Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Gempa Dahsyat Myanmar Akibat Aktivitas Patahan Sagaing

Editor Satu • Sabtu, 29 Maret 2025 | 12:53 WIB

 

Gempa Myanmar-Thailand.
Gempa Myanmar-Thailand.

MYANMAR, METRODAILY – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3/2025), menewaskan setidaknya 144 orang dan melukai lebih dari 700 lainnya. Guncangan juga terasa hingga Thailand dan China.

Para ahli mengungkap bahwa gempa ini disebabkan oleh pergerakan Patahan Sagaing, salah satu sesar aktif di Asia Tenggara yang merupakan akibat dari tumbukan Lempeng India dan Eurasia.

Menurut laporan United States Geological Survey (USGS), gempa terjadi pada pukul 12:50 waktu setempat dengan kedalaman hanya 10 kilometer.

Kedangkalan pusat gempa ini menyebabkan dampak yang luas, termasuk bangunan yang roboh di Mandalay dan sekitarnya.

Tak lama setelah gempa utama, terjadi gempa susulan berkekuatan M6,7 dan sembilan gempa lainnya dengan magnitudo antara 4,4 hingga 4,9.

Patahan Sagaing merupakan sesar geser aktif yang membentang sepanjang hampir 1.000 kilometer dari utara ke selatan Myanmar hingga ke Laut Andaman.

Sesar ini memiliki karakteristik serupa dengan Patahan San Andreas di California, di mana dua blok kerak bumi bergerak secara horizontal satu sama lain.

Aktivitas tektonik ini berhubungan erat dengan pergerakan Lempeng India yang terus bergerak ke arah utara, menekan Lempeng Eurasia dan membentuk zona tektonik yang sangat aktif.

Profesor Geofisika Stanford University, Gregory Beroza, menjelaskan bahwa gempa sebesar ini wajar terjadi di wilayah tersebut karena energi tektonik yang terus terakumulasi akibat tumbukan dua lempeng besar.

“Ini adalah gempa yang sangat besar. Pergerakan horizontal yang terjadi bisa mencapai beberapa meter,” ujarnya.

Karena intensitas gempa yang besar dan lokasinya di sesar aktif, para ahli memperingatkan potensi gempa susulan yang bisa memperparah kerusakan.

Perbandingan dilakukan dengan gempa dahsyat di Turki pada 2023 yang juga terjadi di sesar geser dangkal dan menyebabkan kehancuran masif.

Ben van der Pluijm, profesor emeritus geologi dari University of Michigan, menambahkan bahwa tekanan yang dihasilkan dari tumbukan lempeng ini telah terjadi selama puluhan juta tahun.

“Lempeng India telah bergerak ke utara selama 100 juta tahun, dan sekitar 40 juta tahun lalu bertemu dengan Lempeng Eurasia, menyebabkan tekanan besar yang dilepaskan dalam bentuk gempa,” jelasnya.

Sebagai negara yang berada di zona seismik aktif, Myanmar memiliki sejarah panjang gempa besar.

Sejak 1900, kawasan ini telah mengalami enam gempa bermagnitudo 7 atau lebih besar dalam radius 250 km dari pusat gempa terbaru.

Salah satu yang paling dahsyat adalah gempa M7,9 pada 1912 yang melanda wilayah selatan episentrum gempa saat ini.

Gempa kali ini tidak hanya menewaskan ratusan orang tetapi juga merusak infrastruktur penting, termasuk bangunan, jalan, dan fasilitas umum.

Di Bangkok, Thailand, setidaknya 10 orang tewas akibat robohnya gedung bertingkat yang tengah dalam pembangunan, sementara lebih dari 100 orang dilaporkan hilang.

Pemerintah Myanmar dan organisasi kemanusiaan kini fokus pada pencarian korban serta pemulihan wilayah terdampak.

Ahli seismologi mengimbau peningkatan kesiapsiagaan di wilayah dengan potensi gempa tinggi, termasuk penguatan struktur bangunan dan peringatan dini bagi masyarakat.

Dengan aktivitas tektonik yang terus berlangsung, Myanmar dan kawasan sekitarnya diperkirakan akan terus menghadapi risiko gempa besar di masa mendatang.

Mitigasi bencana menjadi langkah utama untuk mengurangi dampak dari fenomena alam ini. (Bbs/net)

Editor : Editor Satu
#Gempa Myanmar