JAKARTA, METRODAILY – Polri mengungkap praktik mengejutkan perekrutan anak-anak dan pelajar ke jaringan teroris melalui game online, media sosial, hingga aplikasi pesan instan. Sedikitnya 110 anak usia 10–18 tahun telah menjadi korban jaringan ini.
Karopenmas Polri Brigjen (Pol) Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan pola rekrutmen kini memanfaatkan ruang digital yang dekat dengan anak-anak.
“Modus rekrutmen anak dan pelajar dengan memanfaatkan ruang digital, termasuk media sosial, game online, aplikasi pesan instan, dan situs-situs tertutup,” ujar Trunoyudo dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (18/11).
Trunoyudo menjelaskan, propaganda kelompok teror disebar secara bertahap.
Pada fase awal, mereka menyusup lewat platform Facebook, Instagram, dan game online. Ketika menemukan target yang dianggap potensial, mereka mengalihkan komunikasi ke kanal tertutup seperti WhatsApp dan Telegram.
Baca Juga: Hati-hati! J&T Express Ingatkan Warga Pakai 3C agar Terhindar dari Penipuan Online
“Propaganda didiseminasi menggunakan video pendek, animasi, meme, serta musik yang dikemas menarik untuk membangun kedekatan emosional dan memicu ketertarikan ideologis,” jelasnya.
Anak Rentan: Korban Bullying hingga Broken Home
Asesmen Densus 88 menemukan sejumlah faktor yang membuat anak rentan direkrut, di antaranya:
-
pernah menjadi korban bullying,
-
kurang perhatian orang tua atau broken home,
-
sedang mencari identitas diri,
-
mengalami marginalisasi sosial,
-
minim literasi digital serta pemahaman agama.
Situasi ini dimanfaatkan perekrut untuk membangun relasi emosional dan menyuntikkan ideologi radikal.
Baca Juga: TPP ASN Pemkab Simalungun Bakal Dipotong Hingga 22,5 Persen pada 2026
Lima Perekrut Ditangkap di Berbagai Daerah
Polri telah menangkap lima tersangka yang diduga menjadi pengendali komunikasi dan perekrut anak-anak tersebut.
-
FW alias YT (47) ditangkap di Medan, Sumatera Utara (5 Februari 2025).
-
LN (23) ditangkap di Banggai, Sulawesi Tengah.
-
PP alias BMS (37) diamankan di Sleman, Yogyakarta (22 September 2025).
-
Terbaru, dua tersangka ditangkap pada 17 November 2025:
-
MSPO (18) di Tegal, Jawa Tengah.
-
JJS alias BS (19) di Agam, Sumatera Barat.
-
“Atas peranannya, mereka merekrut dan memengaruhi anak-anak supaya menjadi radikal, bergabung dengan kelompok terorisme, dan melakukan aksi teror,” ujar Trunoyudo.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Sumut, Hujan Lebat Berpotensi Pekan Ini
110 Anak di 23 Provinsi Terpapar
Densus 88 mencatat sedikitnya 110 anak menjadi korban rekrutmen jaringan tersebut. Mereka tersebar di 23 provinsi, dengan rentang usia 10 hingga 18 tahun.
Polri menyebut investigasi masih berjalan, termasuk pemulihan psikologis terhadap anak-anak yang berhasil diidentifikasi. (net)
Editor : Editor Satu