SIANTAR, METRODAILY – Kasus dugaan pelecehan seksual verbal oleh seorang dosen terhadap mahasiswinya mencuat di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Pematangsiantar.
Korban, berinisial CP, melaporkan oknum dosen berinisial SS dengan menyertakan bukti rekaman suara.
Peristiwa bermula Januari 2025 saat CP dan SS berbincang mengenai urusan akademik di kantin kampus.
Namun, percakapan kemudian berubah ke arah pribadi hingga ajakan hubungan intim. Kondisi itu membuat CP tertekan dan kesulitan fokus belajar.
CP sempat meminta agar identitasnya dirahasiakan. Namun, stigma dan isu miring yang beredar di kampus membuatnya memilih bersuara ke publik.
Ia bahkan dituding sebagai “perempuan simpanan” SS karena perhatian berlebih yang kerap ditunjukkan dosen tersebut di kelas.
Dalam rekaman yang diserahkan sebagai bukti, SS diduga mengajak CP berjalan-jalan hingga menginap di hotel.
SS juga disebut menghubungi CP lewat WhatsApp dengan dalih urusan akademik, lalu kembali menggiring percakapan ke arah pribadi. Bahkan, ia meminta CP menghapus riwayat obrolan tersebut.
Merasa terpojok, CP resmi melaporkan kasus ini pada 1 Agustus 2025. Namun, menurut CP, klarifikasi kampus tidak berpihak padanya.
Ia menilai pihak kampus lebih percaya keterangan SS tanpa bukti konkret dibanding rekaman yang diserahkannya.
Rektor kampus terkait telah membentuk tim investigasi yang dipimpin Wakil Rektor II. Hingga Selasa (30/9), tim sudah memeriksa delapan orang, termasuk CP sebagai pelapor, SS sebagai terlapor, empat dosen, dan dua mahasiswa.
“Masih ada satu mahasiswa lagi yang belum memenuhi panggilan. Setelah itu baru kami lanjutkan prosesnya,” kata Wakil Rektor II.
Sementara itu, CP mengaku masih menghadapi tekanan agar mencabut laporan dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.
Ia juga merasakan perlakuan diskriminatif dari sejumlah dosen, yang memperburuk kondisinya di kampus.
Kasus ini masih dalam proses investigasi internal kampus. (mdi)
Editor : Editor Satu