokasi nuklir strategis lainnya di Isfahan dan Natanz.
Meski belum ada gambar atau laporan teknis resmi dari Iran, pihak AS mengklaim Fordow “hancur total”, menambah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Fordow adalah salah satu fasilitas paling sensitif dan terlindungi di Iran, yang dibangun di bawah tanah di dekat kota suci Qom, dan dikenal karena sistem sentrifugal canggihnya dalam pengayaan uranium. Fasilitas ini juga sempat menjadi sorotan tajam negara-negara Barat dalam isu senjata nuklir.
Baca Juga: Buka Pesta Seni Medan 2025, Wali Kota Rico Waas: Kesenian adalah Roh Kota Ini
Hingga saat ini, militer Iran belum memberikan pernyataan, namun konfirmasi dari Kementerian Luar Negeri cukup untuk memicu kekhawatiran global atas dampak serangan ini terhadap stabilitas kawasan dan proses diplomasi nuklir yang tengah buntu.
Para analis memperingatkan bahwa serangan terhadap Fordow bisa memicu efek domino dalam hubungan diplomatik dan keamanan regional, terutama jika Iran memutuskan untuk melakukan balasan militer atau mempercepat program nuklirnya. (khaama)
Editor : Editor Satu