TAPSEL, METRODAILY-Hamparan hijau itu tampak tercabik-cabik. Citra satelit merekam pemandangan mengkhawatirkan di Ekosistem Batang Toru, guratan kuning menganga seperti luka parut di tubuh hutan yang membentang ditarik tiga kabupaten: Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara.
Pascabencana hidrometeorologi akhir November 2025 lalu, gugusan tanah longsor membelah-belah tutupan hutan di ekosistem ini, mengancam satu-satunya rumah alami bagi kera besar paling langka di dunia nan terancam punah: Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis).
Hingga pertengahan 2026, nasib primata endemik ini masih diselimuti ketidakpastian. Data terakhir Kementerian Kehutanan mencatat populasi mereka hanya tersisa sekitar 716 individu, angka yang dihitung sebelum bencana banjir dan tanah longsor itu datang memorak-poranda habitat mereka.
Namun, sedikit kabar baik terlihat di sudut lain ekosistem, dekat dengan areal Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources (PTAR). Di bentang lahan seluas 1.985,47 hektare yang dijadikan Area Preservasi Martabe, ternyata ditemukan dan terekam sejumlah individu orangutan. Bahkan beberapa di antaranya masih bayi yang lekat di tubuh induknya.
Kawasan ini berstatus Area Penggunaan Lain (APL). Lahan ini awalnya direncanakan sebagai lokasi fasilitas penampungan sisa hasil tambang (tailing). Namun, arah kebijakan berubah pada tahun 2020 setelah PTAR melibatkan ahli independen yang tergabung di Biodiversity Advisory Panel (BAP) dalam pekerjaan biodiversitas perusahaan itu.
“Dari konsultasi dengan BAP, manajemen akhirnya memutuskan mengalihkan fungsinya demi menciptakan koridor habitat yang aman dan berkelanjutan,” ujar Syaiful Anwar, Manajer Pengembangan Strategis Keanekaragaman Hayati dan Lingkungan PTAR, dalam forum komunikasi Smartabe, Sabtu (8/8/2026) lalu.
Area Preservasi Martabe terbagi lima distrik yang terhubung, masing-masing: Baringin, Uluala, Hutamusu, Partudungan dan Horas. Area ini setengah melingakari areal tambang, dan memisahkannya dari Hutan Lindung Batang Toru atau Harangan Tapanuli dalam penyebutan masyarakat Tapanuli Raya.
Meski pun hutan sekunder, PTAR menilai area ini sangat penting dijaga karena kaya akan keanekaragaman hayati. Namun, jejak bekas kebun dan sisa pembukaan lahan oleh masyarakat jadi tantangan di sana. Dan pascabencana kemarin, di beberapa bagian lahan juga terdapat titik longsor, yang memutus koridor pergerakan satwa.
Pemetaan yang dilakukan pada tahun lalu, lahan ini masih membutuhkan rehabilitasi seluas 521,37 hektare. PTAR pun sudah mulai menyebar bibit yang dikembangkan mereka di fasilitas nursery, dan menargetkan pemulihan kelar pada tahun 2034. Tanaman yang disebar merupakan spesies lokal Hutan Batang Toru.
Spesies lokal itu sejenis torop, habau, kelompok ficus, cempedak air, durian, nangka hutan, jambu hutan, rambutan, dan ragam lainnya. Spesies-spesies ini sangat penting berfungsi sebagai sumber pakan utama Orangutan Tapanuli yang jadi satwa kunci di ekosistem ini. Selain menjadi tempat bagi mereka, kelak membangun sarang.
Pada beberapa titik longsor, PTAR juga sudah mulai melakukan restorasi dengan harapan jelajah orangutan tidak terfragmentasi. Selain itu, di sejumlah titik juga dipasang jembatan arboreal sebagai koridor penghubung antar tajuk pohon, agar satwa arboreal seperti orangutan tetap bisa bergerak bebas tanpa harus turun ke tanah yang rawan predator.
“Harapannya area-area ini sudah terehabilitasi sehingga menyediakan rumah bagi Orangutan Tapanuli yang saat ini sedang dipantau dari stasiun riset,” terang Syaiful Anwar pada kesempatan lain.
