TAPTENG, METRODAILY – Marhamadan Tanjung, wartawan wartapembaharuan.co.id, dan Erik Pasaribu, seorang aktivis lingkungan, menjadi korban dugaan penganiayaan oleh lima ajudan Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu di depan rumah dinas bupati.
Kedua korban kini menjalani perawatan intensif di RSU Ferdinand Lumban Tobing Sibolga, Senin (2/2/2026).
Sebelumnya, Marhamadan dan Erik telah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Tapteng, setelah awalnya diarahkan ke Polsek Pandan.
Mereka menjalani Visum Et Repertum di RSU Pandan, namun proses pemeriksaan dinilai janggal. Marhamadan hanya diperiksa rontgen, sementara Erik diminta menjalani pemeriksaan urine tanpa rontgen.
Baca Juga: Polres Tapteng Gelar Operasi Keselamatan Toba 2026, Fokus Jelang Idulfitri
“Dokter forensik RS Pandan tidak melakukan rontgen terhadap Erik, malah disuruh menampung urine untuk tes. Meski janggal, Erik tetap memberikan urinenya,” ujar David Butar-butar, warga yang mendampingi kedua korban.
Akibat hal itu, kedua korban kemudian diperiksa di RSU FL Tobing. Saat tiba, Erik sempat muntah-muntah, diduga karena pukulan keras yang diterimanya.
Dari hasil rontgen RSU Pandan yang dibacakan di RSU FL Tobing, ditemukan pergeseran tulang pada lengan Marhamadan, sehingga keduanya diputuskan untuk dirawat inap.
Baca Juga: Pria di Tapteng Diduga Gelapkan Motor Kerabat, Polisi Amankan Pelaku
Hingga hari keempat perawatan, Marhamadan dan Erik masih menjalani perawatan medis. Rencananya, setelah kondisi membaik, mereka akan diperiksa sebagai pelapor atas dugaan penganiayaan tersebut.
Kasus ini memicu dukungan luas dari masyarakat dan wartawan yang menolak tindakan kekerasan terhadap pekerja media dan aktivis lingkungan.
Sebagai bentuk solidaritas, sejumlah wartawan di Sibolga-Tapteng berencana menggelar aksi mendesak Bupati Masinton Pasaribu mengungkap pelaku penganiayaan pada perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2026. (ts)
Editor : Editor Satu