Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Anak Indonesia Direkrut Teroris Lewat Game Online dan Medsos, Polri Ungkap 110 Korban

Editor Satu • Rabu, 19 November 2025 | 11:30 WIB

Brigjen (Pol) Trunoyudo Wisnu Andiko memaparkan pengungkapan jaringan perekrut anak untuk kelompok teroris melalui game online dan media sosial, Selasa (18/11).
Brigjen (Pol) Trunoyudo Wisnu Andiko memaparkan pengungkapan jaringan perekrut anak untuk kelompok teroris melalui game online dan media sosial, Selasa (18/11).

JAKARTA, METRODAILY – Polri mengungkap praktik mengejutkan perekrutan anak-anak dan pelajar ke jaringan teroris melalui game online, media sosial, hingga aplikasi pesan instan. Sedikitnya 110 anak usia 10–18 tahun telah menjadi korban jaringan ini.

Karopenmas Polri Brigjen (Pol) Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan pola rekrutmen kini memanfaatkan ruang digital yang dekat dengan anak-anak.

“Modus rekrutmen anak dan pelajar dengan memanfaatkan ruang digital, termasuk media sosial, game online, aplikasi pesan instan, dan situs-situs tertutup,” ujar Trunoyudo dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (18/11).

Trunoyudo menjelaskan, propaganda kelompok teror disebar secara bertahap.
Pada fase awal, mereka menyusup lewat platform Facebook, Instagram, dan game online. Ketika menemukan target yang dianggap potensial, mereka mengalihkan komunikasi ke kanal tertutup seperti WhatsApp dan Telegram.

Baca Juga: Hati-hati! J&T Express Ingatkan Warga Pakai 3C agar Terhindar dari Penipuan Online

“Propaganda didiseminasi menggunakan video pendek, animasi, meme, serta musik yang dikemas menarik untuk membangun kedekatan emosional dan memicu ketertarikan ideologis,” jelasnya.

Anak Rentan: Korban Bullying hingga Broken Home

Asesmen Densus 88 menemukan sejumlah faktor yang membuat anak rentan direkrut, di antaranya:

Situasi ini dimanfaatkan perekrut untuk membangun relasi emosional dan menyuntikkan ideologi radikal.

Baca Juga: TPP ASN Pemkab Simalungun Bakal Dipotong Hingga 22,5 Persen pada 2026

Lima Perekrut Ditangkap di Berbagai Daerah

Polri telah menangkap lima tersangka yang diduga menjadi pengendali komunikasi dan perekrut anak-anak tersebut.

“Atas peranannya, mereka merekrut dan memengaruhi anak-anak supaya menjadi radikal, bergabung dengan kelompok terorisme, dan melakukan aksi teror,” ujar Trunoyudo.

Baca Juga: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Sumut, Hujan Lebat Berpotensi Pekan Ini

110 Anak di 23 Provinsi Terpapar

Densus 88 mencatat sedikitnya 110 anak menjadi korban rekrutmen jaringan tersebut. Mereka tersebar di 23 provinsi, dengan rentang usia 10 hingga 18 tahun.

Polri menyebut investigasi masih berjalan, termasuk pemulihan psikologis terhadap anak-anak yang berhasil diidentifikasi. (net)

Editor : Editor Satu
#game online #teroris rekrut anak-anak