Stasiun riset yang dimaksud Syaiful ialah Stasiun Riset Batang Toru, pusat penelitian yang dibangun perusahaan tambang ini pada Januari 2025 di dalam Area Preservasi Martabe. Stasiun riset pertama oleh sektor swasta di Indonesia ini dikelola oleh Yayasan Marsada Sahata Lestari dan dioperasikan oleh Pusat Riset Primata Universitas Nasional (Unas) Jakarta.
Stasiun riset ini juga jadi pusat koordinasi dalam pengawasan kawasan berbasis komunitas lokal. Komunitas seperti Kelompok Muda Mandiri dan Kreatif (KMMK) setiap hari bergerak melakukan patroli rutin menjaga ekosistem ini dari ancaman luar seperti perburuan liar, penguasaan dan pembukaan lahan.
Bagi Sri Suci Utami Atmoko PhD, ahli primata yang memimpin stasiun riset ini, Area Preservasi Martabe sangat penting untuk dijaga keanekaragaman hayatinya. Dalam penilaiannya, ekosistem yang begitu unik ini berpotensi menjadi pusat penelitian berbagai satwa kunci Batang Toru, seperti Harimau Sumatra, Tapir dan tentunya Orangutan Tapanuli.
“Batang Toru itu unik karena berbagi habitat. Di situ ada orangutan, harimau sumatra, dan tapir,” ujarnya berdasarkan hasil pemantauan jejak, kamera jebak, dan survei di Area Preservasi Martabe.
Sebagai seorang ahli primata, Dr Sri Suci memfokuskan penelitiannya pada orangutan, beberapa individu telah diberinya nama sesuai ciri fisik dan sifatnya. Meski demikian, ia juga mengamati spesies primata lain di kawasan tersebut, seperti kukang, owa, lutung, siamang, imbo, huliap, monyet ekor panjang, dan beruk.
Namun begitu, stasiun riset ini pun terbuka bagi berbagai bidang penelitian lainnya, mulai dari fenologi tumbuhan, hingga flora dan fauna endemik serta satwa liar lainnya. Saat ini, salah satu mahasiswa peneliti bahkan sedang melakukan studi mengenai adaptasi Orangutan Tapanuli pascabencana.
“Menariknya, pascabencana itu banyak satwa lain yang terekam kamera jebak di area ini, seperti kambing gunung dan rusa. Mungkin karena itu juga, baru-baru ini kita temukan jejak harimau sumatra, karena ketersediaan pakan di sini melimpah,” ujar akademisi yang puluhan tahun lalu sudah meneliti mawas dari pesisir Tapanuli Bagian Selatan.
Dari seluruh Area Preservasi Martabe, Dr Suci dan tim masih fokus di distrik Horas, Partudungan dan Hutamusu. Sementara distrik Baringin belum terjejaki sebab fragmentasi longsor. Karena itu, survei individu orangutan yang dilakukannya belum utuh seratus persen.
Dr Suci tetap khawatir dengan kondisi Ekosistem Batang Toru saat ini beserta keadaan orangutan di dalamnya. Apalagi setelah memantau dari udara lanskap di kawasan hutan lindung, yang menurutnya lebih parah daripada kondisi pinggiran. Sedangkan kebiasaan hidup orangutan berjelajah, bahkan bisa mencapai 600 hektare setiap harinya.
Area Preservasi Martabe ini hanya bagian kecil dari seluruh kawasan yang menjadi habitat Orangutan Tapanuli. Tetapi, area ini menjadi salah satu langkah membangun kembali rumah aman bagi mereka.
Bagi PTAR, langkah ini bagian filosofi mereka; Living in Harmony, harmoni antara kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati, pembangunan sosial masyarakat, dan usaha pertambangan yang baik.
Dalam peringatan Hari Orangutan Sedunia 2026, konservasionis yang tergabung dalam Forum Konservasi Orangutan Sumatera (FOKUS) juga telah berkunjung kemari. Mereka memeriksa bagaimana kondisi area, vegetasi dan persebaran sarang orangutan.
Dari kunjungan pada Sabtu (22/8/2026) itu, FOKUS menyimpulkan dan menyeru sektor privat lain yang telah bercokol di sekitar hutan Batang Toru mengikuti langkah konservasi PTAR dengan Area Preservasi Martabe ini, sebagai komitmen memperbaiki ekosistem yang kritis demi masa depan orangutan. (SAN)
Editor : SAMMAN