Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Aksi Damai di Polres Siantar, Keluarga Iptu Tomi Marbun Minta Presiden Bentuk Tim Khusus

Edi Saragih • Selasa, 24 Juni 2025 | 15:02 WIB
Aksi damai masyarakat Siantar dan perkumpulan marga Raja Sonang di depan Polres Siantar, Senin (23/6).
Aksi damai masyarakat Siantar dan perkumpulan marga Raja Sonang di depan Polres Siantar, Senin (23/6).

SIANTAR, METRO DAILY – Keluarga Iptu Tomi Samuel Marbun mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk turun tangan. Mereka meminta agar dibentuk tim independen guna menyelidiki hilangnya perwira Polri itu dalam operasi di Papua Barat pada Desember 2024 lalu. Menurut mereka, jika Polri tidak mampu memberi kejelasan, sudah saatnya negara mengambil alih.

Desakan itu disampaikan dalam aksi damai di halaman Polres Pematangsiantar, Senin (23/6/25). Ratusan orang dari keluarga besar, Punguan Rajasonang se-Siantar Simalungun, dan masyarakat hadir dalam aksi tersebut. Mereka mengenakan pakaian putih dan pita merah putih di kepala. Spanduk dan selebaran berisi tuntutan terbentang di depan kantor polisi.

Iptu Tomi dinyatakan hilang pada 18 Desember 2024 dalam operasi pengejaran KKB di Sungai Rawara, Teluk Bintuni. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi mengenai keberadaannya.

Monterry Marbun, adik kandung Tomi, menyebut sejumlah kejanggalan. Mulai dari longboat tidak pernah disita, tidak ada olah TKP, tidak ada perimeter pencarian yang menyeluruh karna semua hanya dilakukan di satu sisi sungai, serta keterangan yang berubah-ubah dari internal kepolisian.

Ia juga mengungkap kekecewaan terhadap AKBP Igede Adi Wibawa, Kapolres Teluk Bintuni saat itu, yang justru dipromosikan sebagai Kabagbinops Ditreskrimsus Polda Papua Barat.

“Tidak ada evaluasi, justru naik jabatan,” ujarnya.

Saat lagu berjudul Hilang karya Justy Aldrin dkk diputar di lokasi aksi, ibu Iptu Tomi, Elfrida Gultom, tiba-tiba pingsan. Ia segera dibawa ke klinik Polres untuk mendapat pertolongan. Meski begitu, lagu tetap diputar dan orasi berlanjut.

Kapolres Pematangsiantar, AKBP Sah Udur Togi Marito Sitinjak, turun langsung menemui massa.

 “Kami akan sampaikan semua ini ke pimpinan. Kami pun sangat kehilangan. Saya sebagai senior di Akademi Kepolisian juga merasa kehilangan. Kami ingin yang terbaik untuk keluarga,” tegasnya.

Dalam pernyataan sikapnya, keluarga menyampaikan 12 poin tuntutan. Beberapa di antaranya adalah pembentukan tim pencari fakta independen, audit biaya operasi, pemeriksaan senjata api, serta pendalaman terhadap semua personel yang terlibat. Mereka juga menyebut bahwa operasi tetap berjalan meski salah satu personel dinyatakan hilang.

Malam harinya, aksi dilanjutkan dengan penyalaan seribu lilin. Sebuah simbol bahwa pencarian belum usai. Penyalaan lilin dilakukan sambil memutar lagu dan ditutup dalam doa.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari Mabes Polri. Keluarga menegaskan, jika Polri tidak mampu mengusut secara tuntas, mereka berharap Presiden membentuk tim pencari independen lintas lembaga.(meg)

 

Editor : Metro-Esa
#polres siantar #presiden