METRODAILY — Magrib hampir tiba ketika Salwa Ermina Siregar biasanya sampai di rumah. Sepulang sekolah, ia tidak langsung beristirahat. Selama sekitar satu semester akhir SMP, waktunya diisi dengan bimbingan belajar hingga sore untuk mengejar satu target: masuk sekolah unggulan.
Bagi Salwa, saat ini 18 tahun, belajar lebih lama bukan perkara baru. Sejak sekolah dasar, anak kedua dari empat bersaudara itu terbiasa mengejar prestasi akademik.
Ayahnya, Rusdi Hanafi Siregar, masih mengingat kebiasaan tersebut.
"Salwa memang senang belajar. Dia suka membaca dan bermain. Sejak kelas 1 SD sampai lulus, dia selalu dapat juara 1," kata Rusdi.
Baca Juga: Calon Rektor USI Periode 2026-2030, 3 Lolos Seleksi Berkas, 2 Gugur
Salwa berasal dari Desa Sianggunan, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Dari desa itu, ia kemudian melanjutkan pendidikan ke MAN Insan Cendekia (MAN IC). Di sekolah tersebut, targetnya bertambah: masuk perguruan tinggi negeri dan menjadi insinyur.
Jalan menuju ke sana tidak selalu mudah.
Keluarga Salwa hidup dengan penghasilan yang tidak tetap. Rusdi bekerja sebagai wiraswasta. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, ia juga mencari tambahan penghasilan dengan berkebun dan menderes karet.
Ada empat anak yang harus dipenuhi kebutuhan pendidikannya.
Baca Juga: Empat Pejabat Polres Nias Berganti, Kapolres Tekankan Penyegaran Organisasi dan Profesionalisme
"Kondisi pemasukan keluarga pas-pasan, sedangkan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari dan pendidikan cukup besar," ujar Rusdi.
Bagi Salwa, persoalan biaya pernah menjadi kekhawatiran. Bukan karena ia ingin berhenti sekolah, melainkan karena ada kemungkinan mimpi yang sudah dibangun sejak lama terhambat oleh kemampuan ekonomi keluarga.
"Saya tidak pernah berpikir untuk berhenti sekolah karena biaya. Saya yakin ketika saya memilih untuk terus berjuang, pasti akan selalu ada jalan untuk saya bisa terus bersekolah dan meraih impian," kata Salwa dengan nada serius.
Baca Juga: Siantar Jadi Titik Start Rally Internasional, 45 Pembalap Rebutkan Gelar di Sumut
Dari Juara Kelas ke Kompetisi Riset
Di MAN IC, Salwa mulai aktif mengikuti kompetisi. Ia memilih lomba-lomba yang berkaitan dengan riset.
Pada awalnya hasilnya belum sesuai harapan. Sejak kelas 10, ia mengikuti sejumlah perlombaan, tetapi belum berhasil membawa pulang gelar juara.
Ia tidak berhenti.
Pada kelas 12, usaha itu mulai membuahkan hasil. Salwa meraih juara 2 Sobat Competition yang diselenggarakan PT United Tractors. Ia juga meraih juara 3 lomba riset yang digelar Bappeda Kabupaten Tapanuli Selatan.
Bagi Rusdi, ayahnya, dua penghargaan itu menjadi salah satu momen yang paling membanggakan.
Baca Juga: Puntung Rokok Nyambar Pertalite, Dua Rumah dan Mobil Avanza Terbakar di Siantar
"Dia dari kelas 10 rajin ikut lomba, tapi belum pernah dapat juara. Di kelas 12 dia coba ikut lomba lagi, terus dapat juara dua dan tiga," kata Rusdi.
Prestasi tersebut memperkuat keinginan Salwa melanjutkan pendidikan di bidang teknik. Ia kemudian mendaftar Universitas Gadjah Mada melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi atau SNBP.
Pilihan jurusannya Teknik Kimia.
"Saya ingin menjadi seorang Process Engineer," ujar Salwa.
Baca Juga: Danau Toba Dikaji Jadi KEK, BI Ungkap Syarat agar Wisatawan Betah Lebih Lama
Keinginan itu kini berada dalam jangkauan. Salwa menjadi mahasiswa semester pertama Teknik Kimia UGM.
Namun, setelah dinyatakan diterima, muncul persoalan lain: biaya.
Beasiswa yang Mengurangi Beban Keluarga
Salwa telah mengenal Beasiswa Martabe Prestasi sejak masih duduk di bangku sekolah. Pada 2023, ia menerima beasiswa tersebut ketika berada di jenjang pendidikan menengah.
Tahun ini, dukungan itu kembali diterimanya untuk jenjang perguruan tinggi melalui kategori Beasiswa Unggulan untuk Perguruan Tinggi Top Nasional.
Baca Juga: 38 Pramuka Siantar Bertolak ke Jamnas XII Cibubur, Bawa Nama Kota
Total bantuan yang diterima Salwa mencapai Rp31,5 juta per tahun. Rinciannya berupa biaya Uang Kuliah Tunggal Rp6,75 juta setiap semester dan tunjangan hidup Rp1,5 juta per bulan.
