Berdayakan Komunitas Lokal Jagawana di Ekosistem Batang Toru

SAMMAN • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 15:21 WIB
Parman Sitanggang dan kawan-kawan--Komunitas lokal yang jadi jagawana di Area Preservasi Martabe-- sedang berpatroli malam di Ekosistem Batang Toru ini beberapa waktu lalu. (Ist)
Parman Sitanggang dan kawan-kawan--Komunitas lokal yang jadi jagawana di Area Preservasi Martabe-- sedang berpatroli malam di Ekosistem Batang Toru ini beberapa waktu lalu. (Ist)

TAPSEL, METRODAILY-Jika tidak kijang, rusa, ya babi hutan. Tiga jenis binatang liar itu target utama bagi Parman Sitanggang, dalam berburu di belantara Batang Toru. Tangkapannya akan segera dijual dalam bentuk daging bagi masyarakat di sekitar tempatnya mukim di Kelurahan Wek IV, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan.

Alatnya jerat, menggunakan tali sling. Baginya, jejak-jejak hewan jadi petunjuk dalam memantapkan jebakan. Meski pun, tanpa alat mutakhir, Parman dan kawan-kawan sudah khatam dengan seluk-beluk kawasan yang jadi 'ladang'-nya semenjak usia remaja ini.

Namun, garis hidup Parman mulai berubah arah pada tahun 2015 lalu. Ia memutuskan berhenti total membantai hewan-hewan liar. Itu sejak banyak merasakan kehadiran harimau sumatra, dan menyadari keseimbangan penduduk hutan mulai berubah.

"Secara langsung bertatapan tidak pernah, hanya menampakkan bagian ekornya, itu kode biar kita berhenti. Tapi kalau sudah hadap-hadapan berarti itu kita sudah sangat bahaya," cerita Parman dalam Smartabe Connect #3, Sabtu (8/8/2026) lalu di salah satu gerai kopi di Kota Padangsidimpuan.

Smartabe merupakan forum komunikasi PT Agincourt Resources (PTAR) bersama media massa. Smartabe ketiga ini membawa tema: Biodiversitas dan Upaya Konservasi Ekosistem Batang Toru. Dan Parman saat ini jadi bagian di dalam upaya konservasi biodiversitas yang tengah dilakukan pengelola Tambang Emas Martabe itu.

Parman berusia 45 tahun. Bergabung dalam kelompok lokal Ridwan Jaya. Kelompok ini menjadi jagawana di Area Preservasi Martabe, suatu hamparan hutan sekunder seluas 1.985,47 hektare yang kaya dengan keanekaragaman hayati.

Kadang kala Parman masygul apabila bertemu dengan teman-temannya yang masih aktif melakukan perburuan. Sebagai penjaga hutan, Parman pun bertindak tegas agar temannya itu tidak lagi memasuki area konservasinya.

"Itu jadi tantangannya bagi saya yang sekarang menjadi penjaga preservasi ini," cerita ayah satu anak itu.

Namun tugas Parman tidak sekadar berpatroli menelusuri seluruh rimba ini. Ia juga mendampingi peneliti yang tengah meneliti berbagai jenis satwa dan tumbuhan, serangga atau tumbuhan langka.

Menariknya, aktivitasnya juga sering kali dilakukan pada malam hari. Apalagi jika itu herping (mencari, mengamati, atau mendokumentasikan reptil dan amfibi pada malam hari). Juga, jika peneliti ingin mengamati aktivitas hewan nokturnal.

Berjalan di bawah kanopi Batang Toru saat gulita memicu adrenalin yang berbeda. Di kegelapan itu, predator seperti harimau sumatra selalu membayangi benaknya. Meski pun niatnya tidak lagi seperti dulu, memburu.

"Kita berdoa, dan asal jangan takabur, mudah-mudahan kita bisa selamat dan tahu bagaimana mengatasi situasinya," ujarnya menjabarkan prinsip keselamatan di dalam hutan yang telah didapatnya dari pelatihan yang diberikan PTAR.

Lain kelompok Parman, lain lagi dengan kelompok di bawah naungan Yayasan Marsada Sahata Lestari. Jika kelompok Parman dibentuk karena dulunya mereka bergantung pada hutan, Yusuf Maulana—seorang pemuda lokal di bawah yayasan tersebut—memiliki tugas yang hampir sama. Perbedaannya, wilayah tugas Yusuf hanya berpusat di sekitar Stasiun Riset Batang Toru yang didirikan di dalam Area Preservasi Martabe, mendampingi peneliti.

