Tidak Hafal Asmaul Husna, Puluhan Murid  Memar Dicubit Guru di Tapsel

Metro-Esa • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 16:59 WIB
Ilustrasi penganiayaan.
Ilustrasi penganiayaan.

TAPSEL, METRODAILY - Kekerasan terhadap siswa di sekolah diduga terjadi di wilayah Batangtoru, tepatnya di Kecamatan Garoga, Tapsel. Seorang guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam berinisial DS diduga memberikan hukuman fisik berupa cubitan kepada siswa yang tidak menghafal Asmaul Husna. Bukan hanya guru. ‘hukuman’ juga datang dari sesama siswa.

Kejadian ini diketahui setelah sejumlah orang tua murid menemukan bekas luka di tubuh anak mereka. Bahkan, terdapat siswa yang mengaku mendapat cubitan hingga puluhan kali.

Kasus tersebut kemudian dimediasi dengan mempertemukan pihak guru dan orang tua siswa di Aula Hunian Sementara (Huntara) Garoga, Desa Napa, Batangtoru, pada Selasa (11/8/2026). 

Baca Juga: Perkuat Sinergi Pemberantasan Narkoba, BNNK Tapsel Audiensi Ke Polres Padang Lawas Utara 

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, tindakan tersebut bermula dari proses pembelajaran di kelas. Guru meminta siswa menghafal Asmaul Husna sebagai bagian dari materi pelajaran. 

Namun, ketika banyak siswa tidak mampu menghafal, guru menerapkan hukuman dengan cara mencubit. Tidak hanya itu, siswa lain juga diminta untuk ikut mencubit teman yang belum hafal. 

Pola ini kemudian memicu dugaan adanya tindakan kekerasan yang dilakukan secara berulang dan melibatkan banyak siswa dalam satu kelas. 
Kasus ini mulai terungkap ketika orang tua melihat kondisi fisik anak-anak mereka. Salah satu orang tua, Makruf Siregar, mengaku terkejut saat menemukan bekas luka di tubuh anaknya. 

Baca Juga: Kapolres Tapsel Tegaskan Polri Siap Dukung Program Pemerintah

"Waktu itu, anak saya mau mandi ke pancur. Terus saya lihat ada banyak bekas luka lebam di tubuhnya. Ada puluhan cubitan merah. Ternyata dia mengaku kalau itu hukuman guru karena tak dapat hapalan di sekolah," ujarnya. 

Temuan tersebut mendorong orang tua untuk mendatangi pihak sekolah dan meminta penjelasan. Kepala sekolah disebut turut terkejut saat melihat kondisi siswa. 

Menurut Makruf, hampir seluruh siswa di kelas anaknya menjadi korban. 
"Ternyata kawan-kawan anak saya di kelas juga menjadi korban cubitan oleh guru ini. Berarti ada 27 korban di kelas anak saya," jelasnya. 

Baca Juga: Bupati Tapsel Lantik 1 Asisten, 8 Kadis dan 1 Kaban: Pesankan Harus Mampu Jadi Pemersatu

Keluhan serupa juga disampaikan orang tua lainnya, seperti Ika Sandria Situmorang yang mengaku anaknya mengalami hal yang sama. 

"Saya tanya anak, apakah ada dicubit guru, tapi dia diam. Lalu saya buka bajunya, ternyata sudah banyak bekas luka cubitan. Saya rasanya begitu melihatnya," ungkapnya. Ia bahkan menilai tindakan tersebut sebagai bentuk perundungan massal.

"Ini namanya pembullyan massal. Saya akui anak saya tak pintar, tapi kalau sudah dihukum sampai kondisi begini, sakit hati saya melihatnya," katanya. Orang tua lain, Nurhasanah Pandiangan, juga mengungkapkan hal serupa. 

"Waktu itu saya banguni anak, dia merasa kesakitan. Saya heran kemudian terlihatlah ada luka bekas cubitan di badan. Akhirnya anak mengaku kalau sudah dihukum guru di sekolah," katanya.

Menanggapi tudingan tersebut, Desi Sihombing menyampaikan bahwa tindakannya dilakukan dengan tujuan mendidik, bukan untuk menyakiti siswa.

Baca Juga: Sempat Gagal 4 Kali, Alumnus MAN IC Tapsel Akhirnya Lolos Akmil 2026

"Saya sebenarnya hanya ingin mendidik anak bapak ibu semua. Tidak ada niat saya sedikit pun membully, menganiaya," ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan dan berjanji tidak akan mengulanginya. 

"Begitu pun, ini menjadi pembelajaran pertama dan terakhir kalinya. Saya mohon ke bapak ibu, agar berkenan hati untuk menerima kekhilafan saya. Saya akui tindakan saya ini sudah salah," katanya. 

Reaksi keras dari orang tua siswa dan masyarakat sekitar. Mereka menilai metode hukuman tersebut tidak dapat dibenarkan, apalagi hingga menyebabkan luka fisik. Sejumlah tuntutan pun disampaikan, salah satunya agar guru yang bersangkutan mengundurkan diri dari posisinya. 

Baca Juga: Petani di Tapsel Tewas Dianiaya Adik Kandung

Warga yang turut mengawal kasus ini, Indra Pandiangan, menyebutkan bahwa orang tua siswa sudah tidak lagi percaya kepada guru tersebut. 

"Sebab, orangtua siswa sudah tidak mau lagi guru yang bersangkutan mendidik anaknya. Mereka trauma. Kalau tidak mau mundur, para orangtua siswa meminta anaknya pindah sekolah," ungkapnya.

Meski sempat muncul rencana untuk membawa kasus ini ke ranah hukum, hingga saat ini orang tua masih menahan diri dan menunggu penyelesaian melalui jalur mediasi. 

Namun, mereka tetap tegas jika tuntutan tidak dipenuhi, langkah hukum akan mereka tempuh.(kcm)

 

 

Editor : Metro-Esa
dicubit murid