METRODAILY – Gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3), menewaskan sedikitnya 144 orang dan melukai lebih dari 700 lainnya.
Gempa dahsyat yang berpusat di dekat Mandalay ini menyebabkan kehancuran besar, merobohkan gedung-gedung bertingkat, merusak infrastruktur, dan bahkan berdampak hingga ke Thailand.
Banyak korban ditemukan di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar yang mengalami kerusakan paling parah.
Seorang petugas penyelamat di Amarapura, bagian dari Mandalay, mengatakan sekitar 30 jenazah telah dievakuasi dari reruntuhan apartemen bertingkat.
“Kota kami tampak seperti kota yang runtuh. Banyak yang masih terjebak di bawah puing-puing, tapi kami kekurangan tenaga dan alat berat untuk mengevakuasi mereka,” ujarnya.
Pemimpin junta Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, memperingatkan bahwa jumlah korban kemungkinan masih akan bertambah dan mengundang negara lain untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pemerintahannya siap mengirimkan bantuan.
“Kami akan membantu,” ujarnya kepada wartawan di Gedung Putih. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, menambahkan bahwa tim tanggap bencana USAID telah bersiap dengan pasokan makanan dan air bersih.
PBB juga telah memobilisasi timnya di Asia Tenggara untuk memberikan bantuan. Sementara itu, kelompok oposisi Myanmar, National Unity Government (NUG), menyatakan bahwa pasukan perlawanan sipil akan ikut membantu upaya kemanusiaan.
Baca Juga: Gubsu Bobby Sidak Kapal di Danau Toba, Temukan Kendala Perizinan
Kota Mandalay Porak Poranda
Gempa ini mengakibatkan kehancuran luas di Myanmar. Gedung-gedung, jembatan, dan jalan mengalami kerusakan parah, termasuk biara Phaya Taung di Mandalay, tempat puluhan biksu dikabarkan masih terjebak.
Sebuah rumah sakit di ibu kota Naypyidaw mengalami kerusakan, sementara jalan-jalan utama mengalami retakan besar.
Di Pyinmana, dekat Naypyidaw, tim penyelamat melaporkan telah menemukan sedikitnya 60 jenazah dari reruntuhan biara dan bangunan.
Kerusakan juga meluas hingga ke Thailand, di mana sembilan orang dilaporkan tewas akibat runtuhnya gedung pencakar langit di Bangkok.
Tim penyelamat masih mencari lebih dari 100 orang yang dilaporkan hilang.
Myanmar saat ini menghadapi tantangan besar dalam menanggapi bencana ini. Negara tersebut masih terjebak dalam konflik antara militer dan kelompok perlawanan sejak kudeta 2021, yang mengakibatkan lebih dari tiga juta orang mengungsi dan memperburuk kondisi ekonomi serta layanan publik.
Gempa ini menambah beban bagi pemerintah junta yang sudah kewalahan menangani krisis kemanusiaan.
Amnesty International menyatakan bahwa Myanmar tidak siap menghadapi bencana ini karena runtuhnya sistem sosial dan ekonomi akibat konflik berkepanjangan.
Myanmar terletak di zona aktif gempa, dan negara ini kerap mengalami bencana serupa. Namun, dengan infrastruktur yang rapuh dan akses bantuan yang terbatas, pemulihan kali ini diperkirakan akan berlangsung lama dan penuh tantangan. (Bbs)
Editor : Editor Satu