Dana tersebut digunakan untuk membayar UKT sekaligus kebutuhan hidup selama tinggal di perantauan, seperti tempat tinggal, konsumsi sehari-hari dan perlengkapan belajar.
Bagi keluarga Rusdi, bantuan itu berarti pengurangan pengeluaran yang cukup besar.
Sebelum Salwa kuliah di UGM, keluarga harus memikirkan kebutuhan pendidikan empat anak. Ongkos sekolah dan kebutuhan sehari-hari menjadi pengeluaran rutin yang tidak kecil.
Baca Juga: Raline Shah Pamer Sunset di Saint-Tropez, Tampil Kasual Pakai Blazer Navy dan Gaun Satin
"Kadang saya pergi ke kebun untuk menderes karet supaya ada tambahan ongkos sekolah anak," kata Rusdi.
Karena itu, ketika Salwa kembali dinyatakan sebagai penerima Beasiswa Martabe Prestasi, Rusdi merasa lega.
"Perasaan saya sangat senang dan bersyukur karena akhirnya biaya pengeluaran bisa dibantu dengan anak saya mendapatkan beasiswa ini," ujarnya.
Salwa juga melihat manfaat beasiswa tersebut lebih dari sekadar bantuan biaya.
"Manfaat paling berharga bagi saya adalah tumbuhnya rasa percaya diri bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk kuliah di kampus top nasional," katanya dengan wajah berseri-seri.
Baca Juga: RX King Kontra Truk di Asahan, 2 Pemuda Luka Parah
Mimpi Menjadi Insinyur
Kini Salwa punya sejumlah target. Ia ingin mempertahankan prestasi akademik, lulus tepat waktu, serta aktif dalam riset dan magang.
Ia juga ingin menjadi Process Engineer setelah menyelesaikan pendidikan.
Namun, cita-citanya tidak berhenti pada pekerjaan. Salwa ingin pengetahuan yang diperolehnya di UGM kelak digunakan untuk membantu daerah asalnya.
Ia membayangkan teknologi hijau yang dapat memanfaatkan potensi lokal tanpa mengabaikan aspek lingkungan. Ia juga ingin membantu masyarakat mengolah bahan mentah menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.
Baca Juga: Kecelakaan Maut di Asahan, Pengemudi CBR Tewas usai Tabrak Truk
"Kontribusi besar yang ingin saya berikan kepada daerah asal saya adalah membuat inovasi teknologi hijau dengan memanfaatkan potensi lokal yang ramah lingkungan," kata Salwa.
Ia juga ingin membangun komunitas mentor bagi pelajar di daerah asalnya. Tujuannya sederhana: memperbanyak anak daerah yang mengetahui informasi beasiswa dan mendapat pendampingan untuk mengembangkan riset.
Menurut Salwa, kesempatan seperti yang ia dapatkan tidak boleh berhenti pada dirinya.
"Jangan pernah membatasi mimpi hanya karena keterbatasan biaya. Di luar sana banyak sekali peluang seperti Beasiswa Martabe Prestasi yang siap mendukung kita," ujarnya.
Baca Juga: Ditinggal di Tepi Sungai Asahan, Bayi Perempuan Alami Luka Sayat
Harapan dari Desa Sianggunan
Di rumah, Rusdi tidak banyak meminta. Ia hanya ingin putrinya menyelesaikan pendidikan dan mencapai cita-citanya.
"Semoga dia sukses mencapai impian yang selalu dia impikan dan bisa memberi manfaat untuk masyarakat," kata Rusdi.
Bagi Salwa, keberhasilan di perguruan tinggi kelak juga harus memberi manfaat bagi keluarganya. Ia ingin membantu orangtuanya setelah memiliki penghasilan sendiri.
"Saya ingin meringankan beban finansial orang tua, membalas budi atas segala pengorbanan mereka, serta menjadi sosok yang dapat diandalkan dan membanggakan bagi keluarga," katanya.
Baca Juga: Nyanyi Lagu KOP Labuhanbatu Utara, Luthfi Zaidan Munthe Bawa Pulang Sepeda BMX
Salwa mengingat kembali titik awal perjalanan beasiswanya. Informasi tentang Beasiswa Martabe Prestasi pertama kali ia dapatkan dari guru ketika masih bersekolah di MTsN 3 Tapanuli Selatan.
Dari informasi itu, ia mendaftar. Seleksi dilalui bertahap, mulai dari seleksi dokumen, survei lapangan hingga wawancara.
Kini, setelah sampai di UGM, Salwa melihat kesempatan itu sebagai tanggung jawab.
"PTAR tidak hanya meringankan beban finansial keluarga saya, tetapi juga memberikan modal besar bagi saya untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi top nasional," ujarnya.
Ia berjanji memanfaatkan kesempatan tersebut dengan serius.
"Saya berkomitmen untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar kelak ilmu yang saya miliki bisa berkontribusi nyata dalam mendukung kemajuan industri dan masyarakat di sekitar." (Mea)
Editor : Editor Satu