METRODAILY - Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang idealnya dilakukan oleh setiap Muslim yang mampu, setidaknya sekali seumur hidup. Di Arab Saudi, negara yang menjadi pusat ibadah haji, ada banyak hal menarik terkait pelaksanaan haji, terutama bagi penduduk lokal.
Berikut ini adalah beberapa informasi tentang hajian di Arab Saudi, seperti dikutip MetroDaily dari akun Facebook Prof. Sumanto Al Qurtuby, warga Indonesia yang menjadi dosen pengajar di sebuah universitas di Arab Saudi.
Apakah Semua Warga Saudi Pernah Berhaji?
Tidak semua warga Saudi pernah menunaikan ibadah haji. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal ini. Beberapa warga Saudi belum mampu secara finansial, sementara yang lain mungkin menunda-nunda dengan berbagai alasan seperti cuaca yang panas atau keramaian. Banyak murid di Saudi yang belum berhaji karena alasan keuangan dan mereka tidak ingin bergantung pada orang tua untuk biaya hajian. Selain itu, haji tidak wajib bagi mereka yang tidak mampu secara finansial.
Kemana Biasanya Warga Saudi Saat Musim Haji?
Musim haji adalah periode liburan nasional yang cukup panjang di Arab Saudi, sekitar dua minggu. Warga Saudi biasanya memanfaatkan waktu ini untuk berlibur, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Ada juga yang memanfaatkan waktu ini untuk reuni keluarga. Selain itu, banyak anak muda, terutama mahasiswa, yang menjadi sukarelawan untuk membantu para jamaah haji. Beberapa warga juga memanfaatkan musim haji untuk bisnis, seperti membuka restoran atau menyediakan penginapan.
Biaya Haji untuk Penduduk Saudi
Meskipun mereka tinggal di negara tempat ibadah haji dilaksanakan, penduduk Saudi tetap dikenakan biaya untuk berhaji. Biayanya bervariasi tergantung pada paket yang dipilih, mulai dari SR 4-5 ribu (sekitar 17-18 juta rupiah) hingga SR 25 ribu (sekitar 107 juta rupiah). Prinsip dagang berlaku di sini: semakin mahal paket yang dipilih, semakin baik fasilitas yang didapatkan. Paket yang lebih murah biasanya berarti fasilitas yang lebih sederhana.
Proses dan Pengelolaan Haji
Dulu, biro-biro haji dan umroh mengurus proses hajian dan pembayaran secara manual. Namun, beberapa tahun terakhir, pemerintah Saudi telah membekukan biro-biro ini dan memindahkan semua proses pendaftaran dan pembayaran haji secara online. Pemerintah mengumumkan jadwal pendaftaran haji, dan penduduk harus siap mendaftar secara online. Pembukaan pendaftaran biasanya dimulai dari harga termurah hingga yang termahal.
Frekuensi Berhaji untuk Penduduk Saudi
Penduduk Saudi bisa berhaji lebih dari sekali, tetapi mereka harus menunggu lima tahun sebelum bisa berhaji lagi. Prioritas diberikan kepada mereka yang belum pernah berhaji.
Sistem Kuota Haji untuk Penduduk Saudi
Arab Saudi menerapkan sistem kuota untuk hajian. Hal ini penting untuk mengatur jumlah jamaah dan memastikan kelancaran pelaksanaan haji, serta memberikan kesempatan yang adil bagi warga non-Saudi untuk berhaji.
Kontribusi Dana Haji terhadap Pendapatan Negara
Dana haji memang membantu pendapatan negara, tetapi kontribusinya hanya sekitar 8-10 persen dari total anggaran pemerintah. Sumber pendapatan utama negara tetap berasal dari minyak, gas, dan sektor lainnya.
Perempuan Berhaji Sendiri
Saat ini, perempuan di Saudi Arabia boleh menunaikan ibadah haji tanpa didampingi keluarga laki-laki. Ini adalah perubahan dari aturan sebelumnya yang mengharuskan perempuan ditemani oleh mahram (keluarga laki-laki).
Gelar Haji/Hajjah untuk Penduduk Saudi
Berbeda dengan kebiasaan di Indonesia dan Malaysia, penduduk Saudi tidak menggunakan gelar "Haji" atau "Hajah" setelah menunaikan ibadah haji. Gelar ini lebih populer di kalangan masyarakat Indonesia dan Malaysia sebagai tanda kehormatan.
Dengan demikian, meskipun Arab Saudi adalah pusat ibadah haji, banyak penduduk lokal yang belum menunaikan haji karena berbagai alasan. Namun, sistem yang ada di Saudi Arabia memastikan bahwa ibadah haji dapat dilaksanakan dengan tertib dan teratur, baik oleh penduduk lokal maupun jamaah internasional. (Saq)
Editor : Admin Metro Daily