Kabar tewasnya David Siallagan baru diketahui Timbul Siallagan subuh. Kata Timbul, putranya yang sekolah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, itu baru tiga minggu meninggalkan Kota Siantar untuk melanjutkan perkuliahan.
"Informasi kita terima sekitar pukul 04.00 WIB. Tadi pagi lah dikabari ke kita. Yang kabari itu teman satu kampung dan juga teman satu kuliah di Yogyakarta," ujar Timbul Siallagan.
Kata dia, dirinya telah dikabari polisi, yang meminta persetujuan untuk dilakukan otopsi. “Saya bilang visum luar saja, karena jelas kejadiannya," ujar wartawan Harian Analisa ini.
Timbul menyebut, putra keduanya menerima empat luka tusuk di badannya. Hanya saja ia tak menyebut secara jelas sebaran luka yang dialami putranya lantaran masih diselimuti rasa kalut.
"Luka tusuk di badannya, dua dibelakang dan dua di depan. Bukan hanya David, teman satu kuliahnya orang Palembang juga meninggal dunia ditikam," ujar Timbul.
Saat ini, pihak kepolisian di Yogyakarta masih melakukan penyidikan guna melengkapi kronologi tewasnya David Siallagan.
Jenazah David Siallagan masih berada di Rumah Sakit Bhayangkara Yogyakarta, mengingat Dokter Forensik masih membutuhkan kelengkapan bukti proses penyidikan.
"Informasi kejadian yang kita terima, kalau David itu dikeroyok diduga sama Orang Timur. Informasi masih itu saja, dikeroyok dan lokasi pengeroyokan juga belum tahu," ungkapnya.
Pihak keluarga sudah menyiapkan prosesi persemayaman David di rumah duka Jalan Sarulla, Kecamatan Siantar Selatan, Kota Siantar.
Hanya Aktif 3 Semester
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni ISI Yogyakarta Solahudin mengatakan korban merupakan mahasiswa jurusan etnomusikologi angkatan 2018. "Tapi almarhum itu hanya aktif 3 semester. Jadi sampai semester genap 2021/2022 ini almarhum tidak aktif," kata Solahudin, Senin (9/5/2022).
Dia yakin korban merupakan mahasiswa yang dimaksud usai mengecek ke bagian jurusan dan akademik kampus. "Statusnya itu masih mahasiswa tapi mangkir. Mangkirnya itu sudah 7 semester," sambungnya.
Berdasarkan informasi yang Solahudin terima, David Siallagan (DS) sempat berkumpul di salah satu tempat makan, daerah Sleman bersama sejumlah rekannya pada Minggu dini hari (8/5). Korban dan teman-temannya meninggalkan lokasi di waktu yang berbeda.
"Teman-temannya itu kemudian pulang mengajak DS tetapi DS belum mau pulang. Jadi teman-temannya sudah sampai kos, rumah, itu tahunya baru subuh kalau ada kejadian (penusukan) itu," katanya.
Menurut Solahudin, DS sempat menelepon layanan keluarganya setelah diantar ke UGD Jogja International Hospital (JIH). "Jadi sudah sempat kontak-kontakan dengan orang tua, keluarganya kalau beliau mendapat musibah dan sedang ditangani UGD. Jadi keluarga sudah tahu, jadi meninggalnya bukan di tempat tapi di JIH," kata Solahudin.
Sebelumnya, DS (22), warga Pematang Siantar dan TIP (29), warga Bangka Belitung tewas usai terlibat cekcok dengan sekelompok orang di Simpang Empat Selokan Mataram, Minggu pukul 01.00 WIB.
Polisi menyebut keduanya tewas akibat luka tusuk senjata tajam yang belum diketahui jenisnya.
"Satu (korban) di dada, satu (korban) di punggung. Dua orang luka berbeda," kata Dirreskrimum Polda DIY Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi di Mapolda DIY, Sleman, Senin (9/5).
Jenazah korban telah divisum di RS Bhayangkara Polda DIY. Sementara kepolisian sudah memeriksa 4 saksi terkait peristiwa ini dan mendapat informasi perihal dugaan pemicu insiden.
"(Pemicu) berselisih jalan tidak ada yang mau mengalah. Mereka (pelaku) datang dari arah yang berbeda," katanya.
Ade menyebut jumlah terduga pelaku sekitar 4 sampai 5 orang yang menunggang 3 kendaraan roda dua. Polisi mengklaim telah menemukan titik terang terkait identitas para pelaku ini. "Ada titik terang tapi masih kami lakukan pengejaran," tutup Ade. (bbs) Editor : Metro Daily