Beberapa tahun lalu, Yusuf hanyalah seorang buruh bangunan di kampungnya, Kelurahan Aek Pining. Namun, di stasiun riset ia ditempa untuk mempelajari keanekaragaman hayati bersama para peneliti dan ahli; mulai dari satwa, botani, hingga fenologi. Meski pun hal-hal dasar tentang spesies dan cara hidupnya.

Komunitas lokal punya peranan penting di sini. Selain Yusuf, terdapat 11 sosok lokal lainnya yang diberdayakan dengan tugas sebagai staf peneliti, staf porter, staf camp dan staf masak. Yusuf masuk dalam staf camp, menjaga fasilitas stasiun riset, mengelola sistem air dan energi, serta memastikan keamanan area camp dari gangguan luar.

Kelompok Muda Mandiri dan Kreatif (KMMK) merupakan komunitas lokal lainnya yang mendedikasikan diri sebagai jagawana. Kelompok yang beranggotakan 10 personil ini mengemban tugas yang menantang, bahkan mengharuskan mereka untuk berkemah di tengah hutan selama menjalankan misi perlindungan.

Untuk mengoptimalkan pengawasan, ke-10 personel tersebut dibagi menjadi dua tim patroli. Mereka bertanggung jawab menelusuri lima blok di area preservasi, yaitu Baringin, Uluala, Hutamusu, Partudungan, dan Horas.

"Seminggu ini tim A di area Partudungan, seminggu berikutnya tim B akan ke Hutamusu. Begitu seterusnya kami melakukan patroli bergantian," terang Abdi P Hasibuan, Ketua KMMK. 

Dalam kerja-kerja pengawasannya, tim KMMK dibekali dengan radio, GPS, dan Smart Patrol. Perangkat dan piranti lunak ini digunakan dalam pencatatan data lapangan. Mereka melakukan perekaman koordinat GPS, waktu jalur patroli, foto, serta temuan flora, fauna, atau tanda perusakan hutan secara digital.

Dalam perjalanannya, Abdi mengaku pernah bertemu dengan satu satwa yang baru pertama kali dilihat seumur hidupnya. Satwa tersebut menyerupai kadal besar berbulu atau bersisik hitam, dengan bagian leher yang bergerigi menyerupai gergaji.

Di area ini, KMMK juga bekerja menganalisis ancaman, mendeteksi pola pelanggaran seperti pembalakan liar, perburuan satwa, atau perambahan. Umumnya, kata dia, dilakukan warga sekitar area preservasi dan masyarakat yang pernah berkebun di area ini.

"Kadang kita temukan pikat, tapi setelah bencana itu sudah berkurang. Kemudian, jerat, jerat ini kita singkirkan, ini paling menantang karena satwa yang terjerat itu akan mengajak konflik sama kita manusia," ungkapnya.

Tantangan terakhir sebagai jagawana yang berasal dari komunitas lokal, ialah masyarakat pekebun yang masih berusaha masuk membuka lahan, dan berkebun di area yang telah dibebaskan oleh PTAR ini.

Manajer Pengembangan Strategis Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan PTAR, Syaiful Anwar, mengungkapkan bahwa saat ini tim sedang mengumpulkan data dan dengan kajian sosial. Tujuannya adalah untuk memahami alasan masyarakat sekitar masih bergantung pada hutan yang telah dibebaskan tersebut.

Berdasarkan hasil pendataan ini, PTAR nantinya akan mengikutsertakan masyarakat tersebut ke dalam program pemberdayaan masyarakat PTAR. Melalui program ini, mereka diharapkan dapat memperoleh peluang usaha baru sehingga tidak lagi bergantung pada hutan dan tidak merusak lingkungan.

"Tapi itu harus dibuktikan dengan data, dan saat ini sedang didata teman-teman KMMK, orangnya mana, rumahnya mana. Nanti kita masukkan dalam program di Tahun 2027," ungkapnya tentang solusi terhadap gangguan pada area preservasi ini.

Area Preservasi Martabe merupakan hutan sekunder, dibebaskan PTAR sebagai rumah aman bagi Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis), kera besar yang terancam punah. Selain diisi orangutan, area ini kaya akan keanekaragaman hayati, karena itu, pengawasan kawasan ini begitu ragam dengan melibatkan komunitas lokal.

(SAN)

Editor : SAMMAN
orangutan tapanuli PTAR Ekosistem Batangtoru