TEL AVIV, MEYRODAILY — Sebuah teori mengejutkan dari pakar teknologi menyebut bahwa sejumlah rudal Iran yang ditembakkan ke Israel kemungkinan telah dihack (diretas) saat masih berada di udara, sehingga akhirnya jatuh ke Laut Mediterania.
Teori ini muncul di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Israel yang berlangsung sengit dalam beberapa pekan terakhir.
Israel meluncurkan serangan pada 13 Juni 2025 dengan dalih bahwa Iran berada di ambang pengembangan senjata nuklir. Iran pun membalas dengan meluncurkan serangkaian rudal ke wilayah Israel.
Namun, sejumlah rudal Iran justru terlihat kehilangan arah dan jatuh ke laut tanpa mengenai sasaran.
Seorang pakar teknologi mengklaim bahwa ini mungkin bukan kegagalan teknis, melainkan hasil dari peretasan sistem navigasi rudal oleh pihak Israel atau sekutunya.
"Ini adalah teknik eksotik, namun bukan mustahil. Jika sistem navigasi rudal Iran menggunakan teknologi berbasis GPS atau sistem koordinat digital lainnya, maka ada kemungkinan untuk mengintervensi jalur rudal tersebut dengan spoofing atau jamming," ujar pakar tersebut, yang tidak disebutkan namanya dalam laporan media.
Teori ini semakin menguat setelah sejumlah pihak mempertanyakan mengapa rudal yang diluncurkan tidak menyebabkan kerusakan besar seperti yang dikhawatirkan sebelumnya.
Sementara itu, meski kedua negara telah menyetujui gencatan senjata pada Selasa pagi, 24 Juni 2025, insiden pelanggaran terus terjadi.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menuduh Iran tetap meluncurkan rudal beberapa jam setelah gencatan senjata diumumkan.
"Iran telah melanggar kesepakatan. Kami tidak akan tinggal diam. Saya telah memerintahkan pasukan untuk merespons dengan serangan intensif ke jantung kekuasaan rezim di Teheran," tegas Katz.
Gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada pukul 05.00 GMT menetapkan waktu berbeda bagi kedua negara untuk menghentikan serangan.
Iran diminta menghentikan pertempuran segera, sedangkan Israel baru mulai menghentikan aksi militer pada pukul 07.10 waktu Inggris.
Ketegangan antara kedua negara masih tinggi, dan dugaan peretasan rudal ini menambah dimensi baru dalam peperangan modern — di mana teknologi dan siber kini memainkan peran yang sama pentingnya dengan senjata fisik. (Mirror)
Editor : Editor